Monthly Archives: June 2019

Harvard Buka Kursus Agama Buddha Secara “Online” Gratis

Standard

Bhagavant.com,
Massachusetts, Amerika Serikat – Universitas Harvard di Amerika Serikat membuka kursus Agama Buddha secara online dan gratis. Sebuah bentuk pemanfaatan sains dan teknologi dalam mempelajari agama.

Untuk memberikan kesempatan bagi orang-orang dari berbagai latar belakang agama, pengalaman, usia, budaya, ras, golongan dan gender dalam mempelajari Agama Buddha, Sekolah Kedewataan Harvard (Harvard Divinity School – HDS) membuka kursus Agama Buddha yang merupakan bagian dari HarvardX.

HarvardX yaitu sebuah pengembangan pendekatan pembelajaran dan perangkat-perangkat digital fakultas Universitas Harvard untuk meningkatkan pengajaran dan pembelajaran, yang salah satu programnya adalah kursus online.

Kursus yang bertema “Buddhism Through Its Scriptures” ini dibimbing oleh Profesor Charles Hallisey dari Harvard Divinity School, yang juga Dosen Senior Yehan Numata bidang Kesusastraan Buddhis. Bukunya yang terbit tahun 2015 menyoroti tentang Therigatha, syair-syair oleh para sesepuh wanita Buddhis pertama.

Dalam kursus selama tiga hari setiap minggunya selama 4 pekan tersebut, pelajaran akan dilangsungkan dengan menggunakan video maupun teks yang dapat diselesaikan sesuai dengan waktu dari para peserta.

Profesor Charles dalam silabus kursus tersebut mengatakan bahwa para peserta akan memiliki banyak kesempatan untuk terlibat dengan peserta lainnya dalam forum diskusi dan percakapan online yang dilakukan setiap hari Jumat.

Menghargai perbedaan interpretasi atau tafsiran terhadap kepustakaan Buddhis menjadi pendekatan yang ditekankan oleh Profesor Charles dalam kursus Agama Buddha tersebut.

“Dengan cara ini, secara jelas kita tidak akan mempromosikan atau mengistimewakan satu interpretasi atau perspektif di atas yang lainnya, atau bertanya interpretasi yang mana yang “benar” atau “tepat” atau yang lainnya,” kata Profesor Charles.

“Sebaliknya, kita akan mengeksplorasi apa yang menimbulkan beragam interpretasi tersebut, dan bagaimana selama berabad-abad Buddhis sendiri telah mengantisipasi beragam interpretasi dan aplikasi dari kepustakaan Buddhis,” jelasnya. “Singkatnya, eksplorasi kita akan difokuskan pada usaha untuk lebih memahami beragam perspektif daripada memperdebatkan mana yang ‘kredibel’.”

Salah satu dari 11 orang dari tim pengajar kursus Agama Buddha secara online tersebut, adalah seorang bhikkhu cendekiawan asal Bangladesh yaitu Y.M. Upali Sramon, yang pernah menjadi mahasiswa di Harvard Divinity School dan mendapat gelar Master of Divinity (M.Div) bulan Mei lalu.

Dengan adanya kursus Agama Buddha secara online ini membuktikan bahwa dari sisi positif, sains dan teknologi dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk mempermudah hidup dalam hal ini dalam bidang pendidikan dengan merapatkan jarak antara pengajar dengan siswanya, sekaligus menyebarkan pengetahuan agama.[Bhagavant, 20/12/16, Sum]

Dewi Tian Shang Sheng Mu [Ma Zu]

Standard

Tian Shang Sheng Mu [Hanzi : 天上聖母; Pinyin : Tiān Shàng Shèng Mǔ] dikenal pula dengan sebutan Ma Zu [媽祖] atau Mak Co (dialek Hokkian) yang berarti ‘Ibu yang Suci’. Memiliki nama kecil Lin Mo Niang [林默娘].

Lahir di Meizhou, Fujian, pada tanggal 23 bulan 3 penanggalan Imlek tahun Jian Long pertama pada masa pemerintahan Kaisar Tai Zu dari Dinasti Song Utara (960 Masehi), sebagai putri ke 7. Ayahnya bernama Lin Yuan yang pernah menduduki jabatan sebagai pengurus di Provinsi Fujian.

A. Masa Kecil hingga Remaja

Semenjak kecil, Lin Mo Niang telah menunjukkan kecerdasan luar biasa. Ia masuk sekolah pada usia 7 tahun dan tidak pernah lupa pada apa yang telah diajarkan padanya. Lin Mo Niang juga tekun berdoa, berbakti pada orang tua, dan suka menolong para tetangganya yang sedang kesulitan.

mazu goddess

Oleh sebab itu, Beliau sangat dihormati semua orang. Konon Beliau mendapatkan kitab suci rahasia dari Maha Dewa Tai Shang Lao Jun (太上老君). Beliau juga mahir mengobati penyakit sehingga orang-orang desa memanggilnya Ling Nu (令女; Gadis Mukzizat), Long Nu (龙女; Gadis Naga), dan Shen Gu (神姑; Bibi Sakti).

Meskipun tinggal di tepi pantai, Lin Mo Niang baru belajar berenang saat berusia 15 tahun. Namun Beliau segera menjadi perenang yang hebat. Ia mengenakan pakaian berwarna merah di tepi pantai untuk memandu kapal-kapal nelayan kembali ke rumah, sekalipun pada saat itu cuaca sedang sangat buruk dan berbahaya.

B. Menyelamatkan Ayah dan Saudara-Saudaranya

Dikisahkan bahwa ayah serta saudara2 lelaki Lin Mo Niang bekerja sebagai nelayan. Suatu hari, badai topan yang sangat mengerikan menimpa lautan pada saat mereka sedang mencari ikan. Seluruh keluarga Lin Mo Niang sangat mengkhawatirkan nasib mereka.

Satu versi menuliskan Lin Mo Niang sedang mendoakan nasib ayah dan saudara-saudaranya; versi lain menceritakan Ia memperoleh penglihatan gaib akan ayah dan saudara-saudaranya yang tenggelam saat ia tertidur atau saat duduk termenung.

Disaat Lin Mo Niang sedang berusaha menolong mereka dengan kekuatan batinnya (memproyeksikan dirinya di hadapan ayah dan saudaranya), ibunya tiba2 membangunkan Lin Mo Niang, sehingga Ia tidak sempat menolong semuanya dan menjatuhkan kembali saudara2 nya.

Hanya Ayah Lin Mo Niang saja yang kembali dengan selamat, dan menceritakan kepada seluruh penduduk mengenai keajaiban yang Beliau alami. Versi lain menyebutkan ayahnya tidak ikut dalam pelayaran, melainkan hanya ke-4 saudaranya saja yang pergi melaut. Ibunya tiba2 membangunkan Lin Mo Niang disaat sedang menolong saudaranya yang ke-4/terakhir.

Karena hidupnya yang sederhana dan banyak berbuat kebaikan, masyarakat sering memanggilnya dengan sebutan Lin San Ren (林善人; orang yang berhati baik). Beliau dikenal sebagai Dewi Laut, penolong para pelaut, serta pelindung perantauan etnis Tiongkok di wilayah bagian Selatan dan di Asia Tenggara.

Beliau meninggal pada usia ke 28 pada tahun 987; dan setelah kematian nya Beliau banyak dihormati dan dipuja sebagai seorang Dewi dalam Agama TAO.

Pemujaan Tian Shang Sheng Mu dimulai pada dinasti Song dan terus berkembang terutama pada wilayah pesisir pantai dimana penduduknya bergantung dengan aktivitas kelautan, terutama di daerah Zhejiang, Fujian, Guangdong, Hainan, Taiwan dan tempat-tempat lain di Asia Timur dan Asia Tenggara.

