Monthly Archives: August 2019

Sutra Mahakala

Standard

Pada suatu ketika, Tathagata memberitahukan kepada para hadirin, saat ini di pasamuan ini ada Mahabodhisattva.

Yang bernama *Mahalaskmesvaraparipurna Bodhisattva* (大福德自在圓滿菩薩),
Bodhisattva ini telah mencapai Anuttarasamyaksamboddhi dengan nama *Mahamaniraja Tathagata* (大摩尼珠王如來).

Dengan kekuatan keleluasaan Nya, saat ini datang ke dunia saha dengan rupa *Mahakala Deva*.

Kemudian, Mahabodhisattva tersebut bangkit dari tempat duduk Nya beranjali kepada Buddha dan berkata:

*Saya ingin menganugerahkan berkah rejeki kepada para insan yang miskin papa.*

Sekarang hadir dalam rupa upasaka dengan kerabat Tujuh Devimata (Dewi Ibu), mengarungi triloka untuk memberkahi para insan.

Mohon Baghavan membabarkan Dharani Maha Berkah yang sempurna.

Kemudian Baghavan tersenyum dan membabarkan mantra:
*“Namo Samanthabuddhanam. Om Mahakalaya Svaha”*

Kemudian Baghavan memberitahu para hadirin, mantra Dewata ini bahkan tidak pernah dibabarkan oleh para Buddha masa lampau.

Jika para insan yang akan datang di masa penuh *kejahatan*, ada yang diliputi *kemiskinan*, dapat mendengar Dharani ini.

Ketahuilah bahwa orang tersebut memperoleh mutiara Mahamani yang mampu mengeluarkan berbagai barang berharga.

Kemudian Mahakala Dewa memberitahukan kepada Buddha, “Bila ada insan di masa penghujung Dharma, dapat menjapakan mantra ini.”

“Serta memahat (membuat) rupang wujud Ku tiga atau lima kaki (1 kaki Tiongkok = 33,3 cm; 1 kaki Taiwan = 30 cm) maupun 5 inchi (1 inch Tiongkok = 3,3 cm), dipersemayamkan di vihara maupun dipuja di dalam rumah.”

“Saya akan memerintahkan kepada para kerabat, Tujuh Devimata, delapan puluh empat ribu Dewa Rejeki, menjelajahi sepuluh penjuru, supaya setiap hari memberikan persembahan kepada seribu orang.”

“Bila saya berdusta, akan selamanya terjatuh ke alam rendah, tak akan kembali ke Kesadaran Mula (Samboddhi).”

Bila dapat memberikan persembahan dengan berbagai *arak berkualitas* dan *buah-buahan segar dan enak*, akan kuturunkan hujan amrta.

Bagaimana sikap seorang praktisi terhadap malaikat dan setan?

Standard

Petikan Ceramah Master Chin Kung
Judul : Bagaimana sikap seorang praktisi terhadap malaikat dan setan?

Bagaimana sikap kita sebagai praktisi Buddhis dalam memperlakukan malaikat dan setan? Di sini ada sebuah perumpamaan yang dapat kita jadikan teladan.

Pada masa Dinasti Ming, Upasaka Zhou Anshi menulis sebuah buku berjudul “Anshi Quanshu”, buku ini cukup populer. Semasa hidupnya, Upasaka Zhou Anshi setiap kali berjalan melewati depan kelenteng, dia akan memberi penghormatan, lalu memberi ceramah, “Semoga para malaikat membangkitkan niat mengakhiri tumimbal lahir, jangan lagi menerima sesajian daging hewani”, ini menasehati malaikat dan setan supaya bervegetarian, jangan lagi menerima sesajian hewani, tujuannya untuk mengembangkan hati welas asih, “Segenap hati melafal Amituofo berkesinambungan, bertekad terlahir ke Tanah Suci Sukhavati, secepatnya mencapai KeBuddhaan, menyelamatkan para makhluk”.

Zhou Anshi adalah praktisi Buddhis, setiap melewati kelenteng, dia pasti akan memberi ceramah kepada para setan dan malaikat, menasehati para malaikat supaya melafal Amituofo bertekad terlahir ke Tanah Suci Sukhavati, mencapai KeBuddhaan dan menyelamatkan semua makhluk.

