Monthly Archives: December 2012

AVALOKITESVARA ASTOTTARASATANAMA SUTRA – Sutra 108 Nama Arya Avalokitesvara

Standard





 AVALOKITESVARA ASTOTTARASATANAMA SUTRA
  Sutra 108 Nama 

Arya Avalokitesvara

Om Guru Liansheng Siddhi Hum
Namo Suvarnaprabhasauttamaraja Sutra
Om Sarasvatyai Svaha

Source : Taisho Tripitaka Vol 20 . No 1054

Translated by Lianhua Jun Shian

如是我聞。一時佛在補怛落迦山聖觀自在菩薩宮。其山峰峙眾寶所成。無垢清淨閻浮檀金。摩尼寶王種種珍寶。妙色光明常普照曜復有如意天劫波樹。恒時流出阿僧祇數。蘇羅鼻香栴檀沈水。俱蘇摩華柔軟適意。妙色芬芳處處嚴飾。
復有無量百千萬億那由他數。天龍夜叉乾闥婆阿修羅迦樓羅緊那羅摩睺羅迦人非人等往詣佛所頭面作禮。供養恭敬尊重讚歎。一心合掌寂然聽法。
Demikianlah yang aku dengar, pada suatu ketika Buddha berada di Istana Avalokitesvara Bodhisattva di Gunung Potaloka. Puncak gunung ini terbuat dari berbagai macam ratna mutumanikam, Jambunada-suvarna ( emas yang terunggul ) yang murni tiada noda, Raja Ratna Permata dan berbagai macam batu mulia. Sungguh indah dan senantiasa bersinar menerangi semua. Disana juga terdapat Pohon Kalpataru. Senantiasa semerbak bau wangi agaru dan cendana yang tak terhingga banyaknya. Terdapat berbagai bunga kusuma nan indah yang menghiasi dimana-mana dan memancarkan keharuman.
Kemudian para Dewa, Naga, Yaksa, Gandharva, Asura, Garuda, Kinnara, Mahoraga , manusia dan makhluk bukan manusia berdatangan untuk menghaturkan sembah sujud pada Sang Buddha. Menghaturkan pujana, penghormatan dan memanjatkan puji-pujian. Beranjali , menjaga ketenangan, dan dengan sepenuh hati bersiap mendengarkan Dharma.

爾時世尊告梵王言。如來說法初中後善。其義深遠其語巧妙。純一無雜圓滿清淨梵行之相。隨宜說法利益眾生。是聖觀自在菩薩一百八名。若有聞者百千萬億無數劫中不墮惡趣。彼人若有五無間業盡得消除。世世生生得宿命智。聖觀自在菩薩一百八名祕密明曰。
Kemudian Sang Bhagavan memberitahukan kepada Raja Brahma : “Dharma yang dibabarkan Sang Tathagata, indah pada mulanya, indah pada pertengahan dan indah pada akhirnya. Mengandung makna mendalam dan ucapannya penuh keluhuran. Merupakan atribut kehidupan suci yang murni , sempurna dan tiada kekacauan. Membabarkan Dharma yang sesuai demi memberikan manfaat pada para insan. Inilah Seratus Delapan Nama Agung Arya Avalokitesvara Bodhisattva, barangsiapa mendengarnya dengan sepenuh hati , maka dalam waktu berkalpa-kalpa tidak akan terjerumus ke alam rendah, menyingkirkan karma lima pelanggaran tak terhingga, dalam setiap kelahiran memperoleh kemampuan mengingat berbagai kehidupannya.
Demikianlah Aku babarkan 108 Nama Agung Arya Avalokitesvara Bodhisattva :

☸ 01
Om Namo Avalokitesvaraya
Padma-sattva Maha-padma Loke-svara Mahesvara
Avalokitesa Dhiragrya Vajra-dharma Namostute.

