Monthly Archives: July 2019

Melakukan penyeberangan adalah suatu penyelamatan yang mendalam

Standard

Hari ini kita mendengarkan Bhiksu Lianyue membabarkan ‘Makna Penyeberangan’

【Melakukan penyeberangan adalah suatu penyelamatan yang mendalam】

Penyeberangan, menurut ajaran lanjutan Tantrayana, penyeberangan merupakan suatu penyelamatan yang mendalam dan sungguh bermakna. Biasanya upacara besar yang kita jalankan ini tentu adalah menjalankan suatu penyelamatan, yang berarti suatu penyeberangan luas. Sebenarnya, yang biasa kita kerjakan juga adalah melakukan penyeberangan, dalam sadhana Anda telah muncul fenomena penyeberangan.

Bila kita memikirkan mendiang, yakni orang tua atau keluarga yang telah meninggal, maka ia akan segera muncul, bila Anda menyalakan dupa untuknya, ia juga akan segera datang, hanya Anda sendiri yang tidak tahu; tatkala Anda bersembahyang kepadanya, menyalakan dupa, memikirkan dirinya, sebagian besar akan datang; karena dalam prinsip Tantrayana, bila empat elemen dalam tubuh manusia tercerai berai, kondisi pikiran sangat cepat, yaitu arwahnya sangat peka, sensitif, dan cepat tanggap, boleh dikatakan kondisinya sama seperti saat masih sangat belia.

【Setelah wafat, arwah akan kembali ke kondisi saat masih sangat belia】

Contohnya seorang lansia yang sudah berumur 80 tahun atau 90 tahun lebih wafat, semasa hidupnya ia sudah tidak leluasa berge¬rak, urat saraf pun tidak lincah lagi, bicara juga tidak jelas, telinga juga tidak dapat mendengar; namun setelah wafat empat elemen dalam tubuhnya tercerai berai, ia akan segera kembali ke kondisi belia, yang berarti menjadi berjiwa sangat muda dan sangat mudah menerima, ini adalah suatu fenomena yang aneh.

Dalam ajaran Tantrayana, lansia dalam kondisi bardo, ber¬usia sangat lanjut, tidak leluasa bergerak, ataupun terserang stroke, bicara tidak jelas, tuli, bahkan tidak bisa melihat, setelah wafat, empat elemen tubuhnya akan tercerai berai dan jiwanya akan kembali ke kondisi saat masih sangat belia dan sangat kuat, ia dapat merasakan gelombang otak Anda sedang memanggil dirinya, mengundang dirinya, sehingga ia akan segera hadir.

Oleh sebab itu, penyeberangan yang dilakukan pada saat itu sangat bermakna, tatkala itu ia mendengar panggilan dari keluarga, umpamanya Anda menjapa Sukhavati Vyuha Dharani, melafalkan Nama Buddha, dan menjapa Mantra Pelimpahan Jasa untuknya serta menyembahnya, ini berarti melakukan penyeberangan.

【Meskipun sanak keluarga sudah bereinkarnasi, penyeberangan tetap berpahala】

Selain itu, ada yang bertanya, leluhur sudah terlahir di Sukatiloka, atau sanak keluarga Anda sudah bereinkarnasi, apakah ada gunanya Anda menyeberangkan dirinya? Sebenarnya masalah ini lebih mendalam. Tidak peduli di alam manapun arwahnya berada, ataupun sudah bereinkarnasi atau telah terlahir di Sukavatiloka, ataupun berada satu adi salah satu alam dalam enam alam kehidupan, bila Anda memikirkan cahaya ini, begitu cahaya penyeberangan muncul, akan membawa pahala bagi Anda dan dirinya, membawa pahala bagi orang yang dikenang dan bagi diri sendiri.

Oleh sebab itu, penyeberangan tetap mesti dilakukan meskipun dirinya sudah ditransmisikan, bukan berarti orang tersebut telah tiba di Sukavatiloka, maka kita tidak perlu lagi melakukan penyeberangan; sebenarnya masih terdapat leluhur dalam beberapa generasi, orang tua, leluhur dan sanak keluarga dalam beberapa kehidupan, bahkan bardo yang tidak memiliki hubungan keluarga dengan Anda, juga boleh Anda bantu.

【Sadhaka tidak hanya menyeberangkan orang tua dan sanak keluarga sendiri】

Maka itu, biasanya saat kita menjapa mantra, melafalkan Buddha dan Mantra Pelimpahan Jasa, Anda dapat membantu orang di sekeliling kita, bardo di sekeliling kita, ini adalah rutinitas kita setiap hari, tidak hanya dilakukan pada tanggal 15 bulan 7 penanggalan lunar, tidak demikian; setiap pagi kita melakukan persembahan kepada para dewa dan arwah, para dewa dan arwah ini belum tentu adalah sanak keluarga Anda, seluruh induk setan bukan sanak keluarga Anda, namun Anda sedang mengikat jalinan yang baik, melakukan persembahan dan penyeberangan, menjapa mantra dan melafalkan Buddha, memancarkan cahaya, ini semua adalah kebajikan.

Kewajiban seorang sadhaka adalah mewujudkan makna penyeberangan. Yang dimaksud dengan makna penyeberangan adalah tidak hanya menyeberangkan orang tua dan keluarga sendiri, sanak keluarga jauh bahkan menyelamatkan seluruh penghuni alam bardo, semoga mereka dapat terlepas dari duka dan mendapatkan suka, inilah makna penyeberangan.

Barusan kita ada menjapa Catur Apramana, suka dan sumber suka, duka dan sumber duka, selamanya suka dan tidak duka, Catur Apramana ini tidak hanya dijapa di mulut, namun mesti diwujudkan; Anda membantu umat manusia di dunia ini, baik di dunia maupun di alam bardo, dengan demikian Anda adalah Bodhisattva, Anda memiliki dan mengembangkan benih Bodhicitta, ini adalah sebuah harapan Bodhi yaitu Bodhisattva!

【Menenangkan hati leluhur juga adalah penyeberangan】

Maka itu, penyeberangan itu luas dan tak terbatas, bukan karena tahun ini saya telah melakukan penyeberangan, maka tidak perlu dilakukan lagi, bukan begitu! Setiap hari Anda melakukan pe¬nyeberangan ya! Tatkala timbul karma buruk pada diri Anda, leluhur yang setiap hari mengikuti Anda melihat Anda demikian, ia akan merasa benci, jengkel, dan marah pada Anda. Di sisi Anda, ia sangat marah, hanya saja tidak diketahui oleh Anda.

Seumpama kakak beradik kita yang tidak akur, kakak adik tidak lagi harmonis, saling menuntut di pengadilan, bila orang tua, kakek atau nenek moyang Anda telah meninggal, hal tersebut membuat mereka yang di sana khawatir, hanya saja tidak diketahui oleh Anda; maka itu, saya sering berkata, mengapa menyebabkan orang tua sendiri masuk neraka? Ada kalanya demikian, saya bukan mengatakan diri Anda, tetapi sebagian orang! (Mahaguru tertawa).

Ada sebagian orang menyebabkan orang tua masuk neraka, mengapa bisa masuk neraka? Orang tua atau sanak keluarganya sangat kaya, setelah meninggal, anak-anaknya berkumpul membahas bagaimana membagi warisan ayah, hasilnya? Memukul meja, membalikkan meja, melempar kursi, melempar cangkir, dan saling bertengkar.

Sebenarnya ayahnya sangat senang karena sudah akan ditransmisikan, kembali sebentar dan melihat kondisi yang demikian, tentu langsung marah, melihat anak-anaknya memperebutkan warisannya, tentu saja ia langsung marah, setelah marah langsung masuk ke dalam neraka, berarti anak-anak yang menyebabkan dirinya masuk ke alam neraka.

Oleh sebab itu, tatkala itu, anak yang benar-benar berbakti akan membiarkan orangtuanya merasa tenang, menjapa Sukhavati Vyuha Dharani dan melafalkan Buddha untuknya, sehingga menimbulkan seberkas cahaya terang, cahaya terang diterima oleh mendiang, inilah penyeberangan, dengan demikian mendiang dapat ditransmisikan, bila bertengkar pada saat itu, maka dirinya tidak dapat ditransmisikan.

Maka itu, ini adalah suatu hal yang sangat penting, apa yang dimaksud dengan penyeberangan? Apa makna penyeberangan?

Dalam ajaran Tantrayana diungkapkan dengan jelas, orang yang sudah wafat, jiwanya akan kembali ke kondisi saat masih sangat belia, seiring dengan pikiran sanak keluarga akan berada di sisi sanak keluarga, lalu melihat mereka melakukan upacara ritual un¬tuknya dan memancarkan cahaya terang, ia akan menerima cahaya tersebut sehingga dapat ditransmisikan; bila tidak demikian halnya, Anda menyalahkan dirinya di belakang, ia akan sangat marah, begitu marah habislah dirinya. Oleh sebab itu, yang mencelakakan orang tua sendiri, bukanlah orang lain, melainkan oleh putra putri sendiri.

Maka itu, ini juga sangat penting, kalian camkan baik-baik! Tatkala orang tua menemui ajal, kalian mesti bersikap tenang, damai, banyak melakukan penyeberangan, memancarkan cahaya terang, menuntun mereka ke jalan yang terang, inilah makna penyeberanga yang dibabarkan oleh Bhiksu Lianyue.

Om. Mani Pedmi. Hom.

Kutipan kumpulan karya sastra Sheng-yen Lu ke-40 通靈秘法書

Makna 10 bahan persembahan pada pertobatan Kaisar Liang

Standard

Makna 10 bahan persembahan pada pertobatan Kaisar Liang, yaitu:

*Bahan persembahan Bab I : Dupa*

Artinya: bersarana pada Triratna (Catur-ratna dalam tradisi Tantra), menghentikan keragu-raguan, dan bertobat atas karma buruk. Keyakinan teguh yang tidak bisa dirusak oleh mara-mara dan kesesatan; dapat menyingkirkan penderitaan dari ribuan bahkan berpuluh-puluh ribu kalpa.

*Bahan persembahan Bab II : Bunga*
Artinya: membangkitkan Bodhicitta atau berikrar. Membangkitkan Bodhicitta adalah hati Buddha atau tempat suci; dengan menjalankan ikrar, tugas pun dapat diemban. Jangan menyia-nyiakan waktu, menyesal di kemudian hari tiada gunanya.

*Bahan persembahan Bab III : Pelita*
Artinya: menampakkan buah karma. Bila seseorang melakukan karma buruk, ia akan terjatuh ke tiga alam samsara dan dihukum di sana. Bila ia terlahir menjadi manusia, hidupnya akan menderita. Demikian juga dengan enam alam surga, bila berkah mereka telah habis, mereka juga akan jatuh ke neraka. Setiap makhluk akan menerima akibat dari perbuatannya sendiri, kita hanya bisa berharap Buddha menyinari kita.

*Bahan persembahan Bab IV: Air bersih, amerta, cairan surgawi*
Artinya: jodoh dan buah karma akan memperlihatkan beragam penderitaan di neraka. Dengan bersembah sujud pada Buddha, Bodhisattva, dan para dewa, kita dapat terbebas dari hukuman neraka.

*Bahan persembahan Bab V : Buah-buahan*
Artinya: bebas dari permusuhan. Empat bentuk kelahiran dan enam alam kehidupan terus-menerus bertumimbal lahir, mereka semua menjadi orang tua, guru, kerabat, dan musuh kita dari tiga kehidupan; semua itu tercipta dari perasaan cinta, benci, dendam, dan kemarahan. Itu sebabnya kita berharap semoga Buddha mengasihani kita dan memberikan kita buah karma yang baik.

*Bahan persembahan Bab VI : Obat-obatan, teh*
Artinya: bebas dari sisa permusuhan. Karma dari enam alam kehidupan (dewa, manusia, asura, neraka, setan kelaparan, dan binatang), empat bentuk kelahiran (ovipar, bangsa unggas; vivipar, bangsa mamalia; kelembaban atau kelahiran di air, ulat dan bangsa ikan; dan metamorfosis, dari kepompong hingga ngengat) adalah disebabkan oleh enam indera (mata, hidung, mulut, telinga, lidah, dan tubuh). Kita berharap semoga Buddha Tathagata membebaskan kita dari penderitaan samsara.

*Bahan persembahan Bab VII : Makanan yang enak*
Artinya: merayakan atas karma baik kita sendiri di mana selagi kita masih hidup, kita dapat melakukan pertobatan dan meredam kebencian. Dengan bersarana pada Triratna, kita akan memiliki hati maitri, karuna, samata, kebijaksanaan mulia, ksunyataan, dan keyakinan. Bagi donatur pertobatan, semoga seluruh penguasa langit, dewa, makhluk suci, dewa dan naga, serta makhluk dari enam alam kehidupan di sepuluh penjuru alam semesta memperoleh sumpah agung. Bersembah sujud kepada Buddha demi para makhluk suci, bersembah sujud kepada Buddha demi Raja Brahma.

*Bahan persembahan Bab VIII : Perhiasan dan barang-barang berharga*
Artinya: bersembah sujud kepada Buddha demi semua dewa kebajikan di alam asura, raja naga, raja Mara, raja-raja di alam manusia, para bangsawan, orang tua, orang tua pada kehidupan lampau, guru-guru, sepuluh penjuru bhiksu dan bhiksuni, serta sepuluh penjuru bhiksu dan bhiksuni pada kehidupan lampau.

*Bahan persembahan Bab IX : Kitab Suci*
Artinya: bersembah sujud kepada Buddha demi neraka Avici, neraka-neraka sungai kelabu dan bola besi, neraka senjata dan kapak tembaga, neraka-neraka kota api dan gunung pedang, alam setan kelaparan, dan alam hewan. Bersumpah demi makhluk enam alam kehidupan agar merenungkan ketidakkekalan (anicca), bersembah sujud kepada Buddha dengan gigih dan memberikan penyaluran jasa.

*Bahan persembahan Bab X: Jubah kasaya, kain sulam, pakaian*
Artinya: penyaluran jasa dari bodhisattva (semua akar kebajikan yang telah saya perbuat disalurkan untuk kebaikan seluruh insan). Bertekad melalui indera mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, pikiran, dan mulut. Layaknya para mahabodhisattva.

DELAPAN BELAS PELANGGARAN UTAMA (PARAJJIKA) IKRAR BODHISATTVA

Standard

1. Memuji diri sendiri dan merendahkan orang lain.
2. Tidak memberi harta benda atau Dharma.
3. Menolak permintaan maaf seseorang.
4. Meninggalkan Mahayana.
5. Mengambil milik Triratna.
6. Meninggalkan Dharma.
7. Melepas jubah seseorang.
8. Melakukan lima perbuatan terburuk.
9. Berpandangan salah.
10. Menghancurkan desa atau kota.
11. Menjelaskan sunyata kepada mereka yang mungkin akan salah mengerti.
12. Menyebabkan orang lain meninggalkan Mahayana.
13. Menyebabkan orang lain meninggalkan Pratimoksha.
14. Merendahkan Hinayana.
15. Mengaku telah mencapai realisasi, misalnya sunyata.
16. Menerima sesuatu yang di curi dari Triratna.
17. Membuat peraturan yang menyusahkan.
18. Meninggalkan Bodhicitta.

Kisah Karma : Cucu menikahi Leluhur Perempuan (Nenek)

Standard

因果故事:孫子娶祖母
Kisah Karma : Cucu menikahi Leluhur Perempuan (Nenek)

梁武帝時代,當時有一位高僧叫志公和尚,他有很大的神通。當時佛教興起不久,有一個風俗就是大戶人家有喜事都要請和尚來念經,叫“念吉祥經”,就是希望為這家人求福的意思。
Dizaman Dinasty Kaisar Liang Wu, pada masa itu ada seorang bhiksu bernama Bhiksu Zhi Gong. Dia memiliki kekuatan ilmu bathin yang tinggi. Pada saat itu ajaran budhis baru berkembang tidak lama. Pada masa itu ada sebuah adat kebiasaan dari keluarga kaya pada saat merayakan pernikahan harus menjamu bhiksu untuk datang memanjatkan “Doa Keberuntungan”. Dengan maksud orang rumah memohon berkah dan keberuntungan.

一次,一個有錢人家的兒子娶媳婦,便請志公和尚去念經。他一踏進門口,便歎息道:
Suatu hari, ada sebuah keluarga kaya anak lelakinya menikahi seorang wanita (menantu perempuan). Mereka mengundang Bhiksu Zhi Gong untuk pergi memanjatkan doa. Begitu dia masuk pintu, dia langsung menghela nafas :

古古怪,怪怪古,孫子娶祖母。
Kuno aneh, aneh kuno, cucu menikahi leluhur neneknya.

豬羊炕上坐,六親鍋裡煮。
Babi Kambing duduk di kursi, 6 kerabat keluarga rebus di panci.

女食母之肉,子打父皮鼓。
Anak perempuan memakan daging ibunya, anak lelaki memukul gendang ayahnya (drum).

眾人來賀喜,我說真是苦!
Semua orang datang mengucapkan selamat, saya mengatakan sungguh sebuah penderitaan !

原來,這個兒子出生後他的祖母非常疼愛他,總怕他的父母照顧不好他。在他一歲多這位祖母就去世了,在臨終時,她拖著孫兒的手,心裡很捨不得。她說:“你們都成家立業,惟獨我這個小孫兒,沒有人照顧。唉!怎麼辦呢?”說完便帶著這個牽掛去世了。因為這一念牽掛,結果促成了這位祖母來世和孫子的姻緣。祖母死後神識便托生到鄰村成為一個女孩,女孩長大後成了孫子的媳婦。所以說“孫子娶祖母”。
Rupanya anak lelaki ini begitu dilahirkan, leluhur nenek sangat menyayangi dia. Dia takut orang tuanya tidak menjaga dia dengan baik. Pada saat cucu berumur 1 tahun lebih, neneknya meninggal dunia. Pada saat mau meninggal dia memegang tangan cucunya dan didalam hati sangat tidak rela/tidak bisa lepaskan. Dia berkata : “Kalian semua sudah berkarir, tinggal cucu saya seorang diri, tidak ada orang menjaga dia. Aiya bagaimana ini?”
Begitu dia habis berbicara, dia telah membawa pergi rasa prihatin. Karena memikirkan prihatin ini, maka terciptalah jodoh antara leluhur nenek dan cucunya dikehidupan (*Jodoh nenek akan datang).
Setelah neneknya meninggal, ada seorang dewa mengatur neneknya reinkarnasi sebagai seorang anak perempuan di kampung sebelah. Setelah anak perempuan ini besar, maka dia menjadi istri, (cucunya dikehidupan sebelumnya).
Maka dikatakan “Cucu menikahi Leluhur Nenek”.

(*孫子娶祖母 = cucu menikahi leluhur nenek).
(*孫子的媳婦 = artinya “menantu dari cucu”. Tapi di Tiongkok sana dari zaman dulu hingga sekarang mereka masih menyebutkan 媳婦 xifu yang artinya menantu. Sampai sekarang mereka menikahi seorang istri juga disebut xifu, maksud membawa masuk menantu di keluarga).

志公和尚往炕上一看,原來,炕上坐的六親眷屬都是從前這家養的豬呀羊呀,後來被宰了吃肉了,現在都投生為人回來做了他家的親戚,所以便說“豬羊炕上坐”!志公和尚往菜鍋裡一看,以前專吃豬羊的六親眷屬,現在反而投生為豬羊回來受人烹割,在鍋子裡還債,因此便說“六親鍋裡煮”。
Bhiksu Zhi-Gong melihat kearah meja jamuan telah duduk 6 kerabat anggota keluarga. Rupanya tempat duduk tsb merupakan 6 kerabat keluarga. Rupanya 6 kerabat ini dulunya adalah hewan piaraan kehidupan sebelumnya, babi yah, kambing yah ! Lalu dibantai dimakan dagingnya. Sekarang mereka dilahirkan menjadi manusia dan kembali menjadi family mereka. Maka dikatakan “Babi Kambing duduk di meja” !
Bhiksu Zhi-Gong melihat menu makanan didalam panci, begitu melihat, dulu yang sekeluarga 6 anggota, sekarang mereka dilahirkan/reinkarnasi menjadi Babi Kambing kembali dibantai dipotong-potong dan rebus didalam panci membayar hutang karma. Dari sini disebut “6 kerabat keluarga dimasak dalam panci”

在外面,一個女孩子正在吃豬蹄子,吃得津津有味,這只豬原來是她前世的母親,所以說“女吃母之肉”。
Diluar, ada seorang anak gadis sedang makan kaki babi (*bahasa hokkien Tu Kah), makan dengan semangat dan menikmatinya. Babi ini rupanya adalah ibunya dikehidupan sebelumnya. Maka dari itu disebut “anak memakan daging ibunya”

志公和尚再看看那些奏音樂的,打鑼鼓、吹喇叭、吹笛子,好不熱鬧!有個人用力地打鼓,鼓是驢皮造的,而這驢竟然是他前世的父親啊!所以說“子打父皮鼓”。
Bhiksu Zhi-Gong melihat-lihat lagi bagian musik (nyanyian tradisional), memukul gendrang/drum & bagian trompet, meniup seluring, sangat ramai dan bising !
Ada seorang yang sekuat tenaga memukul drum. Drum ini terbuat dari Kulit Keledai. Tapi keledai ini rupanya adalah ayahnya dikehidupan sebelumnya. Maka disebut “Anak memukul gendang Kulit Ayah”

於是,“眾人來賀喜”,大家都以為這是喜慶之日,但志公和尚卻歎息:“我說真是苦!
Jadi, “setiap orang datang memberi selamat atas pernikahan”, mereka semua mengira ini adalah hari kebahagiaan. Tapi menurut bhiksu zhi-gong berkata : “saya berkata sungguh sebuah penderitaan !”

(*Para Suci mengatakan : “Salah satu Bakti adalah Bervegetarian”, jika kita terus makan daging akan bisa termakan daging leluhur atau daging orang tua yang telah kembali. Bakti orang tua bagai Gunung besar, budi ortu berat dan besar dan sulit dibalas, kita belum membalas budi tapi telah termakan daging mereka)

Hari ini Che it, Para Budiman Selamat Pagi dan Mari Makan Vegetarian 🙏🙏 Amitofo

Buddhisme dan budaya jawa

Standard

http://buddhazine.com/java-connections-kupas-esensi-budaya-jawa-yang-bermakna-dan-relevan/

Kisah Hukum Sebab Akibat Karya Ji Xiaolan Memberi Nasehat Dengan Bijak

Standard

Sarjana Negeri yang bernama Wang Xiao-yuan mengisahkan : Ada seorang Bhiksu tua ketika berjalan melewati rumah potong, mendadak air mata mengalir membasahi wajahnya, kelihatannya sangat memilukan sekali. Orang-orang yang berada di sekitarnya jadi keheranan, lalu bertanya padanya, mengapa bisa demikian?

Bhiksu tua ini berkata : “Ceritanya panjang! Saya mampu mengingat kejadian dua periode kelahiran lampauku. Satu periode sebelumnya saya adalah tukang jagal, baru usia 30 sekian tahun sudah meninggal dunia.

Arwahku digiring oleh beberapa setan petugas Neraka, Raja Yama menyalahkan diriku karena jadi tukang jagal, dosaku berat sekali, lalu memerintahkan pengawalnya untuk membawaku pergi bertumimbal lahir menerima balasan atas perbuatan jahatku.

Saat itu antara setengah sadar setengah tidak, bagaikan mabuk juga bagaikan mimpi, hanya merasa sekujur tubuhku panasnya sampai tak tertahankan lagi, sesaat kemudian jadi merasa sejuk, dalam sekejab mata, saya bertumimbal lahir di kerumunan babi.

Setelah tidak disusui lagi, saya menemukan makanan yang diberikan majikan kepada kami begitu jorok sekali, melihat makanan tersebut saya jadi muak. Namun karena tidak sanggup menahan rasa lapar, akhirnya dengan terpaksa menyantapnya juga.

Kemudian, perlahan-lahan saya mulai menguasai bahasa babi, selalu bertegur sapa dengan babi-babi lainnya, hampir semuanya masih mengingat masa kelahiran lampau mereka, hanya saja tidak berdaya memberitahukannya kepada manusia.

Mereka juga tahu suatu hari nanti akan disembelih, maka itu sering mengeluarkan suara lengkingan, sebagai ungkapan kecemasan di hari mendatang! Seringkali tampak air mata tertahan di pelupuk mata mereka, itu adalah ungkapan kesedihan atas nasib mereka yang sungguh tragis!

Tubuh mereka begitu gendut dan ceroboh, ketika musim panas tiba, mereka merasakan panas yang luar biasa yang sulit ditahan, hanya dengan menceburkan diri ke dalam kubangan yang kotor barulah terasa sedikit nyaman, tetapi seringkali dikurung ke dalam kandang, bahkan kesempatan berendam dalam kubangan saja sulit diperoleh.

Bulu mereka tipis dan kaku, ketika musim dingin tiba, mereka akan menggigil kedinginan. Maka itu ketika mereka melihat anjing dan domba yang memiliki bulu yang lembut dan tebal, jadi begitu mengkaguminya.

Setelah tumbuh besar dan berat badan sudah mencukupi, majikan akan datang menangkap, di dalam hati meskipun sudah tahu mustahil bisa menghindari jeratan maut ini, tetapi tetap saja berusaha melawan dan kabur, dengan harapan masih memiliki kesempatan hidup walaupun cuma untuk sesaat saja.

Akhirnya setelah tertangkap, manusia akan menggunakan kakinya untuk menginjak kepalaku, lalu mengikat empat kakiku, mereka mengikatku erat-erat sampai talinya sudah hampir mencapai tulangku, sakitnya seperti disayat pisau.

Lalu kami dimuat ke dalam mobil atau kapal, ditumpuk-tumpuk, rasanya tulang berulangku hampir patah, urat nadi terasa tersumbat, perut serupa mau pecah. Kadang kala menggunakan bambu untuk menggotong diri kami dan empat telapak kaki kami menghadap ke atas, siksaan ini, lebih berat dibandingkan dengan terpidana manusia yang kaki tangannya dimasukkan ke dalam lubang papan kayu!

Sampai di rumah potong, dalam waktu singkat sudah dilempar dan dibuang ke permukaan tanah. Begitu diriku terhempas dengan keras ke permukaan tanah, terasa organ dalam tubuhku hampir remuk semuanya.

Ada babi yang langsung disembelih pada hari itu juga, sisanya diikat dan dibiarkan di sana selama beberapa hari, justru yang masih hidup ini yang lebih tersiksa rasanya. Setiap hari mata memandang pisau jagal di sebelah kiri dan pot sup mendidih di sebelah kanan, tidak tahu kapan tiba giliran diri sendiri, ketika satu tusukan pisau jagal sampai ke perutku, entah bagaimana sakitnya?

Setiap hari diliputi ketakutan, sekujur tubuh tiada henti-hentinya bergemetaran. Teringat lagi akan tubuh diri sendiri yang gendut ini, entah akan dipotong-potong jadi berapa bagian nantinya, akan menjadi hidangan lezat di atas meja keluarga siapa, pastinya merupakan akhir dari tragedi yang tragis.

Menunggu hingga tiba giliran sendiri, begitu badan ini diseret tukang jagal, jadi ketakutan sampai kepala terasa pusing dan mata kabur, empat kaki terasa lemas, jantung berdebar keras seakan hendak melompat keluar, semangatku ibarat sudah terbang keluar melalui puncak kepala, lalu jatuh kembali.

Begitu pisau jagal diangkat, tampak seberkas sinar yang menyilaukan, manalah berani membuka mata memandangnya, hanya dapat memejamkan mata menanti hingga satu sayatan jatuh.

Pertama-tama tukang jagal akan memotong kerongkonganku hingga putus, lalu menggoyang-goyangkan sejenak, membiarkan darah mengalir ke baskom. Siksaan pada momen ini tak terungkapkan dengan kata-kata, benar-benar merupakan ingin mati tidak bisa mati, ingin hidup lebih mustahil lagi, hanya bisa mengeluarkan suara yang memilukan hati.

Setelah darahku mengalir tak bersisa lagi, satu tusukan pisau menembus ke jantungku, sakitnya hingga tak sanggup lagi bernafas, bahkan suara kesakitan juga tidak sanggup lagi dilontarkan keluar.

Perlahan-lahan kesadaranku menurun, bagaikan mabuk juga bagaikan mimpi, kondisinya hampir mirip seperti waktu bertumimbal lahir. Setelah melewati satu kurun waktu barulah sadar kembali, menemukan diri sendiri kembali pada wujud manusia.

Kali ini Raja Yama melihat diriku pernah berbuat baik pada masa kelahiran lampau, sehingga mengijinkan diriku bertumimbal lahir jadi manusia, yaitu diriku yang sekarang ini.

Tadi saya melihat seekor babi menjerit kesakitan akibat dijagal, sehingga saya jadi teringat siksaan yang pernah saya alami pada masa kehidupan lampauku. Juga mengasihani tukang jagal ini kelak pada masa kehidupan mendatang, tak terhindarkan dari siksaan dijagal orang lain, tiga jenis perasaan memilukan berkecamuk di dalam hati, air mata tak terbendung dan mengalir keluar”.

Saat itu tukang jagal yang ikut mendengar ucapan Bhiksu tua, tanpa berkata apa-apa, langsung membuang pisau jagalnya, sejak itu beralih profesi jadi penjual sayur.

紀曉嵐寫的因果故事
善巧勸誡
汪閣學曉園言:有一老僧過屠市,泫然流涕。或訝之。曰:「其說長矣。吾能記兩世事。吾初世為屠人,年三 十餘死,魂為數人執縛去。冥官責以殺業至重,押赴轉輪受惡報。覺恍惚迷離,如醉如夢,惟惱熱不可忍。忽似清涼,則已在豕欄矣。斷乳後,見食不潔,心知其 穢。然飢火燔燒,五臟皆如焦裂,不得已食之。後漸通豬語,時與同類相問訊,能記前身者頗多,特不能與人言耳。大抵皆自知當屠割,其時作呻吟聲者,愁也。目 睫往往有濕痕者,自悲也。軀幹癡重,夏極苦熱,惟汩沒泥水中少可,然不常得。毛疏而勁,冬極苦寒,視犬羊軟毳厚氄,有如仙獸。遇捕執時,自知不免,姑跳踉 奔避,冀緩須臾。追得後,蹴踏頭頂,拗捩蹄肘,繩勒四足深至骨,痛苦刀劙。或載以舟車,則重疊相壓,肋如欲折,百脈湧塞,腹如欲裂。或貫以竿而扛之,更痛 甚三木矣。至屠市,提擲於地,心脾皆震動欲碎。或即日死,或縛至數日,彌難忍受。時見刀俎在左,湯鑊在右,不知著我身時,作何痛楚,輒簌簌戰慄不止。又時 自顧己身,念將來不知磔裂分散,作誰家杯中羹,淒慘欲絕。比受戮時,屠人一牽拽,即惶怖昏瞀,四體皆軟,覺心如左右震盪,魂如自頂飛出,又復落下。見刀光 晃耀,不敢正視,惟瞑目以待刲剔。屠人先(事)刃於喉,搖撼擺撥,瀉血盆盎中。其苦非口所能道,求死不得,惟有長號。血盡始刺心,大痛,遂不能作聲。漸 恍惚迷離,如醉如夢,如初轉生時。良久稍醒,自視已為人形矣。冥官以夙生尚有善業,仍許為人,是為今身。頃見此豬,哀其荼毒,因念昔受此荼毒時,又惜此持 刀人將來亦必受此荼毒,三念交縈,故不知涕淚之何從也。」
屠人聞之,遽擲刀於地,竟改業為賣菜傭。
【譯文】
內閣學士汪曉園先生說:有個老僧路過屠宰場時,忽然淚流滿面,好像很傷心的樣子。人們覺得奇怪,便去詢問他為何如此?
這位老僧說:「說來話長啊!我能記得前兩世的事。我早先一世是個屠戶,活到三十多歲就死了。亡魂被幾個 鬼卒綁了去,閻王責斥我從事屠殺,罪業深重,便令鬼卒把我押赴去轉世受惡報。當時,我就感覺恍惚迷離,如醉如夢,只覺得全身熱得不可忍受,一會兒又忽然感 到清涼,轉眼間,便已降生在豬圈裡了。
斷奶之後,我發現主人給我們餵養的飼料很髒,看了這些飼料就覺得噁心。怎奈飢腸轆轆,餓火燔燒,五臟六腑像要焦裂,不得已,也得勉強吃下去。
後來,我漸漸能通曉豬語,經常和同類們打招呼,它們差不多都能記得前生的事,只是沒法向人類訴說。它們 都知道自己總有一天要被宰殺,所以時常發出呻吟的聲音,那是在為將來發愁啊!它們的眼角和睫毛上常常掛著淚花,那是為自己不幸的命運悲泣啊!它們的軀體笨 重,到了夏天,酷熱難熬,只有把身體浸泡在爛泥水坑裡,才感覺好受些,但常常被關在豬欄裡,連這泡爛泥的機會也是不可多得。它們的皮毛稀疏而堅硬,到了冬 天,極不耐寒。所以,當它們看到狗和羊那一身柔軟厚實的毛皮,就羨慕得簡直像是獸類中的神仙一般。等到長夠了重量,當主人來抓捕時,心裡明知道難免一死, 還是拚命蹦跳躲閃,以希求能夠多活片刻。終於被抓住後,人們用腳狠勁地踩住頭部,拽過四隻蹄肘用繩子捆綁起來,那繩子深勒得幾乎快到骨頭上,痛得像刀割一 般。接著,就把我們裝載在車上或船上,互相積壓重疊,只覺肋骨欲斷,百脈湧塞,肚子似要裂開。有時候,用一根竹棍,把我們四蹄朝天地抬著走,那滋味,比官 府裡給犯人上三木夾還難受呢!到了屠宰場,就一下子被扔到地上。這一摔,心脾內臟都被震動得快要碎了。有的當天就被宰殺了,有的被綁著扔在那裡好幾天,更 難忍受。整天眼看著刀俎在左,湯鍋在右,不知哪一天臨到自己,那一刀刺下來將是怎麼樣的痛楚?整天提心吊膽,渾身上下只是籟籟顫抖不止。再想到自己這肥胖 的軀體,不知將要被分割成多少塊,做誰家餐桌上的美味佳餚,又不免淒慘欲絕。等輪到自身被殺戮的時候,屠夫一拉拽,便嚇得頭昏眼花,四肢癱軟,只覺得一顆 心在胸中左右震盪,神魂如從頭頂上飛出,又落了回來。一見刀光在面前閃耀,那敢正眼視之,只能緊閉眼睛等著那一刀刺下來。屠夫先用尖刀把喉嚨割斷,然後搖 晃擺撥,把血瀉到盆盎中。那一霎時的痛苦就沒法用語言表達了,真是求生不能求死不得,只有悲聲長嗥而已。血放完了,再一刀捅進心臟,痛得轉不過氣來,連痛 楚的哀呼都發不出來了。漸漸恍惚迷離,如醉如夢,又和剛轉生時的情形差不多。過了許久時間漸漸清醒,發現自己又轉為人形了。這是閻王爺念我前生還做些善 業,允許我仍然托生為人,也就是現在的我。剛才,我看見這頭豬身受屠戮的哀痛,不由得使我聯想起我前生的那一番苦難遭遇,又憐惜這位屠夫來生也同樣免不了 受屠戮之苦,這三種情感交縈於心,淚水竟不由自主地從眼眶中湧了出來。」
在場的那位屠夫聽了老僧這番話,二話沒說,當即把屠刀扔在地上,從此改行賣菜去了。

Mengapa botak

Standard

Kenapa Bhikkhu dan Bhikkhuni Botak Kepalanya?