Hari Kebesaran Tian Shang Seng Mu (天上圣母) diperingati setiap tanggal 23 bulan 3 Imlek.

qian li yan - sun feng er

Pada masa Dinasti Song, perdagangan maritim Provinsi Fujian sangat berkembang. Para pelaut yang khawatir akan bahaya lautan selalu membawa arca Tian Shang Sheng Mu sebagai pelindung.

Dikisahkan bahwa Laksamana Cheng Ho juga membawa arca Beliau dalam 7 pelayarannya yang terkenal. Sudah menjadi kebiasaan para pelaut semenjak masa itu untuk menyediakan altar Tian Shang Sheng Mu dalam kapal mereka.

Beliau juga sering digambarkan/divisualisasikan bersama kedua pengawal siluman Qian Li Yan [千里眼]dan Sun Feng Er [順風耳].

C. Menundukkan Qian Li Yan dan Sun Feng Er

Salah satu legenda mengisahkan bahwa Lin Mo Niang berhasil menaklukkan 2 siluman penguasa Pegunungan Tao Hua Shan. Mereka adalah siluman Qian Li Yan (千里眼; Hokkian : Ceng Li Gan) dan Sun Feng Er (順風耳; Hokkian : Su Hong Li).  Dengan menggunakan kemampuan ilmu kedewaannya, kedua siluman tersebut pun takluk dan kemudian menjadi pengawalnya .

Qian Li Yan berkulit hijau kebiruan, bertanduk dua, bertaring, dan memegang tombak; sedangkan Sun Feng Er berkulit merah kecoklatan, bertanduk satu, bertaring, dan memegang kapak bergagang panjang.

Dikisahkan bahwa Qian Li Yan dapat melihat sejauh ribuan li sementara Sun Feng Er dapat mendengar sejauh ribuan li.

D. Kematian dan Menjadi Dewi

Pada saat Lin Mo Niang berusia 28 tahun, yaitu pada masa pemerintahan Kaisar Tai Zong tahun Yongxi ke-4 (tahun 987), Imlek tanggal 16 bulan 2, dia berlayar bersama ayahnya. Di tengah lautan, perahu mereka dihantam badai hingga tenggelam. Tanpa mempedulikan keselamatannya sendiri, Beliau berusaha menyelamatkan sang ayah. Namun keduanya akhirnya tewas.

Kisah lain menceritakan, saat berusia 28 tahun Beliau memanjat gunung sendirian, kemudian terbang ke langit menjadi Dewi bersama dengan raganya. Dikisahkan bahwa pada pagi itu, penduduk sekitar Meizhou melihat awan berwarna-warni menyelimuti pulau.

Di angkasa terdengar alunan musik merdu dan Lin Mo Niang perlahan-lahan naik ke langit untuk dinobatkan sebagai Dewi. Setahun kemudian, penduduk mendirikan sebuah kuil di tempat Lin Mo Niang diangkat naik ke langit. Kuil tersebut merupakan kuil Thian Shang Sheng Mu yang pertama didirikan di Tiongkok (Pulau Meizhou, provinsi Fujian).

Versi lain menyatakan kematian Lin Mo Niang saat ia masih berusia 16 tahun. Saat itu dia berenang jauh ke tengah laut untuk mencari ayahnya yang hilang. Namun karena kelelahan, dia meninggal dan jenasahnya disapu ombak ke tepi pantai di Pulau Nankan, Kepulauan Matsu, Taiwan.

E. Kisah dan Mukzizat

Lin Mo Niang dan Kaisar Song Hui Zong

Pada tahun 1122, Kaisar Song Hui Zong memerintah seorang Menteri bernama Lu Yun Di untuk menjadi duta ke Negeri Gaoli (sekarang Korea). Rombongan tersebut terdiri atas 8 buah kapal, tetapi 7 diantaranya tenggelam akibat dihantam badai yang dahsyat. Hanya rombongan di kapalnya saja yang selamat.

Menteri Lu Yun yang selamat merasa takjub kemudian bertanya kepada anak buahnya, siapakah Dewa yang menyelamatkan mereka. Salah seorang yang berasal dari kota Pu Tian menjawab bahwa ia biasa bersembahyang kepada Dewi Lin Mo Niang yang merupakan Dewi pelindung di lautan.

Menteri Lu Yun pun segera melaporkan hal tersebut kepada Kaisar Song Hui Zong setibanya dia pulang.

Sebagai penghormatan dan rasa syukur, kaisar memberi beliau gelar Sun Ji Fu Ren yang berarti “Nyonya Agung yang Memberikan Pertolongan yang Sangat Dibutuhkan”. Kaisar juga menyumbangkan sebuah papan kaligrafi (hanzi) bertuliskan gelar tersebut, yang merupakan hasil karya sang Kaisar sendiri untuk dipasang pada kuil di Meizhou.

F. Kultus Pemujaan Terhadap Dewi Tian Shang Seng Mu

Tian Shang Sheng Mu digambarkan sebagai wanita berusia 30 hingga 40-an, yang mengenakan jubah merah bersulam serta duduk di atas tahta.

Pada sebagian patung/rupang, beliau selalu memakai pakaian kebesaran seorang permaisuri yang bertaburkan permata, memegang papan seremonial (yang biasa dibawa oleh pejabat untuk menghadap Kaisar) atau tongkat bertatah permata, dan mahkota bergaya kekaisaran yang dihiasi untaian butiran mutiara yang tergantung pada bagian depan dan belakang mahkota .

Beliau juga sering divisualikasikan bersama kedua pengawalnya, Qian Li Yan dan Sun Feng Er.

1. Kultus di Daratan Tiongkok

Para keluarga nelayan dan pelaut mulai berdoa kepada Lin Mo Niang semenjak wafatnya, untuk menghormati keberaniannya menyelamatkan orang-orang saat sedang berlaut. Popularitasnya berkembang pesat dikarenakan perannya sebagai Dewi Pelindung Pelautan.

Pada masa Dinasti Song, perdagangan maritim Provinsi Fujian sangat berkembang. Para pelaut yang khawatir akan bahaya lautan selalu membawa arca Tian Shang Sheng Mu sebagai pelindung.

Dikisahkan bahwa Laksamana Cheng Ho juga membawa arca Beliau dalam 7 pelayarannya yang terkenal. Sudah menjadi kebiasaan para pelaut semenjak masa itu untuk menyediakan altar Tian Shang Sheng Mu dalam kapal mereka.

Pemujaan Tian Shang Sheng Mu dimulai pada dinasti Song dan terus berkembang terutama pada wilayah pesisir pantai dimana penduduknya bergantung dengan aktivitas kelautan, terutama di daerah Zhejiang, Fujian, Guangdong, Hainan, Taiwan dan tempat-tempat lain di Asia Timur dan Asia Tenggara.

Pada tanggal 31 Oktober 1987, bertepatan dengan hari wafat Tian Shang Sheng Mu yang ke 1000, dilangsungkan upacara peringatan besar-besaran di kota kelahirannya, Meizhou.

2. Kultus di Taiwan

Pada masa Dinasti Ming, bersamaan dengan banyaknya penduduk Provinsi Fujian yang merantau, kultus Tian Shang Sheng Mu memasuki wilayah pulau Taiwan. Kuil tertua di Taiwan terletak di Kota Magong, Kepulauan Penghu.

Pemujaan terhadap Dewi Tian Shang Sheng Mu berkembang pesat hingga saat ini, dan tidak kurang dari 800 kuilnya dibangun di wilayah Taiwan, dan hampir 2/3 penduduknya memiliki altarnya di rumah. Pada tanggal 23 bulan 3 Imlek 2540 (tahun masehi 1989), patung Dewi Pelindung Pelaut yang sangat terkenal ini didirikan di puncak Gunung Mei Feng Shan, menghadap ke Selat Taiwan.