☸ 02
Dharma-raja Maha-suddha Sattva-raja Mahamate
Padmaatmaka Maha-padma Padma-natha Namostute.

☸ 03
Padmodbhava Supadmabha Padma-suddha Susodhaka
Vajra-padma Supadmanka Padma-padma Namostute.

☸ 04
Maha-visva Maha-loka Maha-kaya Mahopama
Maha-dhira Maha-vira Mahasaure Namostute.

☸ 05
Sattvasaya Mahayana Maha-yoga Pitamaha
Sambhu Sankara Suddhartha Buddha-padma Namostute.

☸ 06
Dharma-tattva-artha Saddharma Suddhaddharmam Sudharmakrt
Mahadharma Sudharmagrya Dharmacakra Namostute.

☸ 07
Buddha-sattva Susattvagrya Dharmasattva Susattvadhrk
Sattvottama Susattvajna Sattvasattva Namostute.

☸ 08
Avalokitesa Nathagrya Mahanatha Vilokita
Alokaloka Lokaartha Lokanatha Namostute.

☸ 09
Lokaaksaraaksara Maha Aksaraagryaaksaropama
Aksaraaksara Sarvaaksa Cakraaksara Namostute.

☸ 10
Padmahasta Mahaahasta Samaasvaasaka Daayaka
Buddhadharma Mahabuddha Buddhaatmaka Namostute.

☸ 11
Buddharupa Maharupa Vajrarupa Surupavit
Dharmaloka Sutejaagrya Lokaaloka Namostute.

☸ 12
Padmasrinaatha Naathaagrya Dharmasrinaatha Naathavaan
Brahyanaatha Mahaabrahma Brahmaputra Namostute.

☸ 13
Dipa Dipaagrya Dipogra Dipaaloka Sudipaka
Dipanaatha Mahaadipa Buddhadipa Namostute.

☸ 14
Buddhaabhisikta Buddhaagrya Buddhaputra Mahaabudha
Buddhaabhisekamurddhaagrya Buddhabuddha Namostute.

☸ 15
Buddhacakso Mahacakso Dharmacakso Maheksana
Samadhijnanasarvasva Vajranetra Namostute.

☸ 16
Evam Sarvaatmanaa Gaunam Naamnamastasatam Tava
Bhaavayet Stunuyaadvaapi Lokaisvaryamavaapnuyaat.

Aaryaavalokitesvara-naamaa-stottara-satadhyesanaa-Stotram Samaaptam !

爾時佛告梵王及帝釋言。若有受持讀誦此聖觀自在菩薩一百八名祕密明者。當知是人世世生生。恒得睹見聖觀自在。若恒受持得大富貴。獲得聰明獲得勇猛。獲得端嚴獲得妙聲。獲得辯才。獲得恒知一切法義入曼拏羅。凡有所祈一切真言悉地成就。早晨課念永無病苦疥癩氣疾。臨命終時往生西方極樂世界。
Kemudian Sang Buddha memberitahukan pada Raja Brahma dan Sakradevanam Indra : “Jika ada yang menjapakan Vidya Rahasya dari 108 Nama Agung Arya Avalokitesvara Bodhisattva ini, ketahuilah bahwa dalam setiap kelahirannya ia akan senantiasa berjumpa dengan Arya Avalokitesvara. Jika dapat tekun menjapakannya ia akan memperoleh kemakmuran dan kehormatan agung. Memperoleh kepandaian dan ketekunan yang tak luntur. Memperoleh kerupawanan dan suara yang merdu. Memperoleh kefasihan berbicara yang bermanfaat. Memperoleh makna sejati Sarva-dharma dan mampu memasuki mandala. Segala harapan doa dan semua mantra yang ditekuninya akan menghasilkan Siddhi. Jika tiap pagi dapat melafalkannya, maka tidak akan didera derita sakit penyakit, termasuk penyakit kulit dan prana. Kelak pada akhir hidupnya akan terlahid di Sukhavatiloka.

