Category Archives: pureland

Membinasakan Sepuluh Generasi

Standard

Master Chin Kung Bercerita

Membinasakan Sepuluh Generasi

Di dalam kalangan Buddhisme terdapat sebuah kisah perumpamaan yang amat terkenal, pada masa Dinasti Ming, ayahanda Fang Xiao-ru hendak mengebumikan ayahandanya (yakni kakek dari Fang Xiao-ru), ahli feng shui membantunya menilik sebuah liang kubur, letaknya amat bagus, maka dia memutuskan untuk mengebumikan ayahandanya di tempat tersebut.

Tiga hari sebelum dilakukan penggalian, dia bermimpi seorang kakek yang mengenakan pakaian merah, mimpi ini terjadi dalam tiga hari berturut-turut, agar dia menunda beberapa hari lagi baru mengadakan penggalian. Dia mengatakan bahwa generasi keturunannya yang berjumlah lebih dari 900 jiwa ada di bawah liang tersebut, maka itu meminta agar dilakukan penundaan penggalian beberapa hari ke depan, sehingga mereka bisa pindah ke tempat lain.

Tetapi ayahanda Fang Xiao-ru tidak menaruh hal ini di dalam hati, menuruti hari yang telah ditetapkan untuk mengadakan penggalian. Setelah dilakukan penggalian ternyata di bawah sana terdapat sebuah sarang ular, dan ada banyak ular kecil di dalamnya, ular-ular kecil ini akhirnya juga mati binasa.

Fang Xiao-ru adalah salah seekor ular yang bertumimbal lahir jadi manusia dan menjadi cucunya. Dalam bersekolah Fang Xiao-ru merupakan murid yang sangat pintar, namun sayangnya suatu kali dia membuat Kaisar Ming tersinggung, hukum yang berlaku pada masa itu adalah membinasakan 9 generasi keluarga, Fang Xiao-ru menantang Kaisar Ming : “Jangankan 9 generasi, bahkan 10 generasi binasa juga tak masalah”. Kaisar Ming menjadi amat emosi, akhirnya guru Fang Xiao-ru juga ikut dibunuh.

Fang Xiao-ru datang untuk membalas dendam, kebencian dibalas dengan kebencian. Anda membunuh sarang yang berisikan banyak ular, ular bertumimbal lahir jadi manusia, akhirnya dia melanggar hukum, dan membinasakan generasi keluargamu, sungguh mengerikan. Dendam ini jika tidak bisa diurai maka “setiap kelahiran akan menjalani penderitaan, tiada terputus”, saling membalas di dalam lingkaran tumimbal lahir.

Maka itu, manusia harus memiliki kebijaksanaan, para bijaksana jaman dahulu berkata : “Menerima kerugian adalah berkah”, harus mengurai permusuhan, “Permusuhan harus diurai jangan dijalin”, patut diketahui bahwa hutang nyawa dibayar nyawa, hutang uang dibayar uang, ini adalah kebenaran. Insan tercerahkan telah memahami bahwa setelah membayar hutang nyawa, jangan biarkan lagi orang lain datang melunasi hutang, maka selesailah sudah urusan hutang piutang. Setelah bersukacita membayar hutang uang, maka jangan ada lagi rasa benci; hutang orang lain padaku tak perlu ditagih lagi, hati menjadi bersih dan lapang.

Jika ada orang lain yang meminjam uang dari anda, dan tidak membayarnya atau menipu dirimu, atau menggunakan segala cara yang tidak halal untuk memaksa dirimu memberikan uang kepadanya, maka di kelahiran mendatang orang ini tetap harus membayar hutang ini. Tetapi insan yang tercerahkan takkan menghendaki hal ini lagi, jika bersikeras menghendaki orang itu datang untuk membayar hutang maka tidak bisa terlahir ke Alam Sukhavati.

Maka itu, hutang kita pada orang lain hendaknya dilunasi dengan jelas, sedangkan hutang orang lain pada kita anggaplah sudah lunas, hati kita bersih dan jernih. Jika tidak memahami aturan ini, selalu mengingat hal ini di hati, inilah yang disebut “saling membalas dendam, menjalani penderitaan pada setiap kelahiran, tiada terputus

Risalah Sepuluh Keraguan Tanah Murni

Standard

Risalah Sepuluh Keraguan Tanah Murni
Diwejangkan oleh Master Zhizhe, Tiantai, Dinasti Sui
淨土十疑論
隋天臺智者大師說

Keraguan Pertama
Tanya:
Para Buddha dan Bodhisattva memiliki welas asih agung, jika berkehendak menyelamatkan makhluk hidup, seharusnya hanya berikrar terlahir di Alam Triloka, menyelamatkan para makhluk hidup yang menderita di tiga alam penderitaan di dalam dunia yang penuh dengan lima kekeruhan ini. Mengapa berikrar terlahir di Tanah Murni demi kebahagiaan diri sendiri? Mengabaikan makhluk hidup berarti tidak memiliki cinta kasih dan welas asih, hanya mementingkan diri sendiri akan menghambat jalan pencerahan.

Jawab:
Ada dua kategori Bodhisattva. Pertama adalah mereka yang telah menerapkan Jalan Bodhisattva selama kalpa tak terhitung banyaknya, pun telah mencapai anutpattika dharma ksanti (kesabaran dalam pemahaman dharma tanpa lahir dan musnah), ini adalah kategori Bodhisattva yang Anda kecam. Kedua adalah Bodhisattva yang belum mencapai anutpattika dharma ksanti dan makhluk awam yang baru mengembangkan ikrar bodhicitta. Bodhisattva awam ini harus selalu berada di sisi Buddha. Setelah kekuatan ksanti tercapai, barulah bisa hidup tegar di Alam Triloka menolong para makhluk hidup yang menderita di dunia yang kotor.
Sebab itu, Mahaprajna Paramita Sastra mengatakan, “Makhluk awam yang masih terbelenggu [oleh keserakahan, kebencian dan kebodohan batin], meski memiliki welas asih agung berikrar untuk terlahir di dunia kotor demi menolong para makhluk hidup yang menderita, hal ini tidak akan ada hasilnya.” Mengapa? Karena noda batin di dunia kotor sangat kuat. Jika diri sendiri tidak memiliki kekuatan ksanti, justru pikiran akan terseret oleh eksistensi luar, terbelenggu oleh godaan suara dan wujud, sehingga diri sendiri terperosok ke dalam tiga alam penderitaan, bagaimana mungkin bisa menolong para makhluk hidup?
Seandainya dapat terlahir di alam manusia, juga sulit bisa menemukan Jalan Suci Buddha Dharma. Atau karena praktik sila dan kebajikan, sehingga terlahir di alam manusia sebagai raja atau menteri yang hidup leluasa dengan kekayaan dan kedudukan tinggi, meski berjumpa dengan kalyanamitra (orang yang sanggup mengajarkan Dharma), juga tidak akan memiliki keyakinan (pada Buddha Dharma) dalam praktiknya. Terbuai dalam keserakahan kenikmatan hidup sehingga melakukan karma buruk, akibatnya terperosok ke dalam tiga alam penderitaan selama kalpa tak terhitung. Setelah terbebas dari alam neraka, terlahir kembali di alam manusia dengan kondisi miskin dan hina. Jika tidak berjumpa dengan kalyanamitra, akan terperosok lagi ke dalam neraka. Demikianlah terus menerus bertumimbal lahir seperti itu hingga masa ini, semua orang mengalami hal yang sama seperti itu. Ini dinamakan Jalan Sulit Ditempuh.
Sebab itu, Vimalakirti Nirdesa Sutra mengatakan: “Tidak mampu mengobati penyakit diri sendiri, bagaimana dapat mengobati penyakit orang lain?”
Mahaprajna Paramita Sastra juga menyebutkan, ibarat ada dua orang, masing-masing memiliki saudara yang terjatuh ke dalam sungai. Salah seorang tanpa berpikir panjang langsung melompat ke dalam sungai untuk menolong saudaranya, tetapi karena diri sendiri tidak bisa berenang, juga tidak ada cara lain yang praktis efektif, maka akhirnya ia mati tenggelam bersama saudaranya. Sedangkan satu orang lainnya memiliki cara praktis efektif, ia menggunakan perahu untuk menolong saudaranya, alhasil keduanya selamat dari bahaya tenggelam. Demikian pula Bodhisattva pemula yang mengembangkan ikrar bodhicitta, jika belum memiliki kekuatan ksanti, tidak akan mampu menolong para makhluk hidup. Sebab itu harus selalu berada di sisi Buddha, setelah mencapai anutpattika dharma ksanti, barulah dapat menolong makhluk hidup, bagaikan orang yang mendapatkan perahu.
Mahaprajna Paramita Sastra lebih lanjut menyebutkan, ibarat jabang bayi yang tidak bisa meninggalkan ibunya, jika meninggalkan ibunya, atau terjatuh ke dalam lubang sumur, ia akan meninggal karena tidak mendapat air susu. Pun ibarat anak burung yang sayapnya belum tumbuh, hanya bisa menggantungkan diri pada dahan pohon, tidak bisa terbang ke tempat yang jauh. Setelah sayapnya tumbuh kuat barulah bisa terbang bebas di udara.
Makhluk awam tidak mempunyai kekuatan, hanya dengan cara sepenuh hati melafalkan nama Buddha Amitabha hingga mencapai Samadhi Nianfo (Buddhanusmrti Samadhi). Dengan terpenuhinya semua kondisi, saat menjelang ajal berfokus melafalkan nama Amitabha, tidak diragukan lagi pasti akan terlahir di Tanah Murni. Bertemu dengan Buddha Amitabha dan mencapai anutpattika dharma ksanti, setelah itu kembali lagi ke Alam Triloka dengan perahu anutpattika dharma ksanti untuk menolong makhluk hidup yang menderita dan melakukan tugas-tugas Buddha secara leluasa.
Sebab itu Mahaprajna Paramita Sastra mengatakan: “Bebas keluar masuk neraka, praktisi yang terlahir di alam itu telah mencapai anutpattika dharma ksanti, lalu masuk kembali ke alam samsara untuk menolong para makhluk hidup yang menderita di alam neraka.”
Oleh karena kondisi inilah, hendaknya berikrar terlahir di Tanah Murni. Semoga memahami makna ajaran ini. Sebab itulah, Dasabhumika Vibhasa Sastra menyebutnya sebagai Jalan Mudah Ditempuh.

Keraguan Kedua
Tanya:
Hakikat segala fenomena dharma adalah kekosongan, pada dasarnya tidak dilahirkan, bersifat setara dan keheningan absolut. Kini malah mengabaikan dunia ini dan berikrar terlahir di alam lain, yaitu Tanah Murni Buddha Amitabha, tidakkah ini bertentangan dengan ajaran Buddha? Selain itu, Sutra juga mengatakan: “Jika berikrar terlahir di Tanah Murni, hendaknya memurnikan pikiran diri sendiri terlebih dahulu. Karena pikiran menjadi murni, maka Tanah Buddhanya menjadi Tanah Murni.” Sebab itu, berikrar terlahir di alam Tanah Murni, bagaimana menjelaskannya?

Jawab:
Ada dua penjelasan untuk hal ini. Pertama adalah jawaban umum. Kedua adalah jawaban khusus. Jawaban umum adalah jika Anda mengatakan bahwa keinginan terlahir di Tanah Murni Buddha Amitabha, berarti mengabaikan dunia ini dan berikrar terlahir di alam itu, hal ini tidak sesuai dengan prinsip Jalan Tengah. Jika Anda bersikeras menetap di dunia ini dan tidak ingin terlahir di Tanah Murni, ini juga berarti mengabaikan alam itu dan melekat pada dunia ini, suatu permasalahan yang sama [dengan yang Anda sebutkan di atas], tidak sesuai dengan prinsip Jalan Tengah. Kemudian berkelit lagi dengan mengatakan bahwa saya tidak ingin terlahir di alam itu, juga tidak ingin terlahir di dunia ini, ini adalah pandangan nihilis.
Oleh karena itu, Sutra Intan (Vajracchedika Prajnaparamita Sutra) mengatakan, “Oh Subhuti, jika kamu berpikir bahwa orang yang mengembangkan Anuttara Samyaksambodhi mengatakan semua fenomena dharma bersifat nihilis, janganlah berpikir demikian, mengapa? Orang yang mengembangkan bodhicitta tidak mengatakan pandangan nihilis.”
Jawaban kedua adalah jawaban khusus, mengenai konsep tidak lahir maupun tidak musnah. Dalam kondisi munculnya kelahiran, itu dikarenakan adanya perpaduan berbagai unsur, tidak memiliki inti yang kekal. Mencari inti sejati dari yang lahir itu, juga tidak akan mendapatkannya. Kelahiran tidak berasal dari manapun, sebab itu disebut sebagai tidak terlahir. Kemudian yang disebut dengan tidak musnah, saat unsur-unsur yang berpadu itu tercerai berai, juga tidak ada inti yang kekal yang mengatakan bahwa saya musnah. Ketika musnah, tidak menuju ke manapun, sebab itu disebut sebagai tidak musnah. Oleh karena itu, selain terlahir karena unsur sebab dan kondisi, tidaklah terdapat hal yang disebut sebagai tidak lahir dan tidak musnah. Pun tidaklah dapat mengatakan bahwa tidak ingin terlahir di Tanah Murni disebut sebagai tidak terlahir.
Sebab itu, Madhyamika Sastra mengatakan: “Semua fenomena dharma yang lahir dari proses sebab dan kondisi itu, Kukatakan itu adalah bersifat kekosongan, juga disebut sebagai nama palsu, disebut pula sebagai makna sejati Jalan Tengah.”
Juga dikatakan, “Semua fenomena dharma bukan dilahirkan dari internal diri sendiri, juga tidak lahir dari hal-hal eksternal di luar diri, juga bukan lahir dari gabungan internal dan eksternal, bukan pula lahir dari tanpa sebab, oleh karena itu dapat diketahui bahwa semua fenomena dharma tidak dilahirkan.”
Vimalakirti Nirdesa Sutra juga mengatakan, “Meskipun tahu bahwa semua Tanah Buddha dan makhluk hidup bersifat kekosongan, namun selalu mempraktikkan Tanah Murni, mengajar dan membimbing para makhluk hidup.”
Juga dikatakan, “Ibarat orang yang ingin mendirikan bangunan istana, jika membangunnya di sebuah lahan yang terbuka, maka akan dapat membangunnya sesuai kehendak tanpa rintangan. Seandainya ingin membangunnya di langit kosong, selamanya tidak akan berhasil.”
Ketika membabarkan Dharma, para Buddha sering menggunakan dua prinsip kebenaran (kebenaran absolut dan kebenaran relatif). Meminjam nama palsu untuk menjelaskan realitas sejati dari semua fenomena dharma. Orang bijak berhasrat terlahir di Tanah Murni, memahami bahwa tidak ada inti sejati di dalam yang “lahir” itu, inilah yang baru benar-benar disebut “tidak terlahir”, inilah yang disebut dengan karena pikiran menjadi murni maka Tanah Buddha menjadi Tanah Murni. Sedangkan orang bodoh selalu dibelenggu oleh istilah “lahir”, mendengar istilah “lahir” lalu menganggapnya benar-benar ada kelahiran, saat mendengar kata “tidak terlahir” maka akan menganggapnya benar-benar tidak ada kelahiran, tidak mengetahui bahwa “lahir” adalah “tidak terlahir”, “tidak terlahir” adalah “lahir”. Karena tidak memahami konsep ini, lalu mencuatkan banyak pandangan tidak benar, bahkan kemudian mencela orang yang berikrar terlahir di Tanah Murni. Sungguh sebuah kesalahan yang sangat parah. Orang-orang ini adalah pelaku karma buruk yang memfitnah Buddha Dharma, adalah penganut Jalan Luar yang berpandangan sesat.

Keraguan Ketiga:
Tanya:
Hakikat Dharma para Buddha di sepuluh penjuru dan semua Tanah Murni adalah kesetaraan tanpa perbedaan, demikian pula dengan jasa kebajikan (para Buddha). Seorang praktisi semestinya mengingat semua jasa kebajikan untuk terlahir di semua Tanah Murni, namun sekarang hanya berikrar terlahir di satu Tanah Murni Buddha Amitabha saja. Ini bertentangan dengan sifat kesetaraan dari hakikat sejati. Mengapa hanya berikrar terlahir di Tanah Murni?

Jawab:
Semua Buddha dan Tanah Murni memang benar bersifat setara tanpa perbedaan. Namun karena akar kebijaksanaan para makhluk hidup itu tumpul, sedangkan yang berpikiran kotor dan kacau berjumlah lebih banyak, jika tidak berfokus sepenuh hati pada satu objek tertentu, maka akan sulit mencapai Samadhi. Sepenuh hati melafalkan nama Buddha Amitabha adalah samadhi eka laksana (samadhi wujud tunggal). Dengan terfokusnya pikiran, maka akan terlahir di Tanah Murni tersebut.
Seperti yang tertulis dalam Sui Yuan Wang Sheng Jing (Sutra Kelahiran Sesuai Ikrar), Bodhisatva Pu Guang bertanya pada Buddha, “Di sepuluh penjuru terdapat Tanah Murni, mengapa Bhagava hanya memuji Tanah Murni Buddha Amitabha, hanya menganjurkan untuk terlahir di Tanah Murni tersebut?”
Buddha berkata kepada Bodhisatva Pu Guang, “Para makhluk hidup di Jambudvipa banyak yang berpikiran kotor dan kacau, sebab itu hanya memuji satu Tanah Murni Buddha Amitabha agar para makhluk hidup dapat berfokus pada satu objek, dengan demikian akan lebih mudah terlahir di Tanah Murni. Jika berfokus pada semua Buddha, objek perenungan pada para Buddha ini sangatlah luas, pikiran akan menjadi buyar tidak terfokus, sulit mencapai kondisi samadhi eka laksana, akibatnya menjadi tidak dapat terlahir di Tanah Murni.”
“Selain itu, kebajikan moralitas merenungkan satu Buddha adalah setara dengan kebajikan moralitas merenungkan semua Buddha, karena semua Buddha memiliki hakikat dharma yang sama. Oleh sebab itu, melafalkan nama Buddha Amitabha berarti melafalkan nama semua Buddha. Terlahir di satu Tanah Murni Buddha berarti terlahir di seluruh Tanah Murni Buddha.”
Sebab itulah Avatamsaka Sutra mengatakan, “Tubuh Dharmakaya semua Buddha adalah tubuh Dharmakaya satu Buddha. Batin, kebijaksanaan, sepuluh kekuatan agung (dasa balani), serta empat jenis ketakgentaran (catvari vaisaradyani) yang dimiliki satu Buddha adalah tak berbeda dengan yang dimiliki semua Buddha.”
Kemudian juga disebutkan, “Ibarat bulan purnama yang terang merefleksikan bayangannya di seluruh permukaan air. Meskipun jumlah bayangan tersebut tidak terhingga banyaknya, namun bulan yang sebenarnya tidak pernah menjadi lebih dari satu. Demikian juga kebijaksanaan tanpa rintangan Pencerahan Sempurna, dapat bermanifestasi di seluruh Tanah Buddha, namun tubuh Dharmakaya Buddha adalah satu adanya.”
Orang bijak bisa memahami makna sebuah perumpamaan. Jika orang bijak paham bahwa semua bayangan bulan adalah bayangan dari sebuah bulan yang sama, pun satu bayangan bulan itu sama dengan semua bayangan bulan yang ada. Bulan dan bayangan bulan adalah satu adanya. Jadi satu Buddha adalah sama dengan semua Buddha, semua Buddha adalah sama dengan satu Buddha. Tubuh Dharmakaya adalah satu adanya. Sebab itu, ketika pikiran berfokus pada satu Buddha, itu sama dengan berfokus pada semua Buddha.

Keraguan Keempat
Tanya:
Melafalkan nama Buddha dan berikrar terlahir di Tanah Murni manapun adalah sama saja, lantas di sepuluh penjuru terdapat banyak Tanah Buddha, kita bisa bebas memilih melafalkan salah satu nama Buddha dan terlahir di Tanah Murni Buddha tersebut, mengapa diharuskan hanya melafalkan nama Buddha Amitabha saja?

Jawab:
Makhluk awam tidak memiliki kebijaksanaan, sehingga tidak berani melafalkan nama Buddha sekehendak hatinya. Hanya berani mematuhi ucapan Buddha, sebab itu hanya melafalkan nama Buddha Amitabha. Mengapa mematuhi ucapan Buddha? Buddha Sakyamuni sepanjang hidup membabarkan Dharma, kesemuanya adalah ajaran suci, khusus menasihati para makhluk hidup untuk sepenuh hati melafalkan nama Buddha Amitabha dan berikrar terlahir di Alam Barat Sukhavati. Seperti yang tercantum dalam Maha Sukhavativyuha Sutra, Amitayur Dhyana Sutra, Sukhavativyuhopadesa dan lainnya yang berjumlah lebih dari sepuluh Sutra dan Sastra, kesemuanya membimbing, mengajarkan dan menasihati untuk terlahir di Alam Barat, sebab itulah hanya melafalkan nama Buddha Amitabha. Selain itu, Buddha Amitabha secara khusus mengembangkan 48 Ikrar Welas Asih Agung membimbing dan menyambut para makhluk hidup terlahir di Tanah Murni.
Amitayur Dhyana Sutra juga mengatakan, “Buddha Amitabha memiliki 84.000 wujud, setiap wujud memiliki 84.000 ciri agung, setiap ciri agung memancarkan 84.000 cahaya yang menerangi seluruh alam semesta, mendekap dan melindungi para makhluk hidup yang melafalkan nama Buddha. Sebab itu, jika ada yang melafalkan nama Buddha dengan sepenuh hati akan mendapat penggenapan, pasti terlahir di Tanah Murni Sukhavati.”
Amitabha Sutra, Amitayur Sutra dan Divyadundubhi Meghanirghosa Dharani Sutra (GuYin Wang Tuo Luo Ni Jing) juga mengatakan, “Ketika Buddha Sakyamuni membabarkan Sutra tentang Tanah Murni, para Buddha di sepuluh penjuru yang jumlahnya bagaikan butiran pasir Sungai Gangga, kesemuanya mengeluarkan lidah menutupi seluruh alam tiga ribu maha ribu sebagai pembuktian bahwa semua makhluk hidup yang melafalkan nama Buddha Amitabha, berlandaskan kekuatan ikrar welas asih agung Buddha dan ikrar diri sendiri, pasti akan terlahir di Alam Sukhavati.”
Perlu diketahui bahwa Buddha Amitabha sangat berjodoh dengan dunia ini. Dari mana tahu hal ini? Amitayur Sutra mengatakan, “Ketika Dharma musnah di masa Dharma Akhir, hanya Sutra ini yang akan bertahan lebih lama 100 tahun di dunia, membimbing dan menyambut para makhluk hidup terlahir di alam tersebut.” Sebab itu, dapat diketahui bahwa Buddha Amitabha sangat berjodoh dengan makhluk hidup yang sangat sulit dibimbing di dunia ini. Sedangkan nama-nama Buddha dan semua Tanah Buddha yang lain, meski satu dan dua Sutra juga menasihati untuk terlahir di Tanah Buddha bersangkutan, namun itu hanya sekilas saja. Berbeda dengan Tanah Buddha Amitabha, banyak Sutra dan Sastra dengan setulus hati menasihati para makhluk hidup untuk terlahir di alam tersebut.