Dan Kenapa Sang Buddha Digambarkan dengan Rambut Keriting?
Inilah dia pertanyaan yang selalu ditanyakan – kenapa bhikkhu dan bhikkhuni Buddhis harus mencukur habis rambut mereka? Banyak orang mengatakan bahwa hal ini dilakukan untuk mengurangi keangkuhan dan menguji komitmen monastik. Selain itu, kepala botak juga lebih praktis dalam cuaca panas.

Latar Belakang Sejarah: Rambut dan Perjalanan Spiritual
Para ahli sejarah mengatakan bahwa petapa yang mengembara mencari pencerahan sangatlah umum pada milenium pertama sebelum masehi di India. Catatan-catatan sejarah juga memberitahu kita bahwa petapa ini sering memiliki masalah rambut.

Contohnya, banyak pendeta membiarkan rambut dan jenggot mereka tak terurus dan tak dicuci, karena telah mengambil sumpah akan menghindari perawatan diri sampai mereka mencapai pencerahan. Ada juga catatan sejarah yang mengatakan beberapa petapa mencabuti rambutnya satu per satu hingga akarnya.

Aturan membotaki rambut dibuat oleh Sang Buddha dan dituliskan ke dalam Vinaya Pitaka. Dalam Vinaya Pitaka, pada bagian Khandhaka, dikatakan bahwa rambut harus dicukur setidaknya dua bulan sekali, atau ketika rambut sudah tumbuh sepanjang lebar dua jari.

Khandhaka juga menyebutkan bahwa para monastik mesti menggunakan pisau cukur untuk memotong rambut dan bukan gunting, kecuali kepalanya sakit atau luka. Rambut uban tidak boleh dicabut atau dicat, tidak boleh disisir – itulah kenapa rambut dipotong pendek – atau dioleskan minyak apapun. Akan tetapi, jika rambut berantakan, boleh diluruskan dengan tangan. Aturan-aturan ini bertujuan untuk mengurangi keangkuhan dan kesombongan akan penampilan kita.

Mencukur Rambut Sekarang Ini
Kebanyakan bhikkhu dan bhikkhuni Buddhis mengikuti aturan Vinaya mengenai rambut.

Praktiknya memang sedikit berbeda dari satu aliran ke aliran lainnya, tapi upacara penahbisan monastik Buddhisme dari semua aliran meliputi rambut yang dicukur. Biasanya rambut dicukur sebelum upacara, meninggalkan sedikit di atas kepala untuk dipotong oleh pemimpin upacara.

Tetap saja sampai sekarang pun rambut dicukur dengan pisau cukur. Beberapa aliran menganggap alat cukur elektrik lebih seperti gunting daripada pisau cukur, sehingga alat tersebut juga dilarang.

Rambut Sang Buddha
Naskah-naskah kuno menggambarkan bahwa Sang Buddha hidup dengan cara yang sama dengan para pengikutnya. Ia mengenakan jubah yang sama dan melakukan pindapata sama seperti yang lainnya. Jadi kenapa patung dan lukisan Sang Buddha tidak pernah menunjukkan Sang Buddha memiliki rambut pendek atau botak?

Naskah awal sebenarnya tidak memberitahu kita secara spesifik gaya rambut Sang Buddha, meskipun memang ada cerita tentang bagaimana Pangeran Siddharta memotong rambutnya yang panjang ketika akan memulai perjalanannya mencari cara melenyapkan penderitaan.

Akan tetapi, ada satu petunjuk bahwa Sang Buddha tidak memotong rambutnya setelah mencapai Penerangan Sempurna. Upali, seorang pengikut yang penting, awalnya merupakan seorang tukang pangkas rambut saat Sang Buddha menjumpainya untuk memotong rambut.

Penggambaran pertama Sang Buddha dalam bentuk manusia dibuat oleh para seniman Gandhara, yaitu kerajaan Buddhis yang terletak di daerah yang sekarang merupakan Pakistan dan Afganistan, kira-kira 2000 tahun yang lalu. Para seniman tersebut dipengaruhi oleh karya seni Yunani dan Roma, serta karya seni Persia dan India, sehingga banyak patung Buddha pada milenium pertama setelah masehi diukir dalam gaya Yunani/Roma.

Para seniman ini memberi Buddha rambut keriting yang diikat jambul di atas kepala. Mengapa? Mungkin karena gaya rambut seperti ini sedang populer pada saat itu.

Seiring waktu berlalu, rambut yang keriting menjadi pola-pola khas pada patung Buddha, yang jujur saja terkadang terlihat lebih seperti helm daripada rambut. Sebaliknya, patung yang menggambarkan Sang Buddha dengan kepala botak masihlah sangat jarang ditemukan.

https://nibbana.id/kenapa-bhikkhu-dan-bhikkhuni-botak-kepalanya/