Category Archives: Theory

Lingkungan Bhavana Mahamudra

Standard

Dalam ekagrayoga dikatakan, yang terbaik adalah menekuni bhavana di pertapaan. Nisprapanchayoga perlu menetap di pedalaman gunung. Samarasayoga boleh menetap di pusat kota. Dan yang terakhir, Abhavanayoga, menetap di angkasa, inilah lingkungan bhavana Mahamudra.

Ekagrayoga memerlukan pertapaan, pada zaman dahulu para sadhaka akan melakukan tapa terlebih dahulu. Contohnya adalah Guru Padmasambhava, pertapaan-Nya sangat banyak. Dapat dikatakan, Beliau menekuni bhavana sembari berkelana di banyak negeri.

Pertama adalah Uddiyana, kemudian Ia meninggalkan Uddiyana, dan menekuni bhavana di Khotan. Beliau juga pernah berada di Bangladesh dan Nepal. Guru Padmasambhava bahkan pernah berkunjung ke Gunung Wutai di Tiongkok. Beliau juga menekuni bhavana di India, sebab Beliau diupasampadakan oleh Arya Ananda dan Mahakasyapa. Masih banyak lagi negeri tempat Beliau menekuni bhavana. Beliau menekuni bhavana di sitavana. Apa itu sitavana ? pemakaman.

Pemakaman di zaman itu tidak sama dengan saat ini, zaman sekarang seperti kebun yang sangat rapi, bahkan di malam hari dapat berjalan-jalan bersama kekasih, pemakaman semacam ini tidak ada di zaman itu.

Pemakaman di India, sama seperti tempat kremasi, jenazah diletakkan berjajar di tangga, menunggu giliran untuk dikremasi. Jenazah itu dibalut dengan kain, kemudian ditata berjajar.

Di India, ketika berada di dalam bus, kemudian memandang ke luar jendela, Ya Tuhan ! Di pinggir bus ada orang yang sedang mendorong gerobak yang mengangkut dua jenazah. Di atasnya ditaburi banyak bunga kuning dan kalung bunga. Seakan tidak percaya ada yang menggunakan gerobak mengangkut jenazah di jalanan.

Sitavana di India memang demikian, mereka meletakkan jenazah secara sembarang. Guru Padmasambhava menekuni bhavana di sitavana, Beliau pernah mengunjungi sitavana di berbagai negeri. Itu adalah tempat yang paling baik untuk bertapa, tidak akan ada orang yang mengganggu.

Oleh karena itu lokasi bhavana orang zaman dahulu berbeda dengan kita saat ini. Dalam riwayat Guru Padmasambhava ada tertulis, ketika melakukan tapa, Guru Padmasambhava mengenakan mahkota lima tengkorak. Tubuh mengenakan kulit jenazah dan kulit hewan buas. Wajah dan tubuh-Nya diolesi dengan abu sisa pembakaran jenazah. Singasana Dharma terbuat dari tumpukan mayat. Perhiasan-Nya adalah tengkorak yang dirangkai dengan tali.

Apa makna dari Bhavana Guru Padmasambhava tersebut ? Melampaui hidup dan mati. Menyingkirkan klesha akan berbagai materi, tiada lagi materi. Menekuni bhavana dengan melihat hidup sebagai mati, meski hidup, ketika Beliau memusatkan perhatian, sepenuhnya memandang diri sendiri telah mati, melepas semua klesha hidup dan mati. Melalui bhavana yang demikian, barulah Anda dapat memperoleh keberhasilan sejati.

Guru Padmasambhava berbhavana di smasana atau sitavana. Kepala mengenakan tengkorak, tubuh juga mengenakan untaian tengkorak. Khatvanga Guru Padmasambhava juga berhiaskan tiga tengkorak, tengkorak tersebut dirangkai di khatvanga.

Mangkuk yang digunakan untuk minum, terbuat dari tempurung kepala. Lihatlah kapala di tangan-Nya. Di bagian sini ada tiga tengkorak ( Mahaguru memperagakan ), di bagian sini adalah rangkaian tengkorak. Di atas kepala juga tengkorak, di bagian bawah adalah mayat, jubah terbuat dari kulit jenazah, tubuh berbalur abu jenazah.

Bhavana yang demikian benar-benar terpusat. Sepenuhnya tiada konsep materi, menekuni sadhana di pekuburan. Tempat-tempat seperti Bangladesh, Khotan, India, Nepal dan Uddiyana, semenjak dahulu telah sangat terbelakang, pemakaman ditinggali oleh sekawanan burung hering pemakan bangkai.

Di Tibet juga sama, oleh karena itu sampai saat ini di Tibet masih ada pemakaman langit. Daging jenazah diberikan sebagai makanan burung hering, terlebih dahulu dagingnya dikerat, kemudian dilemparkan ke arah burung hering yang kemudian menukik tajam untuk menangkap dan memakannya.

Di lingkungan yang paling buruk, barulah dapat memusatkan perhatian. Pondok Tapa di Rainbow Vila masih termasuk nyaman. Mengenai bhavana di pemakaman, saya tidak meminta kalian semua untuk pergi ke sana. Malam hari ini semua bersadhana di pemakaman, keesokan harinya, begitu pulang, raut wajahnya menghitam, membiru, semua kesambet, ini justru akan merepotkan.

Bhavana sadhaka zaman dahulu memang berbeda, di manakah Mahaguru berjumpa dengan Guru Padmasambhava ? Di makam kuno, berjumpa di dalam gua makam kuno. Lihat dalam buku Mahaguru ‘Dzogchen’, ada tertulis, kami berjumpa di dalam gua di sebuah makam kuno.


Mengenai perlunya tapa dalam penekunan ekagrayoga, kita perlu membahas lingkungan bhavana Guru Padmasambhava, yaitu bhavana di sitavana. Mungkin Anda akan bertanya : “Mahaguru, di dalam makam ada mayat, namun mengapa ketika Anda berjumpa dan menerima tuntunan bhavana dari Guru Padmasambhava di dalam makam kuno, Anda tidak takut ?” Apa yang perlu ditakutkan ? “Siapa takut kepada siapa ? Kura-kura takut pada palu, kecoa takut pada sendal.”, siapa takut kepada siapa ! Mahaguru hanyalah orang yang lewat belaka.

Dahulu ketika Mahaguru memeriksa fengshui, adakalanya memilih waktu di malam hari, mengamati fengshui makam di malam hari, yang pernah menyertai saya mengetahui hal ini. Saya memeriksa fengshui pemakaman di malam hari, di malam hari saya meraba tengkorak manusia.

Menggali makam, di dalamnya ada sebuah lubang, membuka pintunya dan masuk, apakah kalian pernah masuk ? Saya benar-benar pernah masuk. Apa yang saya lakukan di dalam ? Di sana saya menata tulang-belulang di dalam guci, arahnya harus tepat, luopan ( kompas fengshui ) digunakan untuk menentukan arah yang tepat.

Dahulu saya pernah menata tulang, tengkorak diletakkan di tepat di tengah, rusuk diletakkan di kedua sisinya, tulang kaki diletakkan di depan, lubang hidung yang berbentuk segitiga harus menghadap titik tengah salib luopan, saya harus menata semua dengan tepat. Apabila posisi tengkorak masih belum tepat, maka saya harus memutarnya.

Di kamar saya sendiri ada kapala, saat ini diletakkan di samping kamar tidur. Di meja kantor di Rainbow Vila juga ada kapala, di kamar tidur di Miyuan, di atas juga ada kapala. Dahulu ketika saya masih memberikan konsultasi fengshui, saya harus menata arah dan posisinya, garis tengah lubang hidung yang berbentuk segitiga harus berhadapan dengan garis tengah salib luopan, saya melakukan itu semua.

Di tengah malam saya masuk ke dalam lubang makam kuno, berbaur dengan mayat, apa yang perlu saya takutkan ? Oleh karena itu, ketika ada hantu yang menampakkan dirinya, lidahnya sangat panjang, kita tarik lidahnya, wah sungguh panjang ! Kebetulan bisa masak sup lidah hantu ! Tidak takut, tidak ada yang perlu ditakutkan, kesambet ? Saya yang membuat hantu kesambet, bukan hantu yang membuat saya kesambet. Apa yang perlu ditakutkan ? Langit dan bumi sungguh luas.