Demikian pula kita sebagai siswa Buddha, hendaknya juga berlaku sama dengan Zhou Anshi, begini barulah betul. Atau ketika melewati kelenteng, menasehati para setan dan malaikat supaya mengambil Visudhi Trisarana, berlindung pada Buddha, Dharma dan Sangha, melafal Amituofo bertekad terlahir ke Tanah Suci Sukhavati, mencapai KeBuddhaan dan menyelamatkan para makhluk.

Dipetik dari : Ceramah Master Chin Kung
Judul : Sutra Pertanyaan Ananda Tentang Balasan Baik dan Buruk dari Belajar Buddha Dharma
Serial : 03
Tahun : 1982
Kode Artikel : 15-006-0003

淨空老法師開示節錄 :
學佛的人要以什麼方法來對待鬼神?

然而我們學佛的人究竟要以什麼方法來對待鬼神?這個地方有個例子,可以做為我們的榜樣。從前,明朝時候,崑山周安士居士他著有一本書,叫《安士全書》,在我們台灣也很盛行,我們華藏法施會曾經將這個書印過兩次,贈送給大家,就是《安士全書》。周安士在世的時候,他每過一切神祠,就是神廟,我們經過我們可以到他那裡去看看玩玩,現在講觀光,可以去玩玩。見到神「必祝願曰」,他給他行禮,給他說法,給他說這幾句話,「唯願尊神,發心出世,勿受血食」,這就勸他吃素,不要接受血食,培養慈悲心,「一心常念阿彌陀佛,求生淨土,早成佛道,普度眾生」。周安士是個佛教徒,他經過一切神廟去跟那個神說法,勸那個神念佛求生淨土,成佛度眾生。這應該是每一位佛弟子,遇到鬼神我們都應當這樣的做法,這才是正確的,這才是天人師,也要做鬼神的老師。或者你見到鬼神,你給他講三皈依也可以,勸他皈依佛、皈依法、皈依僧,求生淨土,成佛度生,總是這個意思,常常勸這一切鬼神,勸他皈依三寶。

文摘恭錄 — 阿難問事佛吉凶經  (第三集)  1982  台灣景美華藏圖書館  檔名:15-006-0003

Biksu WU THUNG (Chang Lao)

Standard

Tiga tahun berlalu
9 Agustus 2016 – 9 Agustus 2019

Wu Thung yg berarti ‘menjadi sadar dari ketidaktahuan’ lahir dgn nama Kwa Mon Se pada tahun 1917 di Hing Hwa Tiongkok menjadi samanera saat berusia 17 tahun, menjadi biksu pada umur 21 tahun.

Disiplin, ketekunan dan kejujuran biksu Wu Thung membuatnya dipercaya untuk menjadi Tang cia (kepala rumah tangga wihara) di Wihara Kong Hoa Sie (wihara asal dari suhu Pen Ching, guru dari Biksu Ashin Jinarakkhita).

Pada umur 39 tahun, atas permintaan sesepuhnya ia berangkat ke Indonesia tahun 1956. Sementara tinggal di Bandung 3 bulan, selanjutnya pindah ke Bogor dan menetap 9 tahun, lalu pindah ke Malang dan memimpin wihara di sana selama 27 tahun sebelum pindah ke Batu selama 2 tahun. Akhirnya pindah ke Jln. Tangki di Wihara Vaipulyasasana (Kong Hoa Sie Indonesia) Jakarta selama 3 bulan sebelum menetap di jln. Laotze di Wihara Dharmayuga dan Wihara Buddhayana.

Menurut Mahasthawira Ashin Jinarakkhita, sesepuh biksu di Indonesia, umat perlu bersyukur akan keberadaan Biksu Wu Thung di sini, dan semestinya menggunakan semua kesempatan yang ada untuk belajar darinya. Ia dianggap sebagai biksu yang paling bersahaja dan luar biasa yang pernah beliau jumpai. Jika bertemu, Mahasthawira Ashin Jinarakkhita sendiri akan bersujud di depan kakinya.

Kesederhanaan, disiplin dan kebijakan biksu Wu Thung harus diteladani biksu-biksu muda saat ini.