3. Penyebaran Kultus Abad Ke 19-20

Penyebaran kultus Mazu dibawa oleh aliran migrasi besar-besaran penduduk Tiongkok pada abad ke-19 dan 20. Setelah mencapai Taiwan, kultus Tian Shang Sheng Mu menyebar hingga Jepang, Korea, dan seluruh wilayah Asia Tenggara seperti Thailand, Vietnam, Malaysia, Singapore dan Indonesia.

Peran beliau sebagai Dewi Pelindung Lautan dan perantauan membuat para imigran segera mendirikan kuil untuknya sebagai ungkapan syukur telah kembali dengan selamat. Para penduduk dari daerah imigrasi selanjutnya membawa kultus pemujaan Mazu ke Negara2 lain.

Saat ini diperkirakan terdapat lebih dari 1500 kuil yang didedikasikan untuk Thian Shang Sheng Mu, yang tersebar di 26 Negara. Tian Shang Sheng Mu merupakan salah satu Dewi yang cukup terkenal di Indonesia karena dianggap sebagai Dewi pelindung lautan dan para perantauan.

G. Penutup

Legenda Dewi Mazu berawal dari dirinya sebagai putri sederhana seorang nelayan. Lin Mo Niang, seorang gadis pendiam. Penduduk kampung setempat yakin, dia bisa meramal masa depan, menyembuhkan orang sakit, bahkan menurunkan hujan. Tapi bagi NYA, tugas utamanya adalah melindungi perahu saudara-saudaranya.

Maka dia memakai gaun merah terang, membawa lentera, dan berdiri di puncak bukit, laiknya seperti mercusuar manusia. Perahu-perahu saudaranya dan penduduk setempat dia tuntun kembali setiap malam. Tapi di suatu malam, satu perahu tidak kembali. Dia menyalahkan dirinya sendiri dan menjadi putus asa. Lalu dia terakhir terlihat menangis sambil berjalan ke arah laut.

Sejak saat itu, pera pelaut dan nelayan China percaya, bahwa Mazu melindungi mereka

Machig Labdrön

Standard

Machig Labdrön ( Tibetan: མ་གཅིག་ལབ་སྒྲོན, Wylie: ma gcig lab sgron ) “Unique Mother Torch from Lab”, 1055 – 1149) was a renowned 11th-century Tibetan tantric Buddhist practitioner, teacher and yogini who originated several Tibetan lineages of the Vajrayana practice of Chöd.

Machig Labdrön is often depicted with the attributes of a dakini, a representation of enlightened female energy. She holds a drum (Skt. damaru) in her right hand and a bell (Skt. ghaṇṭa) in her left. Her right leg is often lifted and the standing left leg is bent in motion. Machig is white in color with three eyes and wears the Six Bone Ornaments of the charnel grounds, which is traditional for a practicing yogini. Dakinis wear five bone ornaments; they are themselves the wisdom pāramitā.

In the Life of Yeshe Tsogyel, Padmasambhava predicted that Yeshe Tsogyel would be reborn as Machig Labdrön and Padmasambhava himself would become Phadampa Sangye. Machig was the mindstream emanation of great yogini, Yeshe Tsogyal, as well as “an emanation of the ‘Great Mother of Wisdom, Prajnaparamita and of Arya Tara, who transmitted to her teachings and initiations.

“Son, listen. These are the characteristics of the devils. That which is called ‘devil’ is not some actual great big black thing that scares and petrifies whomever sees it. A devil is anything that obstructs the achievement of freedom. . . . Most of all, there is no greater devil than this fixation to a self. So until this ego-fixation is cut off, all the devils wait with open mouths. For that reason, you need to exert yourself at a skillful method to sever the devil of ego-fixation.” – Machig Labdron

“As long as there is an ego, there are demons. When there is no more ego, There are no more demons either!” – Machig Labdron via Mother Universe (世間母瑤池金母)

Lord Buddha and Brahma Baka

Standard

Lord Buddha and Brahma Baka

Brahmanimantanika Sutta – Undangan Brahmā

Demikianlah yang Kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

“Para bhikkhu, pada suatu ketika Aku sedang menetap di Ukkaṭṭhā di Hutan Subhaga di bawah pohon sāla besar.1 Pada saat itu suatu pandangan sesat telah muncul pada Brahmā Baka sebagai berikut: ‘Ini kekal, ini bertahan selamanya, ini abadi, ini adalah keseluruhan, ini tidak tunduk pada kematian; karena ini adalah di mana seseorang tidak terlahir atau menua atau mati atau meninggal dunia juga tidak muncul kembali, dan di luar ini tidak ada jalan membebaskan diri.’

“Dengan pikiranKu Aku mengetahui pikiran Brahmā Baka, maka secepat seorang kuat merentangkan lengannya yang tertekuk atau menekuk lengannya yang terentang, Aku lenyap dari bawah pohon sāla besar di Hutan Subhaga di Ukkaṭṭhā dan muncul di alam-Brahmā. Dari jauh Brahmā Baka melihat kedatanganKu dan berkata: ‘Silahkan, Tuan! Selamat datang, Tuan! Telah lama, Tuan, sejak Engkau berkesempatan datang ke sini. Sekarang, Tuan, Ini kekal, ini bertahan selamanya, ini abadi, ini adalah keseluruhan, ini tidak tunduk pada kematian; karena ini adalah di mana seseorang tidak terlahir atau menua atau mati atau meninggal dunia juga tidak muncul kembali, dan di luar ini tidak ada jalan membebaskan diri.’

“Ketika hal ini dikatakan, Aku memberitahu Brahmā Baka: ‘Brahmā Baka Yang Agung telah tergelincir ke dalam ketidak-tahuan; ia telah tergelincir ke dalam ketidak-tahuan sehingga ia mengatakan yang tidak kekal sebagai kekal, yang sementara sebagai bertahan selamanya, yang tidak abadi sebagai abadi, yang tidak lengkap sebagai keseluruhan, yang tunduk pada kematian sebagai tidak tunduk pada kematian, yang terlahir, menua, mati, meninggal dunia, dan muncul kembali sebagai tidak terlahir juga tidak menua juga tidak mati juga tidak meninggal dunia juga tidak muncul kembali; dan ketika ada jalan membebaskan diri melampaui ini, ia mengatakan tidak ada jalan membebaskan diri melampaui ini.’

“Kemudian Māra si Jahat menguasai salah satu anggota kelompok Brahmā, dan ia berkata kepadaKu: ‘Bhikkhu, bhikkhu, jangan mencelanya, jangan mencelanya; karena Brahmā ini adalah Brahmā Agung, Maharaja, yang tidak terlampaui, memiliki penglihatan yang tidak mungkin keliru, maha kuasa, maha pembuat dan pencipta, Tuhan yang tertinggi, Penguasa dan Ayah dari mereka yang ada dan yang akan ada. Sebelum Engkau, Bhikkhu, terdapat para petapa dan brahmana yang mencela tanah dan jijik pada tanah, yang mencela air dan jijik pada air, yang mencela api dan jijik pada api, yang mencela udara dan jijik pada udara, yang mencela makhluk-makhluk dan jijik pada makhluk-makhluk, yang mencela dewa-dewa dan jijik pada dewa-dewa, yang mencela Pajāpati dan jijik pada Pajāpati, yang mencela Brahmā dan jijik pada Brahmā; dan ketika hancurnya jasmani, ketika kehidupan mereka terpotong, mereka terlahir dalam jasmani yang hina. Sebelum Engkau, Bhikkhu, terdapat para petapa dan brahmana yang memuji tanah dan senang pada tanah, yang memuji air dan senang pada air, yang memuji api dan senang pada api, yang memuji udara dan senang pada udara, yang memuji makhluk-makhluk dan senang pada makhluk-makhluk, yang memuji dewa-dewa dan senang pada dewa-dewa, yang memuji Pajāpati dan senang pada Pajāpati, yang memuji Brahmā dan senang pada Brahmā; dan ketika hancurnya jasmani, ketika kehidupan mereka terpotong, mereka terlahir dalam jasmani yang mulia. Maka, Bhikkhu, aku memberitahukan kepadaMu: Pastikan, Tuan, hanya melakukan apa yang Brahmā katakan; jangan melampaui kata-kata Brahmā. Jika Engkau melampaui kata-kata Brahmā, Bhikkhu, maka, bagaikan seseorang dengan menggunakan tongkat mengusir dewi keberuntungan ketika ia mendekat, atau bagaikan seseorang yang kehilangan pegangan tangan atau pijakan kakinya di tanah ketika ia terjatuh ke dalam jurang yang dalam, itulah yang akan menimpamu, Bhikkhu. Pastikan, Tuan, hanya melakukan apa yang Brahmā katakan; jangan melampaui kata-kata Brahmā. Tidakkah Engkau melihat kumpulan Brahmā yang duduk di sini, Bhikkhu?’ Dan Māra mengalihkan perhatianKu pada kelompok Brahmā.