Keraguan Kelima
Tanya:
Makhluk awam terbelenggu karma buruk yang tebal dan berat, segala noda batin belum terkikis sedikit pun, sedangkan Tanah Murni Barat berada di luar Alam Triloka, bagaimanakah para makhluk awam yang terbelenggu bisa terlahir di Tanah Murni tersebut?

Jawab:
Ada dua faktor, pertama adalah mengandalkan kekuatan diri sendiri, kedua adalah bersandar pada kekuatan pihak lain. Kekuatan diri sendiri adalah berlatih diri di dunia ini, namun tidak dapat terlahir di Tanah Murni. Sebab itu, Bodhisattva Keyura Sutra mengatakan, “Bermula dari makhluk awam yang terbelenggu, tidak mengenal Triratna, tidak mengerti akan hubungan hukum sebab akibat karma baik dan buruk, lalu mulai mengembangkan ikrar bodhicitta. Berlandaskan keyakinan berdiam dalam keluarga Buddhis, berlandaskan sila menerima Sila Bodhisattva. Demikian selanjutnya dalam kehidupan demi kehidupan perbuatannya tidak melanggar sila, setelah satu kalpa, dua kalpa, tiga kalpa, baru mencapai tingkatan Pengembangan Bodhicitta – tingkatan pertama dari Dasa Bhumika. Demikianlah terus berlatih menerapkan Dasa Sraddha (Sepuluh Keyakinan), Dasa Paramita, berbagai ikrar dan praktik yang tak terhingga banyaknya, terus berlatih tiada henti hingga genap 10.000 kalpa, saat itu baru mencapai tahap Pikiran Benar – tingkatan keenam dari Dasa Bhumika. Jika giat berlatih terus, akan mencapai tingkatan ketujuh – Tidak Merosot, yakni suatu tingkatan Penanaman Benih Kebuddhaan (Gotra).” Inilah gambaran singkat mengandalkan kekuatan diri sendiri, namun masih belum mampu terlahir di Tanah Murni.
Kekuatan pihak lain adalah jika yakin bahwa kekuatan ikrar welas asih agung Buddha Amitabha melindungi para makhluk hidup yang melafalkan nama Buddha, lalu berkenan mengembangkan bodhicitta dan mempraktikkan Buddhanusmrti Samadhi, serta merasa jijik terhadap Alam Triloka sehingga ingin meninggalkannya. Melakukan praktik dana, sila dan menanam di ladang kebahagiaan, lalu melimpahkan jasa dari setiap kebajikan itu agar dapat terlahir di Tanah Murni Buddha Amitabha, demikianlah mengandalkan perpaduan sinergis kekuatan ikrar Buddha dan kekuatan konsentrasi diri sendiri sehingga terlahir di Tanah Murni.
Sebab itu, Dasabhumika Vibhasa Sastra mengatakan, “Di dunia ini terdapat dua macam metode praktik, pertama adalah Jalan Sulit Ditempuh, kedua adalah Jalan Mudah Ditempuh. Jalan Sulit Ditempuh adalah berlatih di dunia lima kekeruhan harus melalui masa-masa munculnya para Buddha yang tak terhingga banyaknya, untuk mencapai Avaivartika (makhluk yang tingkat kesuciannya tidak akan merosot lagi) adalah sangat sulit.”
Kesulitan ini tidak akan ada habisnya dibicarakan dalam kurun waktu kalpa asamkya yang tak terhingga, untuk singkatnya kita bicarakan beberapa contoh. Satu, terpengaruh ajaran luar (tirtika) yang terlihat bajik di luarnya, akibatnya mengacaukan metode praktik Bodhisattva. Dua, orang jahat tidak bertanggung jawab merusak pelatihan suci orang lain. Tiga, menyalahgunakan buah karma baik yang berakibat melanggar praktik suci. Empat, menjadi Sravaka yang mementingkan diri sendiri menghambat praktik welas asih agung. Lima, hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri, tanpa bantuan kekuatan pihak lain. Ibarat orang pincang, sehari hanya dapat berjalan sejauh beberapa li, itupun juga sangat menderita. Inilah yang disebut mengandalkan kekuatan diri sendiri.
Jalan Mudah Ditempuh adalah yakin pada ucapan Buddha, berlatih Buddhanusmrti Samadhi dan berikrar terlahir di Tanah Murni. Mengandalkan perlindungan kekuatan ikrar Buddha pasti akan terlahir di Tanah Murni, ini tidak diragukan lagi. Ibarat orang yang melakukan perjalanan laut, dengan memanfaatkan tenaga kapal dapat menempuh ribuan li dalam sekejap, inilah yang disebut mengandalkan kekuatan pihak lain. Ibarat orang awam yang mengikuti Raja Cakravartin, sehari semalam dapat mengelilingi dunia, ini bukan karena kekuatan dirinya sendiri, melainkan kekuatan Raja Cakravartin.
Jika mengatakan bahwa orang awam yang masih memiliki kebocoran batin tidak dapat terlahir di Tanah Murni, berarti orang awam yang masih memiliki kebocoran batin juga seharusnya tidak dapat melihat tubuh Buddha. Buddhanusmrti Samadhi adalah hasil pengembangan dari akar kebajikan yang murni (tanpa kebocoran). Orang awam yang masih memiliki kebocoran batin, seiring dengan tingkatan pelatihannya maka dapat melihat Buddha dalam wujud yang kasar, sedangkan Bodhisattva dapat melihat Buddha dalam wujud yang sangat jelas.
Demikian juga dengan Tanah Murni, meski berasal dari akar kebajikan yang murni, namun selama orang awam yang masih memiliki kebocoran batin mengembangkan bodhicitta tertinggi, berikrar terlahir di Tanah Murni, pun karena sering melafalkan nama Buddha maka dapat menaklukkan dan memusnahkan noda batin sehingga mampu terlahir di Tanah Murni. Sesuai dengan tingkatan kebajikan masing-masing dapat melihat Buddha dalam wujud kasar, sedangkan Bodhisattva melihat Buddha dalam wujud sangat jelas. Apa yang masih diragukan?
Sebab itu, Avatamsaka Sutra mengatakan, “Semua Tanah Buddha bersifat setara, agung dan murni. Hanya saja karena perbedaan karma dan tingkatan pelatihan para makhluk hidup, maka yang terlihat pun tidaklah sama.” Inilah maksudnya.

Keraguan Keenam
Tanya:
Seandainya makhluk hidup yang masih terbelenggu (oleh kekotoran batin) benar-benar dapat terlahir di Tanah Murni Buddha Amitabha, namun karena pandangan sesat dan tiga racun (keserakahan, kebencian, kebodohan batin) masih sering muncul, lalu bagaimana mungkin setelah terlahir di sana dapat mencapai tahap Avairvatika yang tidak akan mengalami kemerosotan dan melampaui Alam Triloka?

Jawab:
Ada lima faktor yang menyebabkan makhluk yang terlahir di Tanah Murni Buddha Amitabha dapat mencapai tahap Avairvatika. Apakah lima faktor itu ? Satu, perlindungan dari kekuatan ikrar welas asih agung Buddha Amitabha sehingga dapat mencapai tahap Avairvatika. Dua, karena selalu dalam pancaran cahaya Buddha maka batin pencerahannya akan terus berkembang tanpa mengalami kemerosotan. Tiga, baik air kolam, burung, pepohonan, suara angin maupun musik surgawi di Tanah Murni Amitabha terus mengumandangkan Dharma tentang penderitaan (dukkha) dan kekosongan (sunyata). Dalam batin para makhluk yang mendengarnya akan selalu muncul perenungan pada Buddha, Dharma dan Sangha, dengan demikian tidak akan mengalami kemerosotan. Empat, di Tanah Murni hanya terdapat para Bodhisatva yang menjadi satu-satunya teman bajik, sebuah tempat tanpa kondisi melakukan kejahatan. Secara eksternal tidak terdapat godaan mara dan hantu jahat, secara internal tidak ada pikiran tentang tiga racun, sehingga bentuk-bentuk noda batin tidak pernah muncul, dengan demikian tidak akan mengalami kemerosotan. Lima, terlahir di Tanah Murni Buddha Amitabha akan memiliki usia yang tidak terbatas, sama seperti para Buddha dan Bodhisattva, dengan demikian tidak akan mengalami kemerosotan.
Sedangkan dalam dunia yang kotor ini batas usia sangatlah pendek. Di Tanah Murni, dalam waktu kalpa asamkya yang tak terhingga tidak muncul berbagai bentuk kekotoran batin, berlatih diri dalam masa waktu yang demikian panjang ini, mana mungkin tidak mencapai anutpattika dharma ksanti? Prinsip ini sudah sangat jelas dan nyata, tidak ada yang perlu diragukan.

Keraguan Ketujuh
Tanya:
Bodhisattva Maitreya adalah calon Buddha yang akan mencapai Kebuddhaan dalam satu kelahiran lagi. Mereka yang berlatih Sepuluh Kebajikan tingkat tinggi (Dasa Kusala Karmani Bodhisattva), akan terlahir di Alam Tusita dan bertemu dengan Bodhisattva Maitreya, kemudian akan mengikutiNya untuk terlahir kembali ke dunia ini, lalu dengan sendirinya akan mencapai kesucian dalam Tiga Persamuan di Pohon Naga Puspa (Long Hua San Hui). Mengapa harus berikrar terlahir di Tanah Murni Sukhavati?

Jawab:
Berdasarkan ikrar dan terlahir di Alam Tusita, dalam satu hari akan dapat mendengar Dharma dan melihat Buddha. Secara garis besar hampir sama kondisinya dengan terlahir di Tanah Murni, tetapi jika dibandingkan dengan cermat akan terlihat jelas perbedaannya. Sekarang kita bicarakan dua macam perbedaan itu.
Pertama, meski telah mempraktikkan Sepuluh Kebajikan, belum tentu bisa terlahir di Surga Tusita. Mengapa demikian? Sutra Kenaikan Maitreya [ke Surga Tusita] mengatakan, “Mempraktikkan berbagai macam samadhi, memasuki kondisi Samadhi Benar yang dalam, baru bisa terlahir.” Selain itu, tidak ada konsep tentang penyambutan yang praktis [dari Maitreya] kepada para makhluk hidup. Tidak sebanding dengan kekuatan ikrar dan kekuatan cahaya Buddha Amitabha yang melindungi dan tidak meninggalkan para makhluk hidup yang melafalkan nama Buddha. Selain itu, Buddha Sakyamuni juga membabarkan tentang penyambutan praktis dari Tanah Murni Sukhavati yang terdiri atas sembilan jenjang teratai dan setulus hati menganjurkan para makhluk hidup untuk terlahir di sana. Selama para makhluk hidup melafalkan nama Buddha, dengan adanya perpaduan sinergis kekuatan diri sendiri dan kekuatan Buddha, pasti akan terlahir di Tanah Murni. Ibarat dua orang di dunia ini yang saling merindukan, saat kesempatan telah muncul, pertemuan akan terwujud.
Yang kedua, Surga Tusita termasuk Alam Nafsu, sangat banyak jumlah para praktisi yang mengalami kemerosotan. Tidak ada air kolam, burung, pepohonan, suara angin maupun musik surgawi yang membuat para makhluk hidup yang mendengarnya akan selalu teringat pada Buddha, mengembangkan ikrar bodhicitta dan memusnahkan noda batin. Selain itu, ada dewi yang bisa membangkitkan lima jenis nafsu keinginan para dewa di tempat itu. Terlebih lagi, para dewi itu berparas sangat cantik yang bisa menyebabkan para dewa terlena dalam kenikmatan. Sebab itu, Alam Tusita tidak lebih baik dibanding Tanah Murni Sukhavati dengan air kolam, burung, pepohonan, suara angin maupun musik surgawinya yang bisa membuat para makhluk hidup yang mendengarnya akan selalu teringat pada Buddha, mengembangkan ikrar bodhicitta dan memusnahkan noda batin. Juga tidak terdapat wanita dan makhluk dengan pemikiran Sravaka dan Pratyeka, hanya ada teman bajik praktisi Mahayana yang suci. Sebab itu, dalam pikiran para makhluk di Tanah Murni Sukhavati tidak akan pernah muncul noda batin dan karma buruk hingga akhirnya mencapai tingkatan anutpattika dharma ksanti. Dengan perbandingan ini maka jelaslah sudah mana yang lebih baik, mengapa masih ragu?
Pada masa kehidupan Buddha Sakyamuni di dunia ini, para makhluk yang melihat Buddha namun tidak mencapai tingkat kesucian, jumlahnya bagaikan butiran pasir Sungai Gangga. Demikian juga kelak ketika Maitreya terlahir ke dunia ini, akan banyak sekali makhluk hidup yang masih belum mencapai kesucian. Tidak sebanding dengan Tanah Murni Buddha Amitabha, asalkan terlahir di alam itu, semuanya akan mencapai anutpattika dharma ksanti, tidak ada satu pun yang terperosok kembali ke Alam Triloka dan terbelenggu oleh samsara.
Selain itu, ada sebuah kisah dari India. Ada tiga orang Bodhisattva, yaitu Asanga, Vasubandhu dan Simhabodhi. Mereka berikrar untuk bersama-sama terlahir di Alam Tusita bertemu dengan Maitreya, lalu berjanji bahwa siapa pun yang terlebih dulu meninggal dan melihat Maitreya, harus kembali ke dunia ini untuk memberikan kabar. Simhabodhi meninggal paling awal, namun setelah bertahun-tahun ia tidak kunjung kembali. Selanjutnya adalah Vasubandhu, ketika mendekati ajal Asanga berkata kepadanya, “Kalau kamu melihat Maitreya, segeralah kembali memberitahuku.” Namun, Vasubandhu baru kembali setelah berselang tiga tahun lamanya.
Asanga bertanya, “Mengapa sekian lama baru kembali?”
Vasubandhu menjawab, “Setiba di Surga Tusita, aku mendengar Bodhisattva Maitreya sedang duduk membabarkan Dharma. Setelah memberikan penghormatan dengan berkeliling sekali, aku langsung kembali ke sini. Karena perbedaan waktu yang panjang di alam dewa, maka di sini sudah berselang tiga tahun.”
Asanga bertanya lagi, “Di manakah Simhabodhi sekarang?”
Vasubandhu menjawab, “Simhabodhi menikmati kesenangan surgawi, terbuai dalam kenikmatan lima nafsu keinginan. Dia hanya bisa menjadi kerabat luar Bodhisattva Maitreya. Sejak kedatangannya hingga sekarang masih belum berjodoh untuk bisa melihat Bodhisattva Maitreya.”
Bodhisattva tingkat rendah yang terlahir di Alam Tusita masih tergoda oleh kenikmatan lima nafsu keinginan, apalagi makhluk awam? Sebab itu, marilah berikrar untuk terlahir di Alam Barat Tanah Murni yang dipastikan tidak mengalami kemerosotan, jangan mendambakan kelahiran di Surga Tusita.