Sebagian orang mengatakan : “Sungguh merinding ! Angin bertiup kencang ! Hujan turun dengan lebat, langit demikian gelap.” Apa yang perlu ditakutkan ? Bahkan mati pun tak gentar, apa yang perlu Anda takutkan ?

Oleh karena itu, ketika menekuni ekagrayoga, Guru Padmasambhava bertapa di smasana ( hutan tempat mempersemayamkan jenazah ). Guru Padmasambhava pernah mengunjungi semua smasana.

Membicarakan pemakaman, dibandingkan dengan Guru Padmasambhava, makam yang saya kunjungi lebih banyak, mengapa demikian ? Sebab saya memberikan konsultasi fengshui. Ketika memberi konsultasi fengshui, pemakaman mana yang bukan merupakan tempat kerja saya ? Setiap pemakaman merupakan tempat kerja saya, baik itu makam kecil maupun makam besar.

Termasuk kepala sekolah geodesi, Jenderal Li Zhongqi, saat dia meninggal dunia, ketika menurunkan peti matinya, saya menggunakan luogeng ( kompas fengshui ) untuk mengatur arahnya. Saya baik dalam pelajaran survei dan pemetaan, dalam fengshui juga sangat akurat.

Dengan demikian saya sudah terbiasa, di tengah malam, kemanapun Anda mengundang saya, saya selalu berani. Sebab saya sudah menjelajahi banyak pemakaman, mulai dari Taiwan bagian atas sampai bawah, dari Pingdong, Fangliao, Taidong, dan Hualian. Mulai dari bagian paling atas dari Taiwan, Su’ao, Yilan, terus hingga ke bawah, Gaoxiong, kemudian ke arah Timur, Pingdong, Fangliao, terus ke Timur, pemakaman yang mana yang belum pernah saya jelajahi ?

Demikian banyaknya sitavana yang telah saya lihat, masuk lubang makam juga berani, sanggup menata tulang-belulang di dalam guci, Anda juga tetap berani melakukannya. Di sana ada pintu kecil, kemudian dibuka, masuk ke dalam, kemudian mengatur letaknya.

Juga perlu memastikan, apabila yang di dalam berbenturan dengan arah bagian luar, maka bagian dalamnya bisa digeser sedikit, ini namanya ‘Nei wai fen jin’, jika bagian dalamnya tidak searah dengan batu nisan, maka disebut sebagai ‘Nei wai fen jin’. Ini ada dalam ilmu fengshui, juga merupakan sebuah kias. Ketika mengatur letak bagian bawah, guci tulang diputar sekali, dapat mengatasi hawa buruk segala arah, ada beberapa cara untuk melakukan hal ini. Oleh karena itu, Mahaguru telah memahami persoalan hidup dan mati, setelah manusia mati, maka di sanalah tempat terakhirnya.

Begitu dikremasi, hanya setumpuk abu. Guru Padmasambhava mengambil abu jenazah, kemudian memborehkan di wajah dan tubuh, ini merepresentasikan melampaui hidup dan mati, tiada klesha. Nanti pergi ke krematorium, ambil sedikit abu untuk dibawa pulang, kemudian borehkan ke tubuh, melampaui hidup dan mati. Ambil beberapa tengkorak, setiap hari mengamati lubang matanya, lubang hidung, gigi, mulut, merenungkan kematian, memusatkan perhatian, maka Anda tidak akan tergoda oleh faktor eksternal. Jangan sampai Anda memeluk tulang-belulang ( tubuh jasmani ) kemudian menciuminya, oleh karena itu renungkan kematian.

Apabila Anda ingin memusatkan perhatian dalam ekagrayoga, maka lokasi bhavana sangat penting. Dalam penekunan ekagrayoga, diperlukan tapa. Nisprapanchayoga berarti meninggalkan segala permainan, menetap di gunung, meninggalkan segala macam drama dan permainan duniawi, inilah nisprapanchayoga.


 

Ekagrayoga memerlukan pertapaan, nisprapanchayoga perlu menetap di pedalaman gunung, samarasayoga menetap di pusat kota, sedangkan abhavanayoga menetap di angkasa.

Kita telah mengulas ekagrayoga, sekarang kita lanjutkan dengan nisprapanchayoga, sesungguhnya adalah meninggalkan segala macam prapanca ( argumen tidak bermanfaat ) dan permainan duniawi. Prapanca juga dibahas dalam Buddhadharma, sebagian besar tergolong dalam materi uttpatikrama. Ketika telah meninggalkan segala macam prapanca, berati telah terpusat dalam sampannakrama atau bhavana lokuttara, tiada lagi segala macam prapanca seperti dalam lokiya.

Permulaan bhavana Mahamudra memerlukan pertapaan. Kemudian, menetap di pedalaman gunung, mengapa demikian ? Sebab, ketika menetap di pedalaman gunung, indra pengelihatan bersih, indra pendengaran bersih, penciuman, perasa, sentuhan juga cenderung bersih, kondisi ini sangat bermanfaat bagi sadhaka.

Oleh karena itulah, saat para Guru Sesepuh mulai menekuni bhavana, mereka akan menetap di pedalaman gunung, meninggalkan segala permainan duniawi di dunia saha. Harus demikian, memiliki keteguhan tekad untuk mengakhiri tumimbal lahir diri sendiri, mencerahi Tathata, memperoleh Anuttaraprajna, oleh karena itu mesti menetap di pedalaman. Demikianlah jalan yang ditempuh oleh sebagian besar sadhaka semenjak zaman dahulu.

Ketika telah melangkah masuk dalam samarasayoga, kondisinya telah berbeda, sebab ia telah mencerahi Kebenaran Semesta, telah memiliki Hati Vajra yang tidak akan berubah, saat itu boleh turun gunung untuk menjalankan misi Bodhi di perkotaan. Bhavana sebelumnya adalah demi sendiri, dan sekarang adalah demi para insan, maka dia menetap di keramaian kota, samarasayoga menetap di pusat kota. Mengapa boleh menetap di pusat kota ? Sebab saat itu, segala hal telah menjadi samarasa. Dalam kondisi batin tak berubah, segala sesuatu menjadi murni. Dalam pandangannya, semua insan adalah Buddha dan Bodhisattva.

Akhir-akhir ini saya mendengar ucapan Mother Teresa, di antaranya ada satu hal. Biarawati ini memiliki kemuliaan, ucapannya sungguh mengharukan saya. Dia mengatakan, ketika dia mencuci luka orang sakit yang bernanah, menurutnya dia sedang mencuci luka-luka Tuhan. Dia memandang setiap orang miskin, setiap orang sakit, setiap orang yang tertimpa bencana, dan setiap orang yang sedang dalam kondisi kritis sebagai Tuhan. Dalam hal ini, dalam pandangan saya, dia memiliki kesamaan dengan Vajrayana.

Mengapa demikian ? Sebab dengan menekuni Buddhisme, sampai pada tingkatan samarasa, Anda akan memandang tiap insan sebagai Buddha Bodhisattva. Kita pernah berkunjung ke India, dan mengetahui penduduk setempat berkulit hitam, di pinggir jalan pun ada orang yang terbaring dalam kondisi kritis. Di pagi hari kami naik kereta api, gerbong sudah penuh, ada yang berbaring, ada yang duduk, semua bagaikan mayat hidup. Ketika berjalan di jalanan yang gelap, Anda mengira tidak sengaja menginjak sesuatu, begitu diamati, ternyata banyak orang di sana, terus berdatangan, semua berkulit gelap.

Bunda Teresa membawa semua orang yang telah berada dalam kondisi kritis ke tempatnya, yaitu Kalighat ( Rumah Menjelang Wafat ), menghibur mereka dengan kerohanian, mengobati sakit-penyakit mereka, dan mencuci luka-luka mereka. Dia memandang setiap insan sebagai Tuhan, inilah kesetaraan, tiada diskriminasi, ini sama dengan tingkatan samarasayoga dalam Tantra. Coba renungkan, siapa yang sanggup melakukannya ?

Ketika Anda telah memperoleh Kebenaran Sejati, memperoleh samarasa, semua setara tiada diskriminasi, setiap insan adalah Buddha Bodhisattva, Anda akan memiliki tekad untuk menolong orang lain. Saat itu Anda perlu menetap di kota, teristimewa untuk menolong para insan. Tidak hanya menolong tubuh jasmani mereka, namun juga menolong rohani mereka.

Ketika berkunjung ke San Fransisco, Mother Teresa mengatakan, di Amerika lumayan, dalam hal materi tidak semiskin di India, namun orang Amerika tetap saja miskin, miskin apa ? Miskin rohani. Di mana-mana terlihat orang yang kesepian, batinnya merasa sepi, mereka mengalami penolakan, orang semacam ini juga tergolong miskin. Bukan miskin secara materi, namun miskin secara rohani.

Ketika Anda telah mencapai tingkatan samarasayoga, Anda boleh menetap di pusat kota, sebab batin Anda tidak akan berubah.


Dalam kondisi Samarasayoga, sadhaka mesti turun gunung, masuk perkotaan untuk menjalankan misi menuntun para insan.

Kondisi samarasayoga memang luar biasa, di luar jangkauan pikiran Anda. Jangan sampai salah sangka, mengapa seorang sadhaka menetap di perkotaan ? Ketika batin Anda tidak lagi berubah, sama seperti vajra, Hati Buddha selamanya ada pada diri Anda, maka Anda boleh menetap di kota.

Dalam Tantra juga dibahas mengenai ‘lagu’, di perkotaan ada tempat karaoke, tempat untuk menyanyi, bisa mendengar suara nyanyian yang merdu, namun bagi seorang sadhaka Tantra, suara nyanyian tersebut adalah suara mantra. Kadang juga terdengar suara pertengkaran dan suara makian, di Amerika sangat sering terdengar, kita menjapa mantra : “Om. Amidiewa. Xie.” Aksara “Xie” ini, terdengar agak mirip dengan yang diucapkan oleh orang Amerika ketika mereka merasa tidak nyaman, yang artinya adalah kotoran anjing. Di Amerika, aksara “Xie” ini tidak enak didengar, namun bagi kita adalah mantra Tantra. Karena Anda sudah sering mendengar suara mantra, ketika Anda mendengar orang Amerika mengatakan “Xie”, Anda merasa sungguh baik, mereka sedang menjapa mantra.

Suara pertengkaran pun kita dengar sebagai suara mantra. Setiap hari kita mendengar suara pekik burung gagak, ‘America Seattle so many black birds.’. Setiap hari burung gagak menjapa mantra : “A”, “A”, “A”. Ketika Anda mendengarnya, “Oh ! Bahkan binatang pun sedang menjapa mantra, sungguh mulia.” Sesungguhnya semua adalah mantra. Di lapangan tembak kita mendengar suara tembakan, “Peng”, “Peng”, “Peng”, itu adalah suara mantra “Pan !”. Suara apa pun itu, semua adalah suara mantra. Oleh karena itu, saat mendengar lagu populer, semua menjadi suara mantra, “Suoha.”, “Suoha.”. Ketika mereka sedang menyanyi, kita memasuki suara tersebut dan mentransformasikannya menjadi suara mantra.

Ketika saya Berdharmadesana, ada pesawat melintas di angkasa, “Weng…”, suara alam semesta “Om…” panjang, semua berubah menjadi suara mantra yang mengabhiseka diri kita. Demikianlah kondisi samarasayoga, tiada perbedaan. Ucapan yang buruk sekalipun juga merupakan suara mantra.

Demikian pula dengan menari ‘dance’, pada umumnya seorang sadhaka tidak boleh menari. Anda tidak tahu, menari juga merupakan meditasi. Ketika menari, Anda dapat melebur dalam tarian tersebut, memasuki kondisi penyatuan antara tarian, tubuh, ucapan, dan gerakan, sesungguhnya juga merupakan kondisi meditasi.

Ketika menari, Anda telah melupakan diri sendiri, dalam kondisi lupa diri, perhatian terpusat, melebur dalam tarian. Gerakan tubuh melebur dalam tarian, berada dalam kondisi lupa diri, ini adalah meditasi. Anda kira menari itu buruk ? Sesungguhnya, bagi sadhaka menari adalah meditasi.

Kegiatan sehari-hari, seperti makan, berpakaian, berdiam, beraktivitas, dan hiburan, semua adalah meditasi. Semua menjadi Samarasa bagi sadhaka, Buddhata tidak berubah.

Terhadap orang yang telah menyaksikan Buddhata, untuk apa Anda mengurusi jenis mobil yang dikendarainya. Kebanyakan orang akan membedakan, Anda mengendarai mobil kecil buatan Jepang, small Japanese car, atau mengendarai Rolls Royce. Pada umumnya orang akan mengatakan : “Aduh ! Dia adalah seorang sadhaka, mana boleh mengendarai Rolls Royce ?” Orang itu tidak tahu bahwa sadhaka tersebut telah mencapai kondisi Samarasayoga. Dalam kondisi Samarasayoga, duduk di mobil Jepang, mobil Rolls Royce, atau duduk di kereta api,  gerobak sapi, atau kereta kuda, Buddhata tidak akan berubah. Orang awam akan membeda-bedakannya. Suciwan yang benar-benar mencapai kondisi Samarasayoga, bebas naik mobil Jepang atau Rolls Royce, atau naik kereta api, kapal, bahkan gerobak sapi pun dia suka.

Di masa kecil, kita pernah naik gerobak sapi, saya pernah menaiki gerobak sapi, gerobak tersebut berjalan di depan, kita semua berlari mengejarnya dari belakang, kemudian bergantungan di ekor gerobak, setelah gerobak berjalan agak jauh, baru kami turun, naik gerobak sapi sungguh nyaman.

Dalam kondisi Samarasa tidak perlu lagi khawatir, sebab segala sesuatu adalah Buddhata, Buddhatanya tidak berubah. Namun sebelum mencapai kondisi ini, Anda tidak boleh melakukan itu semua, sebab Anda akan terpikat. Jika telah mencapai kondisi Samarasa, maka boleh saja.

Oleh karena itu dalam Tantra dikatakan, mengapa Anda takut terjerumus ? Burung bisa terbang dan tidak jatuh. Ikan bisa berenang dan tidak akan tenggelam. Apakah singa salju takut hawa dingin ? Dia memang hidup di daerah dingin.

Setelah mencapai kondisi Samarasa, Anda menjadi Simharaja Tak Terkalahkan, kondisi apa pun dapat Anda lampaui. Bagi seorang Suciwan, ketika seseorang menjemputnya menggunakan Rolls Royce, Buddhata tidak akan sirna.

Jika Anda adalah seorang Suciwan, mendadak mendengar lagu populer, Anda langsung berubah menjadi awam, atau ketika seorang wanita cantik datang, Anda langsung habis, yang demikian ini tidak akan terjadi, Suciwan adalah Suciwan, sekali mencapai Pencerahan, maka selamanya Tercerahkan.

Segala sesuatu adalah Bodhi, wanita cantik adalah Bodhi, ketika sadhaka Tantra melihat wanita cantik, yang nampak adalah kebijaksanaan. Wanita cantik adalah kebijaksanaan, sebab dia hadir untuk menempa Anda, sehingga tumbuh kebijaksanaan. Ketika semua terlampaui, maka semua adalah Samarasa.

Suara pesawat adalah : “Weng”, “Weng…”, menjadi “Om..”, ini adalah suara mantra. Suara pekik burung gagak adalah “A”, suara tepukan adalah “Hum”. Semua adalah suara mantra, kita mesti memahami Samarasa.


Hari ini membahas Abhavanayoga yang bersemayam di angkasa. Abhavanayoga merupakan kondisi tertinggi atau Anuttarasamyaksambodhi. Ketika memasuki kondisi Abhavanayoga, abhavana berarti bhavana, dan bhavana berarti abhavana.

Apa maksudnya bersemayam di angkasa ? Telah memahami Kebenaran Alam Semesta, Tathata, sepenuhnya memahami dan melebur dalam sunyata. Kondisi ini adalah Anuttarasamyaksambodhi, Pencerahan Sempurna, telah memperoleh Bodhi.

Suciwan yang demikian, dikarenakan tiada yang dilekati, maka Ia bersemayam dalam angkasa. Angkasa sangat sukar untuk dimengerti, dengan Pancamahajnana dari Tathagata, leluasa dalam sunyata, ini merupakan Pencerahan yang sejati. Setelah mencerahi sunyata, kemudian menggunakan Pancamahajnana Tathagata untuk leluasa, berada dalam kondisi keleluasaan hakiki, menuntun para insan di dunia saha. Kondisi yang tidak bertambah dan tidak berkurang, merupakan sebuah kondisi yang tak terbayangkan.

Banyak orang mengaku telah mencapai Sambodhi, ketika kita para sadhaka mendengar orang mengaku : “Aku telah memperoleh Bodhi.”, atau mendengar orang mengatakan : “Aku telah Tercerahkan.”, “Aku telah mencapai Kebuddhaan.”, “Aku telah memperoleh Sambodhi.”, kita patut merasa khawatir dan takut. Mengapa ? Sebab ada tiga macam kemungkinan. Yang pertama adalah Pencerahan Sejati, memperoleh Anuttarasamyaksambodhi, ini sangat langka.

Yang kedua, Anda telah “Kong-kong.” ( Bahasa Taiwan : Gila ), harus masuk ke rumah sakit jiwa. Anda mengaku telah tercerahkan, memperoleh Bodhi, mencapai Kebuddhaan, inilah yang kita khawatirkan. Sebab ada dua kemungkinan, yang satu adalah benar, dan yang satunya adalah Anda sudah gila, telah tersesat.

Oleh karena itu, mendengar Pencerahan, Kebuddhaan, dan realisasi, Anda jangan langsung mengatakan : “Sungguh luar biasa !” Mesti dilakukan pengamatan luhur, barulah dapat diketahui apakah itu adalah Pencerahan Sejati. Sebab sangat dimungkinkan itu adalah skizofrenia, dan dia telah tersesat.

Yang ketiga, menyatakan telah mencapai Kebuddhaan, merealisasi Tathata, dan Tercerahkan, ternyata dia adalah penipu, dia ingin memperoleh nama, takhta, keuntungan, dan persembahan dari umat, ternyata palsu.

Hanya tiga kemungkinan ini, yang pertama adalah Pencerahan Sejati, yang kedua adalah gila, yang ketiga adalah penipu.

Ketika Anda benar-benar mencapai Anuttarasamyaksambodhi, memasuki kondisi Abhavanayoga, ada kemungkinan secara lahiriah bebas leluasa, kita menyebutnya sebagai sadhaka gila. Secara lahiriah adalah sadhaka gila, namun semua perilakunya beralasan dan selaras dengan Buddhadharma. Ini adalah kegilaan yang berdasar, demikianlah Pencerahan Sejati.

Seperti Bhiksu Jigong dalam Riwayat Jigong, setelah mencapai Pencerahan, perilakunya seperti orang gila. Namun di dalam kegilaan-Nya terkandung Buddhadharma. Meskipun perilakunya aneh, namun semua selaras dengan sebab dan kondisi, selaras dengan sebab dan akibat.

Lihatlah dalam Riwayat Jigong, segala perilaku dan perbuatan Jigong, selalu ada ujung dan pangkalnya, menyelesaikan segala persoalan dengan masuk akal, bukan kegilaan yang kacau-balau. Orang gila tidak bisa menguasai diri, sedangkan kegilaan Buddha Hidup Jigong berada dalam kendali diri, Beliau sanggup menuturkan ajaran dibalik semuanya.

Dia mengangkap kutu di bagian depan tubuh, namun Dia tidak membunuhnya, Dia melepaskannya ke bagian belakang tubuh. Menangkap yang di belakang, kemudian melepasnya di depan. Orang-orang merasa heran, kenapa Dia menangkap kutu dengan cara seperti itu ?

Dia mengatakan, tidak boleh membunuh, namun ketika Anda memindahkannya ke depan, apa yang terjadi ? Iklimnya tidak sesuai, dengan sendirinya kutu itu akan mati. Kutu di bagian depan ditangkap, kemudian dipindahkan ke bagian belakang, menangkap kutu di bagian belakang, kemudian dipindahkan ke depan, dengan demikian terjadi ketidaksesuaian iklim kehidupan. Gila namun menggemaskan.

Dia menggosok tubuhnya, menghasilkan sebuah pil, Dia memiliki daya bhavana, telah memiliki abhijna, dan mampu mengetahui isi hati insan. Lihatlah pintu gapura Vihara Lingyin, di malam hari ketika hendak ditutup, Buddha Hidup Jigong akan memasukkan satu kaki, dan berkata : “Tunggu ! Masih ada Saya !”

Bhiksu yang bertugas menutup pintu gerbang berkata dalam hati : “Lain kali aku akan menutupnya lebih awal.”, ketika dia menutup lebih awal, Buddha Hidup Jigong tetap memasukkan satu kaki-Nya. Ketika pintu gerbang ditutup lebih malam, Dia tetap memasukkan satu kaki-Nya. Sebab Dia mempunyai kemampuan membaca isi hati insan, Dia tahu Anda hendak menutup pintu lebih awal atau lebih malam, Dia juga memiliki kemampuan teleportasi, Dia sanggup tiba dengan sangat cepat. Dalam kegilaan-Nya, terkandung Dharma, Dia benar-benar Anuttara, dan sanggup mengendalikan diri. Perilakunya sangat jelas, alamiah dan leluasa, merupakan Abhavanayoga yang sejati.


Kita lanjutkan pengulasan lingkungan bhavana Mahamudra, kita membahas yang paling akhir, yaitu Abhavanayoga bersemayam di angkasa.

Shakyamuni Buddha memeditasikan dan mencerahi dvadasangapratityasamutpada, kemudian mencerahi Kebenaran Alam Semesta. Menggunakan hetupratyaya untuk mencapai Pencerahan, pada akhirnya yang dibuktikan tetap adalah sunyata.

Menekuni Buddhisme, sampai pada tingkatan yang tertinggi, adalah abhavana. Apa itu abhavana ? Apakah meminta Anda untuk tidak perlu menekuni bhavana ? Bukan demikian.

Kondisi Abhavanayoga adalah setiap saat adalah bhavana. Sebab, segala ucapan, perbuatan, dan pikirannya selaras dengan Buddhadharma, semua adalah Pancamahajnana dari Pancamahatathagata. Manifestasi semua ini adalah Abhavanayoga.

Ketika Pancamahajnana dari Tathagata bertransformasi, membentuk sebuah daya untuk menuntun para insan, bermanifestasi menjadi Pancamahabala. Pancamahajnana adalah Pancamahabala. Daya dan Jnana manunggal leluasa adalah bhavana. Namun juga merupakan abhavana, sebab dia tidak berwujud. Ketika benar-benar telah sampai pada Abhavanayoga, Anda tidak perlu menjapa mantra tertentu. Sebab suara yang Anda hasilkan sudah merupakan mantra, apakah masih perlu menjapa mantra tertentu ? Mudra juga tiada, sebab tiap gerakan tangan adalah mudra. Tidak perlu lagi membentuk mudra tertentu.

Pancamahajnana Anda bertransformasi menjadi pikiran, itulah visualisasi. Jadi masih perlu visualisasi apa lagi ? Semua pikiran Anda adalah Pancamahajnana, masih perlu visualisasi apa lagi ? Tidak perlu visualisasi, tidak perlu mudra, tidak perlu japa mantra, dan tidak perlu segala tata ritual, sepenuhnya abhavana.

Namun abhavana juga merupakan bhavana, sebab segala sesuatu Anda selaras dengan Buddhadharma, semua suci, semua adalah bhavana, ini adalah kondisi tertinggi. Oleh karena itu, apabila Anda benar-benar mencapai kondisi abhavana, sungguh luar biasa, itulah Atiyoga dalam Navayana Mahapurna.

Penekunan Mahamudra pada akhirnya juga menembus Navayana, Atiyoga yang tertinggi dalam Sadhana Dzogchen. Ini adalah abhavana, sesungguhnya yang dimaksud dengan bersemayam di angkasa adalah, segala perbuatan Anda, perilaku Anda, semua adalah angkasa. Dalam kondisi semacam ini, apalagi yang Anda inginkan ? Apakah masih menginginkan harta ? Menginginkan berkah ? Menginginkan kesehatan ? Mendambakan keturunan ? Tidak lagi, oleh karena itu disebut sebagai asamskrta. Apa itu asamskrta ? Asamskrta adalah angkasa Mahapurna, Anda tidak perlu melakukan sesuatu, namun Anda leluasa memanfaatkan Pancajnana Tathagata.

Kondisi semacam ini sungguh tak terperikan. Kita sering bicara tentang luas, semesta ini tiada batas, trikala satu hakikat. Masa lampau, saat ini dan yang akan datang terhubung, leluasa dalam sepuluh penjuru Dharmadhatu, luas dan kukuh, inilah bersemayam di angkasa. Dia sanggup pergi kemanapun, semua dapat menjadi bermanfaat. Dalam kondisi semacam ini, Buddha Hidup Jigong menggosok-gosok tubuh-Nya, menggunakan daya pikiran pada ‘xian’ ( Bahasa Taiwan : keratin ), bukan tsampa orang Tibet, melainkan yang disebut dengan ‘xian’ oleh orang Taiwan, ‘xian’ itu adalah pil yang membuat mata terbelalak.

Ketika dia menggosok-gosok tubuh, Dia memancarkan sinar dari pori-pori tubuh-Nya untuk menyinari benda tersebut, Dia menggunakan daya batin yang suci, dikerahkan pada ‘xian’ dan dicampur dengan setetes ingus, meludah, dan jadilah sebuah pil obat, inilah Pil Hitam Pusaka. Anda membuka mulut dan menelannya. Anda yang semula sudah hampir mati, setelah Dia mengambil beberapa benda berwarna hitam dari bagian bawah tubuh-Nya, sakit Anda pun tersembuhkan, tubuh Anda pun termurnikan.

Demikianlah Buddha Hidup Jigong menggunakan daya batin-Nya dikerahkan pada benda-benda tersebut, sehingga benda tersebut menjadi murni. Anda melihatnya sebagai kotor, namun dalam kondisi Abhavanayoga, tiada bersih dan tiada kotor, tiada sesuatu yang bersih, juga tiada sesuatu yang kotor. Buddha Hidup Jigong disebut Buddha Hidup karena telah mencapai kondisi ini, Dia adalah Rinpoche sejati.

Segala ucapan dan perilaku-Nya, bagi Anda terlihat kurang waras, namun Dia memiliki daya batin, Dia mengerahkan daya batin yang suci adanya.

Dia sembarang mengambil rupang di dalam vihara, kemudian membawanya pergi, orang menanyai Dia : “Apa tidak salah ? Kenapa kamu membawa pergi rupang itu ?” Dia menjawab : “Vihara kita sedang pindahan.”

Nanti kalian pergi ke vihara kemudian memanggul rupang Buddha, orang akan bertanya : “Apa yang kamu lakukan ?” Vihara sedang pindahan.

Apa yang Dia katakan memang beralasan, Dia pergi ke kebun belakang, kemudian meletakkan rupang Veda Dharmapala di atas tanah, dan sesosok mara pun tergencet di bawah kaki rupang Veda Dharmapala. Dia sedang menangkap mara tanpa ritual apa pun, Dia hanya mengangkat rupang Veda Dharmapala dari dalam vihara keluar dan meletakkannya ke kebun belakang, Begitu diletakkan, mara ada di bawahnya, dan tergencet oleh rupang Veda Dharmapala.

Kelihatannya kurang waras, sesungguhnya tidak gila. Siapa yang benar-benar gila ? Penderita gangguan jiwa di rumah sakit jiwa, mereka semua mengaku tercerahkan, jika bukan sebagai Tuhan, pasti mengaku sebagai Mazu, atau sebagai Yesus, dan bahkan Shakyamuni Buddha.

Kegilaan dari orang yang benar-benar Tercerahkan adalah terkendali, dia leluasa dan memiliki pengendalian diri, inilah Bodhi yang sejati. Kegilaan Pencerahan sejati, bersifat leluasa, pengendalian diri, dan berdasar.

Sedangkan penderita gangguan kejiwaan justru dikendalikan oleh roh eksternal, Anda tidak bisa leluasa, ada dua atau tiga sosok bertengkar di dalam, apakah Anda tetap mengaku telah tercerahkan ?

Kondisi Abhavanayoga mesti direalisasikan dengan sebaik-baiknya.

 

Judul Asli :
507 大手印的修行環境(三)

Sumber :
http://tbsn.org/chinese3/news.php?cid=29&csid=34&id=539

http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=29&csid=34&id=537

 

◎ Mengapa dan Bagaimana Bersarana ?
http://tbsn.org/indonesia/news.php?cid=26&csid=7&id=1

◎ Pengulasan Sadhana Tantra :
http://tbsn.org/indonesia/newsList.php?cid=29&csid=36

◎ Kumpulan Ceramah Dharmaraja Lian-sheng :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=29

◎ Beberapa Karya Tulis Dharmaraja Lian-sheng Yang Telah Diterjemahkan Dalam Bahasa Indonesia :
http://tbsn.org/indonesia/newsClass.php?cid=23

Diterjemahkan Oleh Lianhua Shian

大日如來 – (Da ri ru lai) – Vairocana Buddha

Standard

Nama “Vairocana Buddha”, berasal dari bahasa Sansekerta terdapat beberapa versi terjemahanya, misalnya: “Hyang Buddha Yang Keberadaannya di mana-mana Secara Universal”, “ Rocana”, dan “Hyang Buddha yang dari Tubuhnya memancarkan cahaya yang terang benderang”. Setiap sekte atau aliran dari agama Buddha menggunakan nama beliau secara berbeda-beda. Sekte Avatamsaka menerima Hyang Buddha Vairocana sebagai “Sang Penguasa atas Dunia Bunga Teratai”. Sekte Dharmalaksana membayangkan Hyang Buddha Vairocana ini sebagai sifat diri dari Hyang Buddha Sakyamuni. Sedangkan sekte Tien Tai memikirkan Hyang Buddha Vairocana ini sebagai Dharmakaya-Nya dari Hyang Buddha Sakyamuni. Sekte esoterik (yang mementingkan segi batiniah-Nya dari Dharma) memuja Hyang Buddha Vairocana ini sebagai “Sang Penguasa dari Kendaraan Rahasia dari perkataan yang benar”; dan umat Buddha sekte ini menyebut Hyang Buddha Vairocana ini dengan sebutan “Hyang Tathagata dari Matahari Besar” atau Hyang Mahavairocana”.

Karena sekte esoterik itu memuja Hyang Buddha Vairocana ini sebagai “ Sang Penguasa Matahari yang Besar”, maka sekte ini juga dinamai sekte “ Matahari yang Besar” atau sekte Vairocana. Umat Buddha yang mempercayai sekte ini memuja kelima Buddha yang ada di lima penjuru mata angina yaitu, Hyang Tathagata Matahari besar (Vairocana), Hyang Buddha Aksobhya, Hyang Buddha Ratnasambhava, Hyang Buddha Amitabha, dan Hyang Buddha Amoghasiddhi. Ke lima Buddha tersebut secara berturut-turut melambangkan: “Kebijaksanaan yang sifatnya substansial” (lambang dari Hyang Buddha Vairocana); “Kebijaksanaan-Cermin-Besar” (lambang dari Hyang Buddha Aksobhya); “Kebijaksanaan Universal” (lambang dari Hyang Buddha Ratnasambhava); “Kebijaksanaan Mengobservasi Secara Mendalam” (lambang dari Hyang Buddha Amitabha); dan Kebijaksanaan Sempurna di alam Dharma” (lambang dari Hyang Buddha Amogasiddhi); sehingga Maha Pribadi-Maha Pribadi Agung itu dinamai “Kelima Tathagata dengan Kebijaksanaan”.
………………..

baca selengkapnya di sini : http://ift.tt/22yXcsN via Vihara Vajra Bhumi Sriwijaya

Semua Buddha mengajarkan Sukhavatiloka

Standard

Setiap Buddha tiada yang tidak membabarkan “Sutra Usia Tanpa Batas”, juga tiada yang tidak membabarkan “Amitayurdhyana Sutra”, tiada yang tidak membabarkan “Amitabha Sutra”. Para makhluk yang setelah mendengar pembabaran ketiga jenis sutra tersebut, akan mengetahui adanya Buddha Amitabha dan Alam Sukhavati.