“Ketika hal ini dikatakan, Aku memberitahu Māra: ‘Aku mengenalmu, Sang Jahat. Jangan berpikir: “Ia tidak mengenalku.” Engkau adalah Māra, si Jahat, dan Brahmā dan kelompok Brahmā dan para pengikut Kelompok Brahmā semuanya telah jatuh ke dalam genggamanmu, mereka telah jatuh ke dalam kekuatanMu. Engkau, si Jahat, berpikir: “Yang ini juga telah jatuh ke dalam genggamanku, yang ini juga telah jatuh ke dalam kekuatanKu”; tetapi Aku tidak jatuh ke dalam genggamanmu, Sang Jahat, Aku tidak jatuh ke dalam kekuatanmu.’

“Ketika hal ini dikatakan, Brahmā Baka berkata kepadaKu: ‘Tuan, aku mengatakan yang kekal sebagai kekal, yang bertahan selamanya sebagai bertahan selamanya, yang abadi sebagai abadi, yang seluruhnya sebagai seluruhnya, yang tidak tunduk pada kematian sebagai tidak tunduk pada kematian, yang tidak terlahir juga tidak menua juga tidak mati juga tidak meninggal dunia juga tidak muncul kembali sebagai tidak terlahir juga tidak menua juga tidak mati juga tidak meninggal dunia juga tidak muncul kembali; dan ketika tidak ada jalan membebaskan diri dari hal-hal ini, aku mengatakan tidak ada jalan membebaskan diri dari hal-hal ini. Sebelum Engkau, Bhikkhu, terdapat para petapa dan brahmana di dunia ini yang menjalani pertapaan seumur hidupMu. Mereka mengetahui, jika ada jalan membebaskan diri, maka ada jalan membebaskan diri, dan ketika tidak ada jalan membebaskan diri, maka tidak ada jalan membebaskan diri. Maka, Bhikkhu, aku memberitahukan kepadamu: Engkau tidak akan menemukan jalan membebaskan diri, dan akhirnya Engkau hanya akan menemui kelelahan dan kekecewaan. Jika engkau menggenggam tanah, maka engkau akan dekat denganku, dalam wilayahku, melakukan kehendakku dan menghukum untukku.9 Jika engkau menggenggam air … api … udara … makhluk-makhluk … para dewa … Pajāpati … Brahmā, maka engkau akan dekat denganku, dalam wilayahku, melakukan kehendakku dan menghukum untukku.’

“‘Aku juga mengetahui hal itu, Brahmā. Jika Aku menggenggam tanah, maka aku akan dekat denganmu, dalam wilayahmu, melakukan kehendakmu dan menghukum untukmu. Jika aku menggenggam air … api … udara … makhluk-makhluk … para dewa … Pajāpati … Brahmā, maka aku akan dekat denganmu, dalam wilayahmu, melakukan kehendakmu dan menghukum untukmu. Lebih jauh lagi, Aku memahami jangkauan dan luas kekuasaanmu demikian: Brahmā Baka memiliki kekuatan sebesar ini, keperkasaan sebesar ini, pengaruh sebesar ini.’

“‘Sekarang, Tuan, Berapa jauhkah engkau memahami jangkauan dan kekuasaanku ?’

“‘Sejauh bulan dan matahari berputar
Bersinar dan bercahaya di langit
Lebih dari seribu dunia
Kekuasaanmu menjangkau.

Dan di sana engkau mengetahui yang tinggi dan yang rendah,
Dan mereka yang bernafsu dan yang bebas dari nafsu,
Kondisi yang demikian dan yang sebaliknya,
Kedatangan dan kepergian makhluk-makhluk.
Brahmā, Aku memahami jangkauan dan luas kekuasaanmu demikian: Brahmā Baka memiliki kekuatan sebesar ini, keperkasaan sebesar ini, pengaruh sebesar ini.

“‘Tetapi, Brahmā, terdapat tiga tubuh lain, yang tidak engkau ketahui juga tidak engkau lihat, dan yang Aku ketahui dan Aku lihat. Ada tubuh yang disebut [para dewa dengan] Cahaya Gemerlap, yang dari mana engkau mati dan muncul kembali di sini. Karena engkau telah berdiam di sini cukup lama, ingatanmu akan hal itu telah hilang, dan karenanya engkau tidak mengetahui atau melihatnya, tetapi Aku mengetahui dan melihatnya. Demikianlah, Brahmā, sehubungan dengan pengetahuan langsung Aku tidak hanya berdiri sama tinggi denganmu, bagaimana mungkin Aku mengetahui lebih sedikit? Sebaliknya, Aku mengetahui lebih banyak daripada engkau.

“‘Terdapat, tubuh yang disebut [para dewa dengan] Keagungan Gemilang … Terdapat tubuh yang disebut [para dewa dengan] Buah Besar. Engkau tidak mengetahui atau melihatnya, tetapi Aku mengetahui dan melihatnya. Demikianlah, Brahmā, sehubungan dengan pengetahuan langsung Aku tidak hanya berdiri sama tinggi denganmu, bagaimana mungkin Aku mengetahui lebih sedikit? Sebaliknya, Aku mengetahui lebih banyak daripada engkau.

“‘Brahmā, setelah dengan secara langsung mengetahui tanah sebagai tanah, dan setelah dengan secara langsung mengetahui yang tidak menjadi bagian dari sifat tanah, Aku tidak mengaku sebagai tanah, Aku tidak mengaku ada di dalam tanah, Aku tidak mengaku terpisah dari tanah, Aku tidak mengakui tanah sebagai “milikKu,” Aku tidak menegaskan tanah. Demikianlah, Brahmā, sehubungan dengan pengetahuan langsung Aku tidak hanya berdiri sama tinggi denganmu, bagaimana mungkin Aku mengetahui lebih sedikit? Sebaliknya, Aku mengetahui lebih banyak daripada engkau.

“‘Brahmā, setelah dengan secara langsung mengetahui air sebagai air… api sebagai api … udara sebagai udara … makhluk-makhluk sebagai makhluk-makhluk … para dewa sebagai para dewa … Pajāpati sebagai Pajāpati … Brahmā sebagai Brahmā … para dewa dengan Cahaya Gemerlap sebagai para dewa dengan Cahaya Gemerlap … para dewa dengan Keagungan Gemilang sebagai para dewa dengan Keagungan Gemilang … para dewa dengan Buah Besar sebagai para dewa dengan Buah Besar … raja sebagai raja … keseluruhan sebagai keseluruhan, dan setelah dengan secara langsung mengetahui apa yang tidak menjadi bagian dari sifat keseluruhan, Aku tidak mengaku sebagai keseluruhan, Aku tidak mengaku ada di dalam keseluruhan, Aku tidak mengaku terpisah dari keseluruhan, Aku tidak mengakui keseluruhan sebagai “milikKu,” Aku tidak menegaskan keseluruhan. Demikianlah, Brahmā, sehubungan dengan pengetahuan langsung Aku tidak hanya berdiri sama tinggi denganmu, bagaimana mungkin Aku mengetahui lebih sedikit? Sebaliknya, Aku mengetahui lebih banyak daripada engkau.’

“‘Tuan, Jika tidak menjadi bagian dari sifat keseluruhan, maka itu terbukti hampa dan kosong bagiMu!’

“‘Kesadaran yang tidak terwujud,
Tanpa batas, menerangi segala penjuru.
Yang tidak menjadi bagian dari sifat tanah, yang tidak menjadi bagian dari sifat air …… yang tidak menjadi bagian dari sifat keseluruhan.’

“‘Tuan, aku akan menghilang dari hadapanMu.’

“‘Menghilanglah dari hadapanKu jika engkau mampu, Brahmā.’

“Kemudian Brahmā Baka, dengan berkata: ‘Aku akan menghilang dari hadapan Petapa Gotama, Aku akan menghilang dari hadapan Petapa Gotama,’ tidak mampu menghilang. Kemudian Aku berkata: ‘Brahmā, Aku akan menghilang dari hadapanmu.’

“‘Menghilanglah dari hadapanKu jika engkau mampu, Tuan.’

“Kemudian Aku mengerahkan kekuatan batin sehingga Brahmā dan kelompok Brahmā dan para pengikut kelompok Brahmā dapat mendengar suaraKu namun tidak dapat melihatKu. Setelah aku menghilang, Aku mengucapkan syair ini:

“‘Setelah melihat ketakutan dalam penjelmaan
Dan [setelah melihat] bahwa penjelmaan itu akan lenyap,
Aku tidak menyambut segala jenis penjelmaan apapun,
Juga tidak melekat pada kesenangan.’

“Saat itu Brahmā dan Kelompok Brahmā dan para pengikut Kelompok Brahmā merasa takjub dan kagum, berkata: ‘Sungguh mengagumkan, Tuan, sungguh menakjubkan, kekuatan dan kesaktian Petapa Gotama! Kami belum pernah menyaksikan atau mendengar petapa atau brahmana lain yang memiliki kekuatan dan kesaktian seperti yang dimiliki Petapa Gotama ini, yang meninggalkan keduniawian dari suku Sakya. Tuan, walaupun hidup dalam generasi yang menikmati penjelmaan, yang menyukai penjelmaan, yang bersukacita dalam penjelmaan, Beliau telah mencabut penjelmaan bersama dengan akarnya.’

“Kemudian Māra si Jahat menguasai salah satu pengikut Kelompok Brahmā, dan berkata kepadaKu: ‘Tuan, jika itu adalah apa yang Engkau ketahui, jika itu adalah apa yang telah engkau temukan, janganlah Engkau menuntun para siswa [awam] atau mereka yang meninggalkan keduniawian, janganlah Engkau mengajarkan Dhamma kepada para siswa [awam] atau mereka yang meninggalkan keduniawian, janganlah Engkau membangkitkan kerinduan pada para siswa [awam] atau mereka yang meninggalkan keduniawian. Sebelum Engkau, Bhikkhu, terdapat para petapa dan brahmana yang mengaku sempurna dan tercerahkan sempurna, dan mereka menuntun para siswa [awam] atau mereka yang meninggalkan keduniawian; mereka mengajarkan Dhamma kepada para siswa [awam] atau mereka yang meninggalkan keduniawian; mereka merindukan para siswa [awam] atau mereka yang meninggalkan keduniawian; dan ketika hancurnya jasmani, ketika kehidupan mereka terpotong, mereka terlahir dalam jasmani yang hina. Sebelum Engkau, Bhikkhu, terdapat juga para petapa dan brahmana yang mengaku sempurna dan tercerahkan sempurna, dan mereka tidak menuntun para siswa [awam] atau mereka yang meninggalkan keduniawian; mereka tidak mengajarkan Dhamma kepada para siswa [awam] atau mereka yang meninggalkan keduniawian; mereka tidak merindukan para siswa [awam] atau mereka yang meninggalkan keduniawian; dan ketika hancurnya jasmani, ketika kehidupan mereka terpotong, mereka terlahir dalam jasmani yang mulia. Maka, Bhikkhu, aku beritahukan kepadaMu: Pastikan, Tuan, untuk berdiam secara tidak aktif, jalanilah kediaman yang menyenangkan di sini dan saat ini, hal ini lebih baik dibiarkan tidak dibabarkan, dan karena itu, Tuan, janganlah menasihati siapapun.’

“Ketika hal ini dikatakan, Aku memberitahu Māra: ‘Aku mengenalmu, Sang Jahat. Jangan berpikir: “Ia tidak mengenalku.” Engkau adalah Māra, si Jahat. Bukanlah demi belas kasih terhadap kesejahteraan mereka maka engkau berkata demikian, melainkan adalah tanpa belas kasih terhadap kesejahteraan mereka maka engkau berkata demikian. Engkau berpikir seperti ini, Yang Jahat: “Kepada siapa Petapa Gotama mengajarkan Dhamma, mereka akan membebaskan diri dari wilayahku.” Para petapa dan brahmanamu itu, Yang Jahat, yang mengaku tercerahkan sempurna, tidaklah benar-benar tercerahkan sempurna. Tetapi Aku, yang mengaku tercerahkan sempurna, adalah benar-benar tercerahkan sempurna. Jika Sang Tathāgata mengajarkan Dhamma kepada para siswaNya, Beliau tetap seorang Tathāgata, Yang Jahat, dan jika Sang Tathāgata tidak mengajarkan Dhamma kepada para siswaNya, Beliau tetap seorang Tathāgata. Jika Sang Tathāgata menuntun para siswaNya, Beliau tetap seorang Tathāgata, Yang Jahat, dan jika Sang Tathāgata tidak menuntun para siswaNya, Beliau tetap seorang Tathāgata. Mengapakah? Karena Sang Tathāgata telah meninggalkan noda-noda yang mengotori, yang membawa penjelmaan baru, memberikan kesusahan, yang matang dalam penderitaan, dan mengarah menuju kelahiran, penuaan, dan kematian di masa depan; Beliau telah memotongnya di akarnya, membuatnya menjadi seperti tunggul pohon palem, menyingkirkannya sehingga tidak akan muncul kembali di masa depan. Seperti halnya pohon palem yang dipotong pucuknya tidak akan mampu untuk tumbuh lebih tinggi lagi, demikian pula Sang Tathāgata telah meninggalkan noda-noda yang mengotoriNya pada akarnya, membuatnya menjadi seperti tunggul pohon palem, menyingkirkannya sehingga tidak akan muncul kembali di masa depan.’”

Demikianlah, karena Māra tidak mampu menjawab, dan karena [diawali] dengan undangan Brahmā, maka khotbah ini dinamakan “Tentang Undangan Brahmā.” via Mother Universe (世間母瑤池金母)

Namo Mulaguru Shakyamuni Buddha

Standard

南無本師釋迦牟尼佛 – Namo Benshi Shijiamounifo
Namo Mulaguru Shakyamuni Buddha

2017年01月05日-農曆12月08日釋迦牟尼佛成道紀念日
Kamis, 05 Jan 2017 Hari Peringatan Pencerahan Shakyamuni Buddha ( Imlek tanggal 8 bulan 12 )

Mantra Hati Shakyamuni Buddha Silsilah Zhenfo:
“Om. Mouni. Mouni. Mahamouni. Shigamouni. Suoha” ( Pinyin )
“Om. Mouni. Mouni. Mahamouni. Sekyamouni. Suoha.” ( lafal biasa )

“Barang siapa mendengar Nama Shakyamuni Tathagata, sekalipun belum membangkitkan Bodhicitta, ia adalah Bodhisattva. Kenapa demikian, berdasarkan ikrar istimewa dari Tathagata bahwa karya dalam semua dunia adalah milik-Ku, semua yang belum memperoleh bimbingan akan memperoleh bimbingan. Membabarkan Dharma kebenaran untuk mencerahkan mereka semua. Oleh karena itulah Manjusri, siapa pun yang mendengar Nama Tathagata adalah Bodhisattva. Tidak hanya dapat terbebas dari kerisauan batin, bahkan kelak dapat memperoleh tubuh yang Aku peroleh.” – Angulimalika Sutra
若聞釋迦牟尼如來名號。雖未發心已是菩薩。 所以者何。以如來勝願一切世間是我有故。 諸未度者當令得度。化以正法悉令覺悟。 是故文殊師利。聞如來名者皆為菩薩。 非但自能速除煩惱。亦復當得我所得身。 -央掘魔羅經卷第四

“Saat ini Anda dapat mendengar Aku Shakyamuni Buddha, yang telah mendengar dan yang akan mendengarnya, semua tidak akan mundur lagi dalam jalan Anuttarasamyaksambodhi. Mengapa demikian ? Ketika semua Dharmakaya membabarkan Dharma, maka semua yang melihat dan mendengarnya memperoleh manfaat. Ananda, para insan yang menghaturkan pujana bunga kepada Tathagata, atau kelak setelah Sang Buddha Parinirvana, mendirikan stupa untuk mempersemayamkan Sarira Buddha, mereka tidak akan mundur dalam jalan Anuttarasamyaksambodhi. Ananda, bahkan binatang sekalipun, yang mendengar Nama Buddha, dapat memperoleh Anuttarasamyaksambodhi.” – Avaivartaniyacakra Sutra
汝今聞我釋迦牟尼佛。已聞當聞。如是等。皆得不退於阿耨多羅三藐三菩提。何以故。一切法身若有所說。其見聞者皆悉利益。阿難。若以一華供養如來。及般涅槃後。為佛舍利起塔供養。亦得不退於阿耨多羅三藐三菩提。阿難。乃至畜生。得聞佛名。亦得阿耨多羅三藐三菩提耶。-不退轉法輪經卷第三

◎ Mengenal Shakyamuni Buddha :
http://ift.tt/2hTsZaN

【真佛法相寶典】釋迦牟尼佛
http://ift.tt/2iShkWz

◎ Shakyamuni Buddha Mengulas Sila :
http://ift.tt/2hTxHVD

釋迦牟尼佛談戒
http://ift.tt/2iSeh0r

◎ Abhijna yang Selaras dengan Misteri Alam :
http://ift.tt/2hTCpmD

契合天機的神通 :
http://ift.tt/2iSc84E via Mother Universe (世間母瑤池金母)a

 

Your Mind is Your Religion

Standard

When I talk about mind, I’m not just talking about my mind, my trip. I’m talking about the mind of each and every universal living being. The way we live, the way we think—everything is dedicated to material pleasure. We consider sense objects to be of utmost importance and materialistically devote ourselves to whatever makes us happy, famous, or popular. Even though all this comes from our mind, we are so totally preoccupied by external objects that we never look within, we never question why we find them so interesting.

As long as we exist, our mind is an inseparable part of us. As a result, we are always up and down. It is not our body that goes up and down, it’s our mind—this mind whose way of functioning we do not understand—not just our body, but our mind. Therefore, sometimes we have to examine ourselves—not just our body, but our mind. After all, it is our mind that is always telling us what to do. We have to know our own psychology, or, in religious terminology, perhaps, our inner nature. Anyway, no matter what we call it, we have to know our own mind.

Don’t think that examining and knowing the nature of your mind is just an Eastern trip. That’s a wrong conception. It’s your trip. How can you separate your body, or your self-image, from your mind? It’s impossible. You think you are an independent person, free to travel the world, enjoying everything. Despite what you think, you are not free. I’m not saying that you are under the control of someone else. It’s your own uncontrolled mind, your own attachment that oppresses you. If you discover how you oppress yourself, your uncontrolled mind will disappear. Knowing your own mind is the solution to all your problems.

lamayeshesummer2000a
Lama Yeshe © Carol Royce-Wilder

One day the world looks so beautiful; the next day it looks terrible. How can you say that? Scientifically, it’s impossible that the world can change so radically. It’s your mind that causes these appearances. This is not religious dogma; your up and down is not religious dogma. I’m not talking about religion; I’m talking about the way you lead your daily life, which is what sends you up and down. Other people and your environment don’t change radically; it’s your mind. I hope you understand that.

Similarly, one person thinks that the world is beautiful and people are wonderful and kind, while another thinks that everything and everyone is horrible. Who is right? How do you explain that scientifically? It’s just their individual mind’s projection on the sense world. You think, “Today is like this; tomorrow is like that; this man is like this; that woman is like that.” But where is that absolutely fixed, forever-beautiful woman? Who is that absolutely forever-handsome man? They are nonexistent-they are simply creations of your own mind.

Do not expect material objects to satisfy you or to make your life perfect; it’s impossible. How can you be satisfied by even vast amounts of material objects? How will sleeping with hundreds of different people satisfy you? It will never happen. Satisfaction comes from the mind.

If you don’t know your own psychology, you might ignore what’s going on in your mind until it breaks down and you go completely crazy. People go mad through lack of inner wisdom, through their inability to examine their own mind. They cannot explain themselves to themselves; they don’t know how to talk to themselves. Thus they are constantly preoccupied with all these external objects, while within, their mind is running down until it finally cracks. They are ignorant of their internal world, and their minds are totally unified with ignorance instead of being awake and engaged in self-analysis. Examine your own mental attitudes. Become your own therapist.

You are intelligent; you know that material objects alone cannot bring you satisfaction, but you don’t have to embark on some emotional, religious trip to examine your own mind. Some people think that they do; that this kind of self-analysis is something spiritual or religious. It’s not necessary to classify yourself as a follower of this or that religion or philosophy, to put yourself into some religious category. But if you want to be happy, you have to check the way you lead your life. Your mind is your religion.

Don’t think that examining and knowing the nature of your mind is just an Eastern trip. That’s a wrong conception. It’s your trip.

When you check your mind, do not rationalize or push. Relax. Do not be upset when problems arise. Just be aware of them and where they come from; know their root. Introduce the problem to yourself: “Here is this kind of problem. How has it become a problem? What kind of mind feels that it’s a problem?” When you check thoroughly, the problem will automatically disappear. That’s so simple, isn’t it? You don’t have to believe in something. Don’t believe anything! All the same, you can’t say, “I don’t believe I have a mind.” You can’t reject your mind. You can say, “I reject Eastern things”—I agree. But can you reject yourself? Can you deny your head, your nose? You cannot deny your mind. Therefore, treat yourself wisely and try to discover the true source of satisfaction.

When you were a child you loved and craved ice cream, chocolate, and cake, and thought, “When I grow up, I’ll have all the ice cream, chocolate, and cake I want; then I’ll be happy.” Now you have as much ice cream, chocolate, and cake as you want, but you’re bored. You decide that since this doesn’t make you happy you’ll get a car, a house, television, a husband or wife—then you’ll be happy. Now you have everything, but your car is a problem, your house is a problem, your husband or wife is a problem, your children are a problem. You realize, “Oh, this is not satisfaction.”

What, then, is satisfaction? Go through all this mentally and check; it’s very important. Examine your life from childhood to the present. This is analytical meditation: “At that time my mind was like that; now my mind is like this. It has changed this way, that way.” Your mind has changed so many times but have you reached any conclusion as to what really makes you happy? My interpretation is that you are lost. You know your way around the city, how to get home, where to buy chocolate, but still you are lost—you can’t find your goal. Check honestly—isn’t this so?

Lord Buddha says that all you have to know is what you are, how you exist. You don’t have to believe anything. Just understand your mind; how it works, how attachment and desire arise, how ignorance arises, and where emotions come from. It is sufficient to know the nature of all that; that alone can bring you happiness and peace. Thus, your life can change completely; everything turns upside down. What you once interpreted as horrible can become beautiful.

If I told you that all you were living for was chocolate and ice cream, you’d think I was crazy. “No! no!” your arrogant mind would say. But look deeper into your life’s purpose. Why are you here? To be well liked? To become famous? To accumulate possessions? To be attractive to others? I’m not exaggerating—check yourself, then you’ll see. Through thorough examination you can realize that dedicating your entire life to seeking happiness through chocolate and ice cream completely nullifies the significance of your having been born human. Birds and dogs have similar aims. Shouldn’t your goals in life be higher than those of dogs and chickens?

I’m not trying to decide your life for you, but you check up. It’s better to have an integrated life than to live in mental disorder. A disorderly life is not worthwhile, beneficial to neither yourself nor others. What are you living for—chocolate? Steak? Perhaps you think, “Of course I don’t live for food. I’m an educated person.” But education also comes from the mind. Without the mind, what is education, what is philosophy? Philosophy is just the creation of someone’s mind, a few thoughts strung together in a certain way. Without the mind there’s no philosophy, no doctrine, no university subjects. All these things are mind-made.

lamayeshesummer2000c
© Carol Royce-Wilder

How do you check your mind? Just watch how it perceives or interprets any object that it encounters. Observe what feelings—comfortable or uncomfortable—arise. Then check, “When I perceive this kind of view, this feeling arises, that emotion comes; I discriminate in such a way. Why?” This is how to check your mind; that’s all. It’s very simple.

When you check your own mind properly, you stop blaming others for your problems. You recognize that your mistaken actions come from your own defiled, deluded mind. When you are preoccupied with external, material objects, you blame them and other people for your problems. Projecting that deluded view onto external phenomena makes you miserable. When you begin to realize your wrong-conception view, you begin to realize the nature of your own mind and to put an end to your problems forever.

Is all this very new for you? It’s not. Whenever you are going to do anything, you first check it out and then make your decision. You already do this; I’m not suggesting anything new. The difference is that you don’t do it enough. You have to do more checking. This doesn’t mean sitting alone in some corner contemplating your navel—you can be checking your mind all the time, even while talking or working with other people. Do you think that examining the mind is only for those who are on an Eastern trip? Don’t think that way. Realize that the nature of your mind is different from that of the flesh and bone of your physical body. Your mind is like a mirror, reflecting everything without discrimination. If you have understanding-wisdom, you can control the kind of reflection that you allow into the mirror of your mind. If you totally ignore what is happening in your mind, it will reflect whatever garbage it encounters-things that make you psychologically sick. Your checking-wisdom should distinguish between reflections that are beneficial and those that bring psychological problems. Eventually, when you realize the true nature of subject and object, all your problems will vanish.

Some people think they are religious, but what is religious? If you do not examine your own nature, do not gain knowledge-wisdom, how are you religious? Just the idea that you are religious—“I am Buddhist, Jewish, whatever”—does not help at all. It does not help you; it does not help others. In order to really help others, you need to gain knowledge-wisdom.

The greatest problems of humanity are psychological, not material. From birth to death, people are continuously under the control of their mental sufferings. Some people never keep watch on their minds when things are going well, but when something goes wrong—an accident or some other terrible experience—they immediately say, “God, please help me.” They call themselves religious but it’s a joke. In happiness or sorrow, a serious practitioner maintains constant awareness of God and one’s own nature. You’re not being realistic or even remotely religious if, when you are having a good time, surrounded by chocolate and preoccupied by worldly sense pleasures, you forget yourself, and turn to God only when something awful happens.

No matter which of the many world religions we consider, their interpretation of God or Buddha and so forth is simply words and mind; these two alone. Therefore, words don’t matter so much. What you have to realize is that everything-good and bad, every philosophy and doctrine—comes from mind. The mind is very powerful. Therefore, it requires firm guidance. A powerful jet plane needs a good pilot; the pilot of your mind should be the wisdom that understands its nature. In that way, you can direct your powerful mental energy to benefit your life instead of letting it run about uncontrollably like a mad elephant, destroying yourself and others.

I think you understand what I’m talking about. What I want is for you to check up. A simple way of checking up on your own mind is to investigate how you perceive things, how you interpret your experiences. Why do you have so many different feelings about your boyfriend even during the course of one day? In the morning you feel good about him, in the afternoon, kind of foggy; why is that? Has your boyfriend changed that radically from morning to afternoon? No, there’s been no radical change, so why do you feel so differently about him? That’s the way to check.

[Also] before you do anything, you should ask yourself why you are doing it, what is your purpose; what course of action are you embarking on. If the path ahead seems troublesome, perhaps you shouldn’t take it; if it looks worthwhile, you can probably proceed. First, check up. Don’t act without knowing what’s in store for you.

This is an excerpt from Make Your Mind an Ocean: Aspects of Buddhist Psychology (1999). Used with permission of Lama Yeshe Wisdom Archive, Boston.

Temple
Get Daily Dharma in your email

Start your day with a fresh perspective

SIGN UP

Jangan Memasang Karakter/Huruf “FU” Secara Terbalik

Standard

Sebentar lagi Festival Musim Semi, semua orang Tionghoa yang merayakan Imlek biasanya akan menempelkan karakter huruf  (Fu) yang berarti keberuntungan pada pintu, jendela, dinding atau palang rumah mereka. Hal ini sudah menjadi kebiasaan turun temurun orang Tionghoa hingga sekarang.

Tetapi, ada cerita yang unik dibalik pemasangan karakter huruf  (Fu) yang dipasang secara terbalik dengan tujuan ucapan selamat datangnya musim semi dan berdoa untuk kebahagiaan.

Namun mengapa harus sampai ditempel secara terbalik? Apakah karena orang dulu telah salah menempel lalu dipandang sebagai sesuatu yang bermakna sehingga sampai sekarang orang menempelkan huruf Fu secara terbalik? Atau adakah makna dibalik karakter Fu yang di tempel terbalik?

Konon Orang-orang dulu menyebutkan, menempel karakter Fu dengan cara terbalik dalam bahasa China 福 倒 (Fu Dao) artinya “keberuntungan memutar terbalik”, tetapi  (dao) “terbalik” juga terdengar sama sebagai  (dao) yang berarti “tiba”, dengan demikian representasi tersebut juga umumnya berarti 福倒 (Fu Dao) yang artinya “keberuntungan yang akan tiba atau datang”.

Dengan demikian tujuan mengubahnya terbalik adalah untuk melambangkan makna “keberuntungan tiba atau datang” selama tahun baru nanti. Ketika keberuntungan terbalik itu berarti “Keberuntungan datang” atau “nasib telah tiba”. Di bawah ini ada asal usulnya.

Tetapi, dalam menggantungkan karakter huruf 福 (FU) sebaiknya JANGAN DIBALIK. Jangan ikut-ikutan tahayul yang salah. Nantinya bukan mendapatkan rejeki dan harta, tapi malah mendapatkan musibah. Maka dari itu YANG BENAR JANGAN SENGAJA DISALAH- SALAHKAN.

Karakter Fu Terbalik

Berikut asal usul kenapa huruf “Fu” sampai dipasang secara terbalik

Pada zaman dahulu, khususnya zaman dinasti Ming, ada seorang tukang kayu yang sangat ternama. Ia pandai membangun rumah, tata letak rumah, dan ia juga suka mengukir motif bunga yang indah di sebuah kayu atau batang pohon. Konon ukiran atau lukisan hasil karyanya mirip seperti aslinya. Karena keahliannya yang luar biasa dalam membangun, mengukir, dan melukis, orang pada zaman itu menjulukinya dengan sebutan “Tai Shan”.

Tai Shan adalah nama sebuah gunung yang terkenal dengan keindahannya dan kekokohannya di propinsi Shan Dong, maksud mereka rumah yang dibangun oleh “Tai Shan” akan sekokoh gunung Tai. Karena itu barang siapa yang bisa memakai Tai Shan untuk membangun sebuah rumah yang lengkap dengan segala ukiran dan lukisannya, akan disebut beruntung.

Bahkan orang-orang dari seluruh penjuru negeri akan berbondong-bondong melihat rumah itu dan mengaguminya, sehingga pemilik rumah bertambah bangga. Dan biasanya jika Tai Shan sudah bersedia membangun rumah yang indah untuk seseorang, maka orang itu akan menjamu Tai Shan minuman anggur yang baik dan makanan yang lezat. Maksud mereka adalah supaya Tai Shan dan semua muridnya bisa lebih semangat membangun rumah mereka.

Suatu hari, ada seorang pedagang kaya yang berniat mengundang Tai Shan dan para muridnya membangun rumah baginya. Sungguh susah mengundang Tai Shan, ia harus mengantri lama dan bernegosiasi alot untuk dapat mengundangnya. Setelah Tai Shan setuju, pedagang itu sangat senang.

Ia terkagum-kagum saat menyaksikan rumahnya selesai dibangun. “Sungguh seni tata ruang dan desain interior yang luar biasa, “ Demikian ia mengagumi karya Tai Shan. Belum lagi ukiran-ukiran indah dengan nilai seni yang sangat tinggi menghiasi berbagai sudut rumah. Lukisan yang seindah warna aslinya menambah elok rumah tersebut.

“Saya sudah pergi ke berbagai penjuru negeri, tetapi belum pernah melihat rumah sekokoh dan seindah rumah ini.” Demikian si pemilik rumah berkata kepada rekan-rekan bisnis dan orang-orang di sekitarnya.

Kabar ini tersiar luas sehingga para tentangga dan orang dari berbagai daerah datang ke daerah itu hanya untuk membuktikan bahwa rumah kokoh dan indah serta menjadi bahan pembicaraan masyarakat itu bukanlah isapan jempol belaka.

Umumnya orang terkagum-kagum dan menghabiskan waktu berjam-jam bahkan berhari-hari hanya untuk melihat setiap sudut rumah sang pedagang. Untuk menyatakan kepuasan atas rumahnya, ia mengadakan hajatan sebagai pengucapan syukur.

Ia bukan hanya mengundang kerabat, rekan bisnis, dan tetangganya, tetapi juga mengundang semua orang yang mengagumi rumahnya. Dan ia mengadakan pesta yang terbesar yang pernah ada di daerah tersebut. Karena sang pedagang kaya tahu bahwa Tai Shan dan para muridnya suka jeroan, seperti hati, limpah, rempolo, usus, paru, jantung, maka ia menyimpan sejeroan hanya untuk Tai Shan dan para muridnya.

Dan supaya lebih enak, semua jeroan itu direndam di dalam minyak yang paling enak dan mahal saat itu, lalu digoreng, dan setelah itu dibungkus rapi dalam kemasan yang baik. Ini dimaksudkan agar Tai Shan dan muridnya, dalam perjalanan pulang ke kampung mereka, masih bisa menyantap makanan kesukaan mereka itu.

Namun, Tai Shan waktu itu salah mengerti maksud sang pedagang kaya. Ketika mereka tiba di tempat pesta, mereka melihat bahwa semua tamu sudah menyantap makanan sehingga tersisa sedikit dan tidak ada sisa jeroan sama sekali. Tai Shan berpikir bahwa si pedagang sungguh tidak menghargainya karena tidak menyisihkan makanan kesukaannya.

Tai Shan panas hati dan berniat memberi pelajaran kepada pemilik rumah. Pada larut malam setelah semua orang tidur, Tai Shan dan para muridnya diam-diam mulai membuat beberapa aksesori dalam rumah agar mudah rusak, bahkan merusak beberapa aksesori penting (namun tidak mudah terlihat kalau aksesori itu sudah dirusak). Tai Shan percaya kalau aksesori rumah dirusak, maka ini akan mempengaruhi bisnis seseorang.

Pada keesokan harinya, setelah selesai sarapan, mereka segera meninggalkan rumah pedagang kaya itu dengan sikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ketika berpamitan, sang pedagang menitipkan bungkusan yang lumayan besar kepada para muridnya.

Pikirannya hanyalah sesegera mungkin meninggalkan rumah itu agar bila si pedagang menemukan rumahnya telah dirusak, maka tidak akan berpikir bahwa dia yang merusaknya, karena dirumah pedagang itu sebagian tamu juga belum pulang.

Tai Shan mengutuk dan mengomel pedagang itu sepanjang jalan. Ketika hari sudah siang dan mereka sudah menempuh perjalanan yang jauh, seorang muridnya memohon untuk istirahat dan mencari makan. Betapa terkejutnya Tai Shan ketika para muridnya membuka bungkusan yang diberikan kepada mereka.

Ternyata jeroan yang diinginkannya semua ada didalam bingkisan itu. “Demikian banyaknya, jangan-jangan semua jeroan disimpan hanya untuk saya,” ujar Tai Shan.

Tai Shan pun menyadari bahwa dia telah bersalah pada pedagang itu, hatinya tidak tenang. Akhirnya ia menulis beberapa huruf  “Fu” dan memerintahkan kepada para muridnya untuk segera berlari dan menempelkan beberapa huruf  “Fu” terbalik di semua pintu rumah pedagang itu sambil berteriak, “Fu Dao Le!”.

“Ajaklah sebanyak mungkin orang untuk bersama-sama berseru Fu Dao le. Hanya dengan cara demikian kutuk dan kesialan yang dirancang Tai Shan bisa dipatahkan, dan sebaliknya berkat akan melimpah pada pedagang itu,” pesan Tai Shan.

Ketika para murid Tai Shan tiba di rumah pedagang tersebut, terlihat bahwa sang pedagang bersiap untuk memulai bisnisnya, maka para murid sesegera mungkin menempelkan “Fu Dao” sambil berseru dan mengajak orang lain untuk berteriak “Fu Dao”.

Orang-orang pun heran dan bertanya “Bukankah yang kalian tempel itu Fu Dao (berkat terbalik)? Dan para murid Tai Shan pun menjawab, ”Ya, tetapi persamaan bunyi dari huruf ini adalah Fu Dao (berkat sampai melimpah). Hanya dengan demikian berkat itu akan melimpah dan keberuntungan akan mengalir kepada pedagang itu.

Beberapa waktu berselang, pedagang kaya itu bertambah makmur dan kaya raya. Oleh karena itu, orang-orang yang hadir saat itu mulai menempelkan huruf Fu Dao di pintu-pintu mereka dengan harapan berkat akan sampai dan melimpah dalam kehidupan mereka seperti yang dialami pedagang tersebut.

Pada dewasa ini hampir di setiap toko, pusat perbelanjaan, bahkan di pintu-pintu rumah tinggal orang menempelkan huruf Fu Dao (Dao berarti terbalik) agar Fu (berkat) benar-benar Dao (Sampai).

Karakter huruf Fu

Demikian asal usul huruf “Fu” yang dipasang secara terbalik diatas. Tentunya kita jangan sampai ikut-ikutan dengan kasus yang terjadi diatas, yang menurut penulis hanyalah sebuah “kecelakaan” akibat rasa sirik yang timbul dari dalam hati.

Mari kita lestarikan tradisi dan budaya Tionghoa yang BENAR, dengan memasang/menempel/menggantung hiasan huruf/karakter FU di rumah dengan posisi yang BENAR (menghadap keatas), jangan dibalik/diputar. Bagi orang awam, ini akan makin terlihat aneh dan bodoh.

Catatan : Asal usul huruf Fu yang dipasang terbalik ini sebenarnya ada beberapa versinya. Bisa jadi hanyalah sebuah karangan manusia saja, yang mungkin memang tidak tahu, atau memang sirik dengan kebudayaan orang Tionghoa.