Keraguan Kedelapan
Tanya:
Sejak masa yang tak berawal, para makhluk hidup telah banyak melakukan karma buruk. Jika dalam kehidupan ini tidak bertemu dengan teman bajik, maka akan kembali melakukan karma buruk. Tidak ada karma buruk yang tidak dilakukan. Lalu, mengapa saat menjelang ajal dengan melafalkan nama Buddha sebanyak sepuluh kali dapat terlahir di Tanah Murni yang melampaui Alam Triloka, bagaimana menjelaskan hal ini dipandang dari sudut hukum sebab akibat?

Jawab:
Sejak masa yang tak berawal, jumlah dan bobot karma baik buruk yang dilakukan para makhluk hidup tidak dapat diketahui secara pasti. Namun ketika menjelang ajal dapat berjumpa dengan teman bajik yang mengajarkan pelafalan nama Buddha sebanyak sepuluh kali dan akhirnya berhasil terlahir di Tanah Murni, hal ini terjadi karena adanya kekuatan karma baik di kehidupan masa lalu yang sangat kuat sehingga dapat berjumpa dengan teman bajik yang mengajarkan pelafalan nama Buddha sebanyak sepuluh kali dan akhirnya berhasil terlahir di Tanah Murni. Sedangkan bagi orang yang banyak melakukan karma buruk, teman bajik saja tidak mungkin bisa dijumpai, apalagi pelafalan nama Buddha sebanyak sepuluh kali dan berhasil terlahir di Tanah Murni?
Anda menganggap karma buruk yang dilakukan sejak masa tak berawal sebagai bobot yang sangat berat, sedangkan pelafalan nama Buddha menjelang ajal sebagai bobot ringan. Sekarang dengan menggunakan prinsip tiga faktor pembanding, bisa diketahui bahwa faktor karma tidak ditentukan oleh bobot, jangka waktu dan jumlah. Apakah tiga faktor itu? Satu, faktor pikiran. Dua, faktor kondisi. Tiga, faktor keputusan.
Faktor pikiran. Ketika melakukan karma buruk, itu berasal dari pikiran ilusif yang tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah. Orang yang melafalkan nama Buddha, pikiran ini berasal dari teman bajik yang mengajarkan tentang nama dan nilai kebajikan yang bersifat realitas dari Buddha Amitabha. Yang satu bersifat ilusif, yang satu lagi mengandung realitas, mana mungkin bisa membandingkan dua pikiran ini? Ibarat ruangan yang gelap selama puluhan ribu tahun, begitu cahaya matahari menyinarinya, kegelapan itu lenyap seketika. Mana mungkin kegelapan yang telah berlangsung selama puluhan ribu tahun itu tidak bisa lenyap?
Faktor kondisi. Ketika melakukan karma buruk, itu adalah kondisi yang berasal dari pikiran ilusif dan kebodohan batin yang tidak memahami hakikat sejati dari dunia yang ilusif ini. Sedangkan pikiran yang melafalkan nama Buddha adalah kondisi ingin mencapai bodhicitta tertinggi yang muncul setelah mendengar nama dan kebajikan Buddha yang murni dan bersifat realitas. Yang satu bersifat sejati, yang satu lagi bersifat palsu, bagaimana mungkin membandingkannya? Ibarat seseorang yang terkena panah beracun, meski anak panah itu menancap sangat dalam dan racunnya telah meresap ke dalam daging dan tulang, namun ketika mendengar datangnya tambur obat penawar racun, maka orang itu akan segera mencabut anak panah itu dan menghilangkan racunnya. Apakah karena alasan racun itu sudah terlalu merasuk ke dalam daging dan tulang lalu tidak mau mencabut keluar anak panah itu?
Faktor keputusan. Ketika melakukan karma buruk, itu berasal dari pikiran yang memutuskan dalam kurun waktu tertentu masih ingin mengulangi karma buruk yang sama. Ketika melafalkan nama Buddha, itu adalah pikiran yang telah memutuskan untuk terus menerus melafalkan nama Buddha dan jika waktunya tiba segera mengakhiri kehidupan di dunia ini. Karena pikiran bajik ini demikian kuatnya sehingga akan terlahir di Tanah Murni. Ibarat seutas tali yang sangat tebal, perlu tenaga seribu orang untuk dapat memutuskannya, namun seorang anak kecil dengan sebuah pedang yang tajam dapat memutuskannya dalam waktu sekejap saja. Pun ibarat kayu bakar yang ditumpuk selama ribuan tahun, cukup dengan hanya sebuah kobaran api sebesar kacang polong, dalam sekejap akan habis terbakar.
Contoh lain, ibarat seseorang yang seumur hidupnya berlatih Sepuluh Kebajikan, seharusnya dapat terlahir di alam dewa. Namun ketika menjelang ajal, muncul satu pikiran pandangan sesat yang sangat menentukan, maka segera akan terperosok ke Neraka Avici. Karena karma buruk yang bersifat ilusif itu demikian kuatnya, maka dapat menyingkirkan kebajikan yang dilatihnya selama seumur hidup dan menyeretnya terjatuh ke alam penderitaan. Sebab itu, pelafalan nama Buddha yang bersifat realitas yang demikian kuatnya saat menjelang ajal, jika dikatakan karma bajik yang tidak terputus ini tidak dapat menyingkirkan karma buruk sejak masa yang tak berawal dan membawa pada kelahiran di Tanah Murni, ini adalah hal yang tidak benar.
Sutra juga menyebutkan bahwa satu pikiran yang dengan sepenuh hati melafalkan nama Buddha dapat memusnahkan karma buruk samsara sepanjang 8 milyar kalpa. Saat melafalkan nama Buddha, karena demikian kuatnya pikiran itu, maka dapat memusnahkan karma buruk dan pasti terlahir di Tanah Murni. Ini tidak perlu diragukan lagi.
Orang-orang di masa lalu mengatakan bahwa berhasil terlahir di Tanah Murni dari praktik melafalkan nama Buddha sebanyak sepuluh kali merupakan makna Kalantarabhipraya (maksud di waktu lain) [perlu adanya timbunan karma baik di kehidupan masa lalu]. Ini tidaklah benar. Dari mana kita tahu? Mahayana Samgraha Sastra mengatakan, “Hanya dengan adanya ikrar, tanpa praktik sama sekali.” Mahayana Abhidharma Samuccaya Vyakhya mengatakan, “Jika berikrar terlahir di Sukhavati, maka akan terlahir di sana. Jika mendengar nama Buddha Vimala maka akan mencapai Penerangan Sempurna (Anuttara Samyak Sambodhi).” Ini menjelaskan tentang sebab paling awal dan hasil paling akhir, tidak menyinggung soal praktik sama sekali. Jika mengatakan bahwa menjelang ajal melakukan praktik kebajikan yang kuat dengan melafalkan nama Buddha sebanyak sepuluh kali tanpa terputus pasti akan terlahir di Tanah Murni sebagai makna Kalantarabhipraya, ini sungguh kesalahpahaman yang sangat besar. Semoga para praktisi dapat merenungkan hal ini secara mendalam, harus teguh pada keyakinan kita sendiri, jangan percaya pada pandangan lain agar tidak terperosok.

Keraguan Kesembilan
Tanya:
Alam Sukhavati terpisah dengan dunia kita sejauh 10 trilyun Tanah Buddha, dengan cara bagaimana para makhluk awam yang bodoh dan lemah dapat tiba di sana? Sukhavativyuhopadesa mengatakan, “Wanita, tuna daksa (penyandang cacat jasmani), Sravaka dan Pratyeka Buddha tidak terlahir di Tanah Murni.” Dengan adanya ajaran ini maka dapat diketahui bahwa wanita, tuna daksa, Sravaka dan Pratyeka Buddha pastilah tidak bisa terlahir di Tanah Murni.

Jawab:
Bagi para makhluk awam yang hanya memiliki penglihatan mata biasa dan pikiran ilusif yang belum mampu memahami samsara, Sukhavati terpisah dengan dunia kita sejauh 10 trilyun Tanah Buddha. Tetapi bagi makhluk hidup yang telah berhasil dalam pelatihan metode Tanah Murni, pikiran terkonsentrasi menjelang ajal tidak lain adalah pikiran yang berikrar untuk terlahir di Tanah Murni, begitu pikiran itu muncul, saat itulah terlahir di Tanah Murni. Sebab itu, Amitayur Dhyana Sutra mengatakan, “Tanah Buddha Amitabha dengan dunia kita tidak terpisah jauh.” Selain itu, kekuatan karma itu sangat menakjubkan, begitu pikiran ikrar itu muncul pasti akan terlahir di Tanah Murni. Tidak perlu khawatir dengan masalah jarak yang jauh. Lebih lanjut, ibarat orang yang bermimpi, meski tubuhnya ada di atas ranjang, namun kesadaran pikirannya pergi ke tempat lain. Dunia dalam mimpinya tidak berbeda dengan kondisi sehari-hari. Demikianlah terlahir di Tanah Murni itu sama seperti mimpi. Begitu pikiran itu muncul, saat itulah tiba di Tanah Murni. Tidak ada yang perlu diragukan lagi.
Mengenai pernyataan bahwa wanita, tuna daksa, Sravaka dan Pratyeka Buddha tidak dapat terlahir di Tanah Murni, maksudnya adalah bahwa tidak ada lagi wujud wanita, tuna netra, tuna rungu dan tuna wicara bagi yang terlahir di Tanah Murni. Bukan mengatakan bahwa wanita dan tuna daksa di dunia ini tidak bisa terlahir di Tanah Murni. Jika ada yang mengatakan seperti itu, adalah ucapan bodoh yang tidak memahami makna Sutra. Seperti halnya Ratu Vaidehi yang memohon pada Buddha untuk membabarkan ajaran mengenai Tanah Murni. Buddha menegaskan bahwa Ratu dengan 500 orang dayang wanitanya, kesemuanya pasti akan terlahir di Tanah Murni. Sebab itu, asalkan wanita, tuna netra, tuna rungu dan tuna wicara di dunia ini melafalkan nama Buddha, semuanya pasti bisa terlahir di Tanah Murni dan tidak akan lagi berwujud sebagai wanita dan tuna daksa.
Mengenai Sravaka dan Pratyeka Buddha, asalkan kembali ke Jalan Mahayana dan berikrar terlahir di Tanah Murni, setiba di Tanah Murni maka tidak akan lagi memiliki kemelekatan seperti Sravaka dan Pratyeka Buddha. Karena itu, Sukhavativyuhopadesa mengatakan, “Wanita, tuna daksa, Sravaka dan Pratyeka Buddha tidak terlahir di Tanah Murni.” Bukan menyatakan bahwa wanita dan tuna daksa di dunia ini tidak bisa terlahir di Tanah Murni.
Sebab itu, salah satu dari 48 Ikrar Agung Buddha Amitabha dalam Amitayur Sutra mengatakan, “Ketika Aku telah menjadi Buddha, semua wanita di sepuluh penjuru dunia yang melafalkan namaKu, yang tidak senang terlahir sebagai wanita, jika dalam kehidupan selanjutnya setelah meninggal masih terlahir sebagai wanita, Aku tidak akan mencapai Penerangan Sempurna.” Sebab itu, bagi yang terlahir di Tanah Murni, masihkah terlahir sebagai wanita? Hal yang sama juga berlaku bagi tuna daksa.

Keraguan Kesepuluh
Tanya:
Sekarang telah memastikan diri ingin terlahir di Alam Barat Tanah Murni, tetapi tidak tahu bagaimana harus berlatih diri serta dengan benih karma apa agar bisa terlahir di sana? Selain itu, sebagai umat awam yang memiliki istri dan anak, apakah orang yang masih belum memutuskan nafsu seksual dapat terlahir di Tanah Murni?

Jawab:
Mereka yang memastikan diri ingin terlahir di Alam Barat jika menerapkan dua macam praktik pasti akan terlahir di sana. Pertama, praktik perasaan jijik ingin meninggalkan [dunia samsara]. Kedua, praktik gembira berikrar.
Yang dimaksud dengan praktik perasaan jijik ingin meninggalkan [dunia samsara] adalah sejak masa yang tak berawal makhluk hidup telah terbelenggu oleh lima nafsu keinginan sehingga bertumimbal lahir di lima alam kehidupan, mengalami berbagai penderitaan, sebab itu jika tidak muncul perasaan jijik ingin meninggalkan lima nafsu keinginan ini, maka tidak akan pernah bisa terbebas dari penderitaan. Atas dasar inilah harus sering merenungkan betapa tubuh ini penuh dengan nanah, darah, tahi dan air kencing. Seluruh tubuh ini menjijikkan, kotor dan bau.
Sebab itu, Mahaparinirvana Sutra mengatakan: “Tubuh ini ibarat sebuah benteng kota yang dihuni raksasa yang bodoh. Orang bijaksana mana yang menyukai tubuh seperti ini?” Mahaparinirvana Sutra juga mengatakan: “Tubuh ini merupakan kumpulan dari berbagai penderitaan, tidak ada bagian yang bersih, tidak bebas, terbelenggu dan bisa timbul bisul, sedikit pun tidak ada manfaatnya. Bahkan tubuh makhluk alam dewa juga demikian adanya.”
Di kala berjalan, duduk, tidur maupun terjaga, para praktisi hendaknya selalu merenungkan bahwa tubuh ini hanya membawa penderitaan, lalu munculkan perasaan jijik yang mendalam dan bertekad pergi meninggalkannya. Seandainya hubungan suami istri tidak dapat langsung dihentikan, secara berangsur kembangkan perasaan tidak menyukai hal itu dengan berlatih meditasi perenungan tujuh macam kekotoran (Asubha Bhavana).
Satu, visualisasikan bahwa tubuh yang memiliki nafsu seksual ini lahir dari kekotoran batin keserakahan nafsu seksual, inilah yang disebut kekotoran benih.
Dua, tubuh terlahir dari hubungan ayah dan ibu dengan bersatunya merah (ovum) dan putih (sperma), inilah yang disebut kekotoran pembentukan kelahiran.
Tiga, jabang bayi tumbuh berkembang di dalam rahim ibu yang berada di dalam organ tubuh, inilah yang disebut kekotoran tempat tumbuh.
Empat, selama di dalam rahim ibu, satu-satunya makanan adalah darah ibu, inilah yang disebut kekotoran makanan.
Lima, ketika telah tiba waktunya untuk lahir, kepala menghadap leher rahim. Ketika lahir, disertai dengan darah yang bau dan kotor, tempat kelahiran juga berantakan, inilah yang disebut kekotoran waktu lahir.
Enam, seluruh tubuh dibungkus kulit tipis, darah memenuhi seluruh bagian dalam tubuh, inilah yang disebut kekotoran sekujur tubuh.
Tujuh, hingga kemudian setelah meninggal, tubuh membengkak dan membusuk, daging dan tulang berserakan di mana-mana menjadi santapan rubah dan serigala, inilah yang disebut kekotoran mutlak.
Seperti itulah tubuh kita, begitu juga tubuh orang lain. Sebab itu, terhadap nafsu hubungan antara pria dan wanita hendaknya mengembangkan perasaan jijik dan meninggalkannya, serta selalu merenungkan kekotoran tubuh ini. Jika dapat melakukan perenungan tentang kotornya tubuh ini, maka kekotoran batin nafsu seksual akan berangsur-angsur berkurang. Selain itu, dapat juga melakukan sepuluh perenungan seperti yang dikatakan dalam Sutra.
Lebih lanjut, hendaknya mengembangkan ikrar, berikrar aku selamanya meninggalkan Alam Triloka, meninggalkan tubuh pria atau wanita yang memakan makanan tidak karuan, bau, kotor, penuh dengan nanah dan darah tidak bersih, yang terlena dalam lima nafsu keinginan. Berikrar memperoleh tubuh Dharmakaya Tanah Murni. Inilah yang disebut praktik perasaan jijik ingin meninggalkan [dunia samsara].
Yang kedua adalah penjelasan tentang praktik gembira berikrar, yang terbagi atas dua macam. Pertama, terlebih dahulu memahami makna ikrar terlahir di Tanah Murni. Kedua, visualisasikan keagungan Tanah Murni dan dengan hati gembira berikrar terlahir di sana.
Mengenai hal memahami makna ikrar terlahir di Tanah Murni, tujuan berikrar terlahir di Tanah Murni adalah demi membebaskan semua makhluk hidup dari penderitaan. Segera lakukan introspeksi dan sadari bahwa sekarang ini aku belum memiliki kemampuan itu. Jika tetap berada di dunia yang kotor ini dengan kondisi kekotoran batin yang begitu kuat, diri kita akan tercengkeram oleh karma buruk dan terperosok ke tiga alam buruk selama kalpa yang tak terhitung lamanya, demikianlah dari masa tak berawal terus bertumimbal lahir tiada pernah berhenti, kapan bisa menolong makhluk hidup yang menderita?
Sebab itu, berikrar terlahir di Tanah Murni agar dapat berada di sisi para Buddha, jika mencapai anutpattika dharma ksanti, baru mampu menolong para makhluk hidup yang menderita di dunia kotor ini. Sebab itu, Sukhavativyuhopadesa mengatakan: “Yang dimaksud dengan mengembangkan ikrar bodhicitta adalah hati yang berikrar menjadi Buddha. Hati yang berikar menjadi Buddha adalah hati yang menolong makhluk hidup. Hati yang menolong makhluk hidup adalah hati yang mendekap dan melindungi makhluk hidup agar terlahir di Tanah Buddha.”
Berikrar terlahir di Tanah Murni juga harus melakukan dua macam praktik. Pertama, harus menjauhi tiga metode penghambat pintu bodhi. Kedua, harus merealisasikan tiga metode pelancar pintu bodhi.
Apa yang disebut sebagai tiga metode penghambat pintu bodhi?
Satu, bersandar pada pintu kebijaksanaan, tidak mencari kebahagiaan bagi diri sendiri. Sebab itu, menjauhi pikiran serakah menyenangkan diri sendiri.
Dua, bersandar pada pintu welas asih, membebaskan penderitaan semua makhluk hidup. Sebab itu, menjauhi pikiran yang tidak ingin membahagiakan semua makhluk hidup.
Tiga, bersandar pada pintu praktis efektif, harus berbelas kasih dan berkeinginan membahagiakan semua makhluk hidup. Sebab itu, menjauhi pikiran yang mencari penghormatan dan persembahan bagi diri sendiri.
Jika dapat menjauhi tiga metode penghambat pintu bodhi tersebut maka akan dapat merealisasikan tiga metode pelancar pintu bodhi.
Satu, pikiran murni tanpa noda, tidak mencari kebahagiaan bagi diri sendiri. Bodhi adalah kondisi murni tanpa noda, jika mencari kebahagiaan bagi diri sendiri, maka akan mencemari tubuh dan pikiran, pun menghambat pintu bodhi. Sebab itu, pikiran murni tanpa noda adalah pelancar pintu bodhi.
Dua, pikiran murni damai, membebaskan penderitaan semua makhluk hidup. Bodhicitta adalah memberikan kedamaian bagi semua makhluk hidup di dalam kondisi yang tenang dan murni, jika tidak berikrar menolong semua makhluk hidup agar terbebas dari penderitaan samsara, itu bertentangan dengan pintu bodhi. Sebab itu, pikiran murni damai adalah pelancar pintu bodhi.
Tiga, pikiran murni bahagia, berusaha agar semua makhluk hidup mencapai Pencerahan Sempurna Nirvana. Pencerahan Nirvana adalah kondisi kebahagiaan mutlak nan kekal, jika tidak berikrar agar semua makhluk hidup mencapai kondisi kebahagiaan mutlak nan kekal, itu menghalangi pintu bodhi.
Bagaimana agar dapat mencapai bodhi ini? Harus terlahir di Tanah Murni dan selalu berada di sisi Buddha, setelah mencapai anutpattika dharma ksanti, lalu menolong para makhluk hidup menderita di dunia samsara. Welas asih dan kebijaksanaan bersinergis dengan konsentrasi memunculkan kemampuan batin yang bebas tanpa hambatan, inilah bodhicitta. Inilah makna berikar terlahir di Tanah Murni.
Selanjutnya, bagi praktisi praktik gembira berikrar, hendaknya memvisualisasikan kondisi Buddha Amitabha, kondisi Dharmakaya ataupun Samboghakaya. 84.000 wujud di dalam pancaran cahaya emas, setiap wujud memiliki 84.000 ciri agung, setiap ciri agung memancarkan 84.000 cahaya yang selalu menerangi alam semesta serta mendekap dan melindungi semua makhluk hidup yang melafalkan nama Buddha. Lalu visualisasikan keagungan tujuh permata dan suara musik menakjubkan di Tanah Murni. Visualisasi yang lengkap tercantum dalam Amitayur Sutra tentang 16 macam visualisasi. Harus selalu mempraktikkan Buddhanusmrti Samadhi, serta menerapkan dana, sila dan semua praktik kebajikan, lalu melimpahkan semua jasa kebajikan itu bagi semua makhluk hidup agar dapat bersama-sama terlahir di Tanah Murni. Dengan demikian pasti akan terlahir di Tanah Murni. Inilah yang disebut sebagai metode gembira berikrar. via Sinar Dharma