Maka itu semua makhluk di sepuluh penjuru alam, paling berjodoh dengan siapa? Yakni Buddha Amitabha dari Alam Sukhavati, bahkan jodoh ini sangat mendalam.

Begitu kita mendengar nama Buddha Amitabha, langsung merasa bersukacita, menerima dan mengamalkan ajaran, ini disebut sebagai jodoh telah masak, selamat buat anda, dalam satu masa kehidupan ini anda pasti berhasil terlahir ke Alam Sukhavati.

Apabila mendengar nama Buddha Amitabha, lalu setengah percaya setengah tidak, ingin terlahir ke Alam Sukhavati tapi terhadap dunia ini masih begitu mendambakan, tidak ikhlas melepaskan kemelekatan, ini disebut sebagai jodoh belum masak.

Jadi tidak bisa dikatakan anda tidak berjodoh denganNya, pasti berjodoh, cuma jodohnya belum masak, semuanya ini terpulang kembali pada pahalamu sepanjang satu masa kehidupan ini.

Kalau anda memiliki pahala yang besar, maka saat menjelang ajal akan ada kalyanamitra yang datang membantumu melafal Amituofo, mengantarmu ke Alam Sukhavati, ini disebut sebagai ada jodoh.

Terutama ketika jatuh ke tiga alam rendah, setelah meninggal dunia jatuh ke tiga alam penderitaan, tetapi bertemu dengan sahabat Dharma yang membuat pelimpahan jasa kepada dirimu, di dalam upacara kebaktian pelimpahan jasa juga ada yang bisa berhasil terlahir ke Alam Sukhavati, namun kalau tidak ada jodoh pendukung maka juga tak berdaya. Jodoh pendukung ini juga bukan semua orang bisa memperolehnya.

Maka itu jodoh itu harus digenggam diri sendiri, diri sendiri harus bisa melakukannya. Menjalin jodoh dengan Buddha Amitabha, setiap saat takkan melupakanNya, dengan demikian barulah bisa menggenggam erat jodoh ini.

Kutipan Ceramah Master Chin Kung 21 Desember 2016

每一尊佛教化眾生,沒有不講《無量壽經》的,沒有不講《觀無量壽經》的,沒有不講《阿彌陀經》的。眾生聽了這三部經,都知道有阿彌陀佛,都知道有極樂世界,佛無窮盡。

所以十方世界一切眾生跟誰最有緣?極樂世界阿彌陀佛,而且緣非常深。我們一聽就歡喜、一聽就接受、一聽就真幹,叫緣成熟,恭喜你,你這一生決定往生。如果聽了半信半疑,往生到極樂世界,這個地方還有留戀,還捨不得放下,你的緣未必成熟。不能說你沒有緣,有緣,緣不成熟,完全靠你自己這一生的福報。如果有大福報,臨命終時有善知識助念,把你送到極樂世界,這叫有緣。確確實實特別是三途,死了以後已經墮三惡道,遇到善友給你做超度佛事,在佛事當中也有少數往生的,他沒有這個助緣他就沒辦法。這個助緣也不是每個人都能得到的。所以緣一定要自己掌握,自己把它做出來。跟佛有緣,念念不離開阿彌陀佛,這個緣就掌握住了。

About Sanna (Perception) – not self

Standard

Of the five groups or aggregates, one is material and four are mind-related. These five comprise a human being.

The first one (called rupa in Pali) is approximately translated as ‘materiality’ and is most evident.

It is so evident that some persons think they are only their body.

Today we wish to talk about one of the five groups, the one that is called sanna in Pali.

In ordinary talk, the most elementary translation of sanna gives “perception” or, perhaps if we think of the past emotional state, we could call it “memory”. In English, we can hardly use “memory” if we think about what might happen tomorrow. For example, we could not say, “I have a memory of tomorrow”, rather we might say, ” I have a perception of tomorrow”.

Perception (sanna) is not-self.

The Buddha said: “If perception, bhikkhus, were self, then this perception would not become painful, and one would be able to say, ‘Let my perception be thus, let my perception not be thus,’ But since perception is not-self, so it becomes painful, and no one can say, ‘Let my perception be thus, let my perception not be thus.'”

By accessing the attainment state of stream enterer (Pali: sotapan) or better, each for himself or herself, most beings can agree with Chandrakirti’s Prasannapada (“Clear Words”) – that the “self” is not separate from the five aggregates of rupa, vedana, sanna, sankara and vinnanam.

The body and mind is a big institution consisting of body (rupa) and four types of mind stuff, namely feeling (vedana); perception (sanna); mental formations (sankhara); and consciousness (vinnana).

Whatever arises in these five aggregates passes away.

When one is entirely free from attachment to the body and mind, one is liberated. So we cultivate strong mindfulness to attain a peaceful state and find what Westerners call “enlightenment”.

There is a type of memory that misreads processes if it is untrained and coarse. This is sanna.

This error of view has to do with the way your present name and form developed through the coarse and fine, wellness or unwellness changes since this very human birth.

If you were wise, you would keep your minds empty of these errors of view by attending to the real – the present changes in wellness or unwellness events.

The foremost meanings of wellness and unwellness are simply stated if we say and know all human beings are subject to a common destiny defined by the process of birth, ageing, sickness and death.

The empty mind knows these facts; it only loses these facts when it becomes closed up with doubt.

The wrong view is to cling to or attach yourself to heavenly beings.

In the interests of our Dhamma practice, the correct view is that little benefit can arise by joining in such types of multifaith exercises where the intent is to get Buddhist practitioners to agree to an implicit atman (Creator God) basis as the correct view.

Dhamma Practitioners ought to avoid interfaith platforms using songs framed in terms of seeking to make a past time real by playing with sanna perception.

How do you train persons who feel guilty or worry about the past?

Our Students were taught the established yoga mental exercise of thinking backwards through the recollection of a particular worry.

By the time a worry has entered into a person’s mind at some intensity, several low intensity events have occurred.

Most persons do not pay enough attention to their present events so they cannot pick up the “precursors” of low intensity which are caused by clinging onto something.

When the Student recalls the events of the day in reverse order, this is contrary to the natural tendency to think forward.

By this backward thinking practice, using sanna perception, worry can be overcome by not grasping what was formerly grasped.

This practice was taught by Padma Sambhava.

So let us use repetition to remember the means of access to thoughts on sanna.

In Buddha Dhamma, you may be interested to know how sanna nestles in the list or framework of the forty meditation subjects:

A. Ten entirety (totalities) (kasina)

B. Ten kinds of foulness (asubha)

C. Ten kinds of recollections (anussati)

D. Four kinds of divine abidings (Brahmavihara)

E. Four kinds of immaterial states (arupa)

F. One perception (sanna)

G. One defining (avathana)

A. The ten kinds of entirety-methods are as follows:

(1) Earth kasina

(2) Water kasina

(3) Fire kasina

(4) Air kasina

(5) Blue kasina

(6) Yellow kasina

(7) Red kasina

(8) White kasina

(9) Light kasina

(10) Limited-space kasina

B. The ten kinds of foulness-methods are as follows:

(1) The bloated body

(2) The livid body

(3) The festered body

(4) The cut-up body

(5) The gnawed body

(6) The scattered body

(7) The hacked and scattered body

(8) The bleeding body

(9) The worm-infested body; and

(10) The skeleton

C. The ten kinds of recollection-methods are as follows:

(1) Recollection of the Buddha

(2) Recollection of Dhamma

(3) Recollection of the Sangha

(4) Recollection of virtue

(5) Recollection of generosity

(6) Recollection of deities

(7) Mindfulness of death

(8) Mindfulness occupied with the body

(9) Mindfulness of breathing; and

(10) Recollection of peace

D. The four kinds of divine abiding are these:

(1) Loving kindness

(2) Compassion

(3) Gladness; and

(4) Equanimity

E. The four kinds of immaterial states are these:

(1) The base consisting of boundless space

(2) The base consisting of boundless consciousness

(3) The base consisting of nothingness

(4) The base consisting of neither perception nor non-perception

F. The one perception is the perception of repulsiveness in nutriment.

G. Finally, the one defining is the defining (analysis) of the four great primary elements.

Next to be examined are the feelings (vedana), memories (sanna), “self” images (sankhara), and also the many types of consciousness (vinnanam) that arise.

We may now realise that passively listening to our Teacher is like vacantly viewing a map. The Teacher produces nothing to be learnt; his or her words only point at what we need to produce in our minds there and then.

The great Master Nagarjuna explained centuries ago that as long as a wrong view of our aggregates (rupam, vedana, sanna, sankhara and vinnanam) exists, one is bound to the karma of cyclic existence because “self” is the root of all trouble. So cutting the root amounts to realisation of selflessness (anatta).

Today people talk so much about physical exercise; good, but what of our hearts, our minds? We need mental discipline, mental exercise, mental training.

So now let us look at the five groups from a slightly different viewpoint.

The Buddha does not ignore or neglect the body, but he gives pride of place to the human mind. Here you have the five aggregates or groups.

Only one is material, the other four are something to do with the mind. This is matter – rupa, and this is mind – vinnanam consciousness; the other three are – vedana, sanna, and sankara, and these are the contents of the mind.

You say everywhere you see things material.

When you see matter your eyes come into contact with perceivable objects. All those objects that we see are things material. So the world means just the sense objects. Right? When you go deeper you see here there’s colour, and those colours give a shape.

And we get sounds. When two things come together, we get a sound.

So two materials come together and you get a sound.

Smell. Certain pollens come to your nostrils and you get it.

Then here again, your tongue.

You get something material.

And touch. So the entire world is the world of matter. Then we have the world within – this mind and its contents.

See the difference. Today, man with a brain weighing only 3 lbs. has done marvellous things. He has brought under control air, space, gone to the moon. Human beings are not gods, not Brahmas, but just this one fathom long body with a brain and consciousness.

Let us talk about control in fact and fiction.

The more a person tries to control the external world, the more difficult he or she finds it to control himself or herself – that is the problem today.

Please note when the Buddha talks about men he infers the same for women.

The Buddha says, “Man may conquer hundreds and thousands of people in the battlefield. What a waste to conquer thousands and thousands of people if you cannot conquer yourself.”

What a waste to bring about a change in the environment without a change inside us.

So bhavana (meditation) brings about a change inside us. That is the aim of meditation, to look within.

Things are not simple in the real world; they are simple only in fantasy worlds.

It is not easy to understand ourselves.

When two persons come together there are really six persons, although it sounds rather paradoxical.

Each person as he sees himself, each person as another person may see him, each person as he or she really is.

Each person thinking “I am so and so, I am so and so” depending on his or her ego, his or her so-called “I”. You may live together, eat together, work together, sleep together, do everything together, but still you may not understand the other person.

So, in meditation we are trying to find out the real person.

So when you sit down to meditation, am I a man or a woman?

These are only concepts. These disappear; the man/woman business.

You find there is a body in flux. It is not something stationary, something stable and fixed.

All the time it is changing. You cannot knock in the same place again, scientifically speaking, because the particles of matter there, the particles of matter here, the environment, all are changing in vibration.

If you learn physics, it is very easy to understand the Buddha’s flux theory.

So everywhere is changing.

When you sit down, all concept disappears.

We just see here a conflux of mind and body. A body flux and a mind flux.

So it’s a conflux flowing together. So what is this matter and mind?

Just this body is matter and mind.

Scientifically speaking, matter is something tangible or perceptible. But not mind.

Say a thought now comes, a thought of love. You cannot touch it. It is not something material. But there is a way of seeing the thought. Use the mind.

A thought sees a thought.

In meditation you see.

Now there comes a thought of love; pure love; loving-kindness (in Pali: metta).

Who sees it? A thought sees a thought. Now it disappears, now it reappears.

You become aware of all these things in meditation. All concept disappears.

When you are in meditation, you may entertain an ugly thought; an unpleasant and unwholesome thought.

You need not get upset, it is very natural.

So in meditation, when thoughts come you don’t struggle with them.

Just use bare awareness, bare attention.

Don’t be a judge, don’t praise or condemn the thought.

Just the thought, the thought, the thought – come back here. With bare awareness, use bare awareness.

People don’t know how to see a sunset.

The best way to see a sunset is just to be there, bare attention. That’s the best way to see the sunset.

So when you start thinking about the colours and all that, so you see you are distracted, you’re distracted, not seeing the sunset.

When we do the meditation – breathing meditation – then it’s not so easy, you know.

When you try to concentrate, your mind will wander and wander. We know of great meditators.

Sometimes they think that at times they find it difficult to keep their concentration.

Just for five minutes.

That is the nature of mind, but you get used to it. Then keep away the other thoughts and go on with meditation.

The meditation that the Buddha emphasised again and again, was mindfulness.

You know about this discourse on mindfulness.

Be mindful of everything. Be mindful.

Practice it, then you get used to it. Then you see the advantages.

Persons today, because they don’t have mindfulness, must create trouble for themselves unnecessarily.

Because of this lacking of mindfulness they get all sorts of troubles.

You can run mindfully without tension. You go driving your car. You come to traffic lights.

Most persons, you know, when they see green turning to amber, they get agitated. “Oh it is red.”

Impatient. It is red. So the best thing to do, the sensible thing to do when you see red is to not get agitated.

There’s a little rest for you. Leave the wheel, take a deep breath, you see, and patiently wait for the green. No tension. So there are little things that we have to cultivate mindfully.

Also, when we talk about meditation, there is what we call the “Brahma Viharas” – the four sublime states:
Loving kindness, compassion, appreciative or altruistic joy and equanimity.

These four sublime states we call the art of noble living.

This is some meditation that we all must cultivate.

Persons do not know how to love. Their love is so selfish, so that is not love.

“I” and the “My” and the “Mine”, that is selfish.

Let your good thoughts go to all.

May all beings be well and happy, may all beings be well and happy.

No bond, no attachment with others is the way to lighten and widen the mind.

Now parents love their children. There are hundreds and thousands of children.

But when her child is in trouble, she feels so much agony, mental agony. That is why when you are separated you feel sad.

The Buddha says to be separated from the loved is dukkha, meaning suffering.

This can be found out. It cannot be said exactly in words but it can be known.

Sanna is one of the mental factors and the jhana, it is staying with one object. The meditator can use one of the forty meditation objects mentioned earlier.

It is best if you ask a qualified Teacher what suits you best.

Some may use kasina, some may use loving-kindness, and at the highest level some objects cannot send the mind to the highest level.

For example, contemplation of the 32 body parts can give only first jhana, and loving-kindness can give only third jhana. These are general rules to guide you.

If you get too high, you may not understand sanna with ease.

For the fourth jhana, if you want to get it, you must change your object but if you start with kasina, the coloured disc, you don’t need to change it or, if you start with anapanna, you don’t need to change it.

The perception or sanna, the mental factor, is not significant in that consciousness.

But other mental factors are more powerful and it maybe also more powerful but in the original text no one can mention the importance of sanna.

For those more technically proficient in Pali terms we remind you that there is not only sanna, there are also phassa, vedana, sanna, ekaggata, jivitindriya, manasikara. These mental factors are also associated with any consciousness but they are not entitled to be called jhana.

In jhana paccayo, these five factors are entitled to be called jhana paccayo.

Much clarification is required for advanced Students from reading say, the Teacher Sayadaw Dipaloka’s texts when he explains in fine detail to students who ask the technical questions about mental states.

Although we are saying the same thing, they are arising and passing away at any moment.

For the more advanced listeners, we remind you that everything is not the same thing. They are new ones.

Although the name is the same, everything has changed at any moment.

Nimitta is pannatti, it cannot change, but the arammanika, any consciousness and all mental factors are replaced with new ones.

Sanna also is replaced.

Sanna is only one of the concomitant mental factors.

Looking to the imagined future, it is perhaps more likely than unlikely that a pessimistic thought array (sanna) appears: “I shall be content if I go to heaven birth next life”.

For most religious persons, the prospect of acquiring a heaven birth next life would not be termed a pessimistic outlook.

Our Teacher has no intention of disparaging the intellect or motives of other practitioners in using this method, because our Teacher’s polemic cannot accede to a Student’s view that most common persons would disagree with the use of the word “pessimistic” in referring to a next life heavenly situation.

It is because they lack a precise English nomenclature for this “common” view, because the “next-after-next” life expectations suggest that the process state be termed at least: “hidden pessimism”.

You need to overcome “pessimism”.

If this (sanna) perception is nourished and believed as a statement of (absolute) truth; it can be seen why persons may relinquish the perception that “contentment ” is possible to attain here and now in the present human life.

Students were invited to generate sufficient merit by practice to set aside, as a Dhamma obligation, to understand the error-in-view, and understand that holding such a view (even for those desirous of birth in the Pure Land) is not in accord with Buddha Dhamma Vajrayana. “Self generation” and/or “generation in front” is needed to vanquish such “pessimism”.

In some deva worlds, the devas do not care for all basic precepts.

Why would a clear-headed person wish to join a kingdom of beings who hold less than five precepts?

If a person’s former life before this human life was as such a deva or devata, by habit, he or she may practice “atman-adhesion” and hope to “return” to that state.

For complex subjects there are different solution sets generating ways of looking at things within the Buddha Sasene.

Depending on your disposition, you would be wise to think about the views of the two Indian Schools on “self generation”

There were two Indian schools maintaining the identity of “self generation” and “generation in front”.

The first Indian school held that without first separately contemplating “self generation” one convinces himself or herself that he or she (a “self”) is transported to the centre of the mandala of powdered colours, or of the painted one, that is “accomplished” in the “generation in front”.

Having been transported to the centre of the mandala, the person generates the “matrix of natures” and the four factors of becoming.

In the Tibetan Snags rim, this “matrix of natures” is the same as “realm of space” (in Pali: first arupa, meaning formless, jhana).

He or she generates further practices until he or she leaves through the east gate of the mandala.

He or she then presents offerings to the Guru or deity and sees himself or herself as identical to the Guru or deity and receives initiation.

The second Indian school held that if one were to do it that way there would be no method of contemplating the “spheres of purification”, namely birth, death, and the intermediate state, or of contemplating with direct comprehension their concordant natures.

The first method may encourage a person to reinforce their “self” rather than understand the Buddha Dhamma.

In the second Indian school, the Guru or deity is in the centre of the mandala and the practitioner makes offerings, praises, enjoyment of ambrosia (heavenly food) and, having understood anatta, abides in the centre of the mandala.

He or she then generates first arupa jhana (the “matrix of natures”) and the four factors of becoming.

Students were warned that the jeopardy of using these practices with conceit is, if persons visualise themselves and appear by siddhi to be as elevated yogis with multiple bodies, they may forget that their root ground “being as five groups” is still continuing in human birth.

There are cases when persons use a form of dreamtime practice to talk to or dance with heavenly beings.

It is important to remember that inexact forms of practice of dream yoga are still a “human” dreaming.

One Tasmanian native practice was to watch a soft, kindly looking eye.

With higher clarity of vision this turned out to be like a European horse. There were no European horses in Tasmania in ancient times.

Most forms of careless, inexact practice turns out to be like cheap calico – the dye fades quickly.

There is some safety in supposing and/or remembering that all events seen, even with celestial eye, or heard, even with celestial ear, are merely like “clouds” of iddhis sourced from our human birth.

These things are of such a nature that they happen outside this fathom-long body so, no matter how attractive they appear, they cannot provide a basis to bring us the present contentment we are looking for.

Persons must take care not be duped by these iddhi matters and turn away from playing with them.

When the significance of the practice of renunciation of playing with these things is known, each for himself or herself, then the process method that leads to the true experience of contentment becomes trustworthy.

We then come to the position where we get on with living the holy life as a reality as one who can be truly human.

Students who have not practised mindfulness of the body thoroughly and repeatedly may assert that since all conditioned things are transitory, why should they bother to try a method to “gain” contentment because their past experience showed whatever contentment they materialised in the past changed to “loss”.

So it is customary for most persons to have hesitancy arise which expresses itself as: “Is there any technique that will lead me to contentment in a form that can be relied upon?”

Our challenge is to invite Students to attend to learning at the Centre for the rest of their life and then apply what has been learnt within their own Temples or homes or workplaces.

It takes most persons time to understand why this transfer of teaching is of benefit.

Sometimes, if they have practised something similar in past lives a few persons may resolve such reservation speedily.

Such persons can do this because they have qualified by myriad generous actions in his or her past (Pali: kusala kamma) which means they belong to the “genius” student classification having powerful antecedents which can fruit to give the arising of the right contentment.

However, for most students, it is questionable if a firm resolution of this type of question could arise by serendipity.

The sought-after contentment is the outcome of a suitable process.

Supporting factors for this practice include verbal recitation of the Mangala Sutta.

Another supporting factor is a condition for the mental recitation and the mental recitation is for the penetration of the characteristics as in the texts.

Provided a person follows the Dhamma, he or she shall triumph by finding the process of obtaining right understanding of reality.

Mindfulness is a common element in all Dhamma processes.

The subject matters taught needs to be and must be based on our own experience using words in your internal dictionary.

If your internal dictionary lacks 2nd order and 3rd order thought, this must be attended to before analytical reflection upon the constituent parts of the body can gather the insight and reveal the fact that they are devoid of ANY permanent self.

These days, if you measure the appropriate height of your adult body you find it a metric measurement between, say, 1.4 to 1.7 metres or between 5 to 6 feet. The measure is about one fathom = six feet. A few persons may be taller than one fathom.

To understand why mindfulness of body is a basic practice that must be done, you must direct attention and locate the actual volume of your own body.

This is why Ajaans, such as Taungpulu Tawya Kake Aye Sayadaw, refer to the key discourse by the Buddha:

” Oh! Rohitatha. I do not preach that the cessation of the world of suffering can be done without attainment or nirvana.

Within this fathom-long body, with its thoughts and emotions, I declare is found the world, the origin of the world, the cessation of the world and the path leading to the cessation of the world”.

Many Blessings appear from other options within that framework.

For more detail refer to The Minor Readings, Pali Text Society, Oxford 1991. ISBN 0 86013 023 1, translated by Bhikkhu Nanamoli.

May all beings develop mindfulness.

May all beings develop understanding about sanna.

May all beings be well and happy.

This radio script was written and edited by John D. Hughes and Leanne Eames.

Disclaimer:

As we, the Chan Academy Australia, Chan Academy being a registered business name of the Buddhist Discussion Centre (Upwey) Ltd., do not control the actions of our service providers from time to time, make no warranty as to the continuous operation of our website(s). Also, we make no assertion as to the veracity of any of the information included in any of the links with our websites, or another source accessed through our website(s). 

Accordingly, we accept no liability to any user or subsequent third party, either expressed or implied, whether or not caused by error or omission on either our part, or a member, employee or other person associated with the Chan Academy Australia (Buddhist Discussion Centre (Upwey) Ltd.)

This Radio Script is for Free Distribution. It contains Buddha Dhamma material and is provided for the purpose of research and study. 

Permission is given to make printouts of this publication for FREE DISTRIBUTION ONLY. Please keep it in a clean place. 

“The gift of Dhamma excels all other gifts”.