爾時世尊告梵王。言若人受持六十二億恒河沙數諸佛名號。復能盡形四事供養。是人所獲果報多不。
梵王白言甚多世尊甚多善逝。
佛言若人受持聖觀自在菩薩一百八名。乃至須臾禮拜供養。二人果報正等無異。
梵王當知受持讀誦聖觀自在菩薩一百八名。獲得如是無量無邊福報之利。何況盡形受持讀誦。所獲功德世世生生不可窮盡。
爾時世尊說是語已。大梵天王及天帝釋。天龍八部一切大眾。聞佛所說信受奉行。
聖觀自在菩薩一百八名經
Sang Bhagavan memberitahukan pada Raja Brahma : “Jika ada orang yang menjapakan Nama Agung dari Para Buddha yang banyaknya bagaikan butiran pasir sungai Gangga, disertai dengan pujana empat hal, bagaimankah berkah hasil yang akan diperoleh orang tersebut ?”
Raja Brahma menjawab : “Sungguh banyak wahai Bhagavan. Sungguh banyak wahai Sugata.”
Buddha berkata : “Jika menjapakan 108 Nama Agung Arya Avalokitesvara Bodhisattva, sekalipun hanya sesaat memberi hormat dan pujana, maka berkah pahala hasil perbuatan bajik keduanya tidak berbeda.” ( antara perumpamaan pertama dengan yang terakhir )
“Wahai Raja Brahma, ketahuilah bahwa melafalkan 108 Nama Agung Arya Avalokitesvara Bodhisattva ini akan menghasilkan manfaat berupa berkah karunia yang tak terhingga seperti itu, apalagi bila dapat menjapakannya seumur hidup, pahala kebajikannya tidak akan pernah habis.”
Usai Sang Bhagavan membabarkan Dharma, Raja Brahma dan Sakradevanam Indra, beserta Para Dewata, Naga, Delapan Kelompok Makhluk dan para hadirin menerima dan mempraktekkan ajaran Sang Buddha.

Aaryaavalokitesvara-naamaa-stottara-satadhyesanaa-Sutra Sampurnam !

Om Bhrim Om Bhrim Om Bhrim
Om Mani Padme Hum
Sarva-mangala-paripurna !

願以此翻譯及推廣聖觀自在菩薩一百八名秘密明功德迴向根本傳承上師蓮生佛,佛體安康,常駐世間,不入涅槃,永轉法輪,十方觀世音護持蓮生佛今生菩提事業,廣度更多無量無盡眾生回歸清淨本源嘛哈雙蓮池。
Jasa pahala penterjemahan dan penyebarluasan Vidya Rahasya 108 Nama Agung Arya-avalokitesvara Bodhisattva ini dilimpahkan kepada Maha-mula-acarya Lian-sheng , senantiasa sehat tenteram, menetap di dunia, tidak memasuki parinirvana, selamanya memutar Dharma-cakra , 10 penjuru Avalokitesvara mendukung aktivitas Bodhi kehidupan saat ini dari Buddha Lian-sheng , supaya menuntun lebih banyak lagi para insan yang tak terhingga, kembali pada mula kemurnian Mahapadminiloka !

Lord Ganesh

Standard



Om Guru Lian-sheng Siddhi Hum
Om Sarasvatyai Svaha
Namo Suvarnaprabha Sutra

Translated By Lianhua Jun Shian

Jambhala Raja dari Sumber Daya.
Kekuatan agung mampu menganugerahkan berkah karunia.
Dengan mantra tantra mengundang Mu.
Dengan Sadhana ini terpenuhi harapanku.
( Buku ke 75 Buddha Lian-sheng Lu Sheng-yan )

◦•◦✽ “Ganesh memberitahu pada semua, asalkan berdoa dengan tulus kepada Nya, maka Beliau pasti memberikan jawaban.”

◦•◦✽ Bathara Ganesh mampu memberikan prediksi mengenai apa yang akan terjadi setiap harinya.

◦•◦✽
Kemudian, Ganesha melayang ke tengah angkasa, kepala Nya sangat besar, berambut keemasan, mata Nya terbuka, pupil mata Nya biru, hidungnya sangat panjang, terjulur keluar kemudian mengait ke dalam, Beliau tersenyum, tubuh Nya manusia, dengan cahaya aneka warna, berlengan banyak, tidak hanya berlengan empat, enam maupun delapan. 

Tangan Nya memegang sankha , mutiara, batu delima, jade, japamala bunga, chatra, lobak, parasu, pasa, ankusa, gada dan lain sebagainya.

Di angkasa Hyang Ganesh mengatakan :

Tubuh Ku adalah terang , dan Aku memiliki ikrar.
Vajra disentuhkan di usnisa Ku.
Segala pakaian , hiasan dan semacamnya,
Lima macam tanaman pangan , semua akan terpenuhi.
Sawah, kebun, gunung, hutan dan berbagai lahan untuk bekerja,
Aneka ragam batu mulia dan harta benda,
Kemasyhuran, kemakmuran dan kedudukan mulia,
Semua yang didambakan oleh sadhaka mulia,
Dan semua yang Anda gemari,
Aku akan menganugerahkannya.

Aku memahami, kenapa Rakta Jambhala bisa menjadi sosok Dewa Rejeki, ini dikarenakan ikrar agung Nya.

◦•◦✽ Dengan sungguh saya beritahukan pada semua : “Ganesha Rakta Jambhala sungguh menampakkan diri, memberitahukan pada para siswa Zhenfo zong, bila dengan tulus berdoa kepada Nya, pasti ada tanggapan.”

◦•◦✽
Gajavaktra ( ket penterjemah : Nama lain Ganesha yang berarti Yang Berkepala Gajah ) Jambhala paling gemar menghitung daun lobak. 

Saya bertanya pada-Nya :
“Mengapa ?”

Beliau menjawab : 
“Mengetahui nasib dan peruntungan umat manusia.”

Ternyata Gajavaktra Jambhala menghitung daun lobak adalah untuk menghitung harta kekayaan umat manusia, seperti satu orang dalam hidup ini dapat memperoleh berapa banyak harta kekayaan, dapat memperoleh berapa banyak sandang dan papan, dapat memperoleh berapa banyak pangan, mempunyai berapa bangunan dan lahan, berapa banyak batu mulia, Gajavaktra Jambhala mampu mengungkapkan semua satu persatu, bagaikan menghitung benda berharga satu keluarga, sangat tepat dan tiada kesalahan. 

◦•◦✽
Gajavaktra Jambhala mampu mengungkapkan harta kekayan tersembunyi dari setiap keluarga, bahkan tiap orang yang datang bertamu, berapa banyak pemasukannya setiap bulan, oleh karena itu semua sangat kagum pada Nya. 

Pada suatu hari, 
Gajavaktra Jambhala duduk diatas Dharmasana ku, memegang satu lobak yang besar, diletakkan diatas lutut Nya, jari jemari Nya dengan lincah sekehendak Nya menghitung daun lobak, Beliau melakukannya dengan serius dan penuh konsentrasi. 

Sebentar-sebentar Beliau mengangguk, sebentar-sebentar menggeleng, Beliau menggelengkan kepala sampai seakan akan kedua telinga Nya yang lebar hendak lepas ! 

“Menghitung siapa ? “
“Punya Anda.”
“Saya adalah Zhen-ren yang tidak menampilkan rupa sejati.”Kata saya.
“Yang bisa diketahui bukanlah Zhen-ren.” Beliau menimpali.
Kami berdua tertawa terbahak-bahak.

Selesai tertawa, Gajavaktra Jambhala kembali menghitung daun lobak, raut Nya berubah menjadi masam, Beliau mengatakan : “Sungguh malang !”

“Malang kenapa ?”

“Anda ! Padmakumara yang terlahir di dunia manusia, terlebih dahulu turun di Surga Mara, dan ditetapkan untuk menemui rintangan mara seumur hidup. Apakah Anda masih ingat yang telah dikatakan oleh Raja Mara ? “
( Ket penterjemah : Raja Mara adalah Mahesvara ayah dari Bathara Ganesha sendiri, demikian pula dalam Tripitaka, satu sutra yang memuat beberapa nama suci Ganesha, salah satu nama suci Nya adalah Raja Mara. Sesungguhnya Ganesha dan Mahesvara tiada berbeda, disini Ganesha sendiri yang membicarakan mengenai pesan Raja Mara, mengandung makna yang mendalam.)

“Ingat.”
“Raja Mara mengatakan, kelak akan memasuki hati Guru Anda, supaya ia mencampakkan Anda”

“Benar.”

Saat ini sungguh terbukti ucapan Raja Mara, beberapa guru dunia saya, tidak peduli bagaimanapun saya menghormati mereka, bagaimanapun mentaati mereka, namun mereka mencampakkan saya siswa yang menghormati Guru ini.

( Tidak peduli bagaimanapun Guru dunia memaki saya, memukul saya, saya tidak akan melawan, sebab Guru adalah Guru, sekalipun mereka tidak menghendaki saya, namun tetap saja adalah Guru.)

“Raja Mara mengatakan, kelak akan merasuki hati orang dekat Anda, supaya mencampakkan Anda.”

“Benar.”

Diantara kerabat saya, sungguh ada yang menentang dan tidak meyakini, inilah yang dikatakan sebagai “Kerabat sendiri sukar dituntun.”

Sesungguhnya untuk menekuni Buddhisme juga ada pernana nasib, ada orang yang dalam seketika langsung menunjukkan afinitas, ada juga yang telah dituntun siang dan malam, namun tidak selalu dapat berhasil dituntun. Ada kerabat yang mengatakan kepada orang-orang bahwa apa yang saya kuasai adalah ilmu sesat. 

Hyang Ganesha melanjutkan “Raja Mara mengatakan kelak akan merasuki hati siswa Anda, supaya mereka mencampakkan Anda.”

“Benar.”

Ini justru lebih membuktikan kebenaran ucapan Raja Mara. Siswa yang balik memfitnah Zhenfo zong juga banyak, hal ini tak terhindarkan, diantara 2 juta siswa tidak semua baik, hanya sedikit yang mampu mempertahankan sradha, ada sebagian siswa yang pergi dikarenakan menemui masalah dengan sesama, lebih banyak lagi yang pergi dikarenakan kalah dengan fitnahan dari luar. Bahkan ada siswa yang dikarenakan gagal memperoleh nama dan keuntungan, sehingga balik menyerang Guru sendiri. 

Selain itu, ada juga yang saling berebut dukungan sampai saling mendengki, menciptakan pertikaian berkepanjangan, mereka tidak pernah tenteram. 

Sejak jaman dahulu sudah ada fenomena siswa mengkhianati Guru sendiri :
Yudas mengkhianati Yesus.
Devadatta mengkhianati Buddha Sakyamuni.

Sedangkan saya sendiri juga dikhianati oleh siswa, sebab Raja Mara pernah mengatakan :
“Akan merasuki hati siswa Anda supaya mereka mengkhianati Anda.”

Saat itu , saya mengatakan : “Aku mampu merelakan semua, dan mempertahankan Bodhicitta.”

Begitu Gaja-vaktra Jambhala menghitung nasib dan peruntungan saya, nampak fenomena suka cita agung – juga kesedihan yang besar, nampak kemakmuran agung – namun juga miskin papa, bagaimanapun tidak terhitung .

Dari hitungannya Beliau mengetahui bahwa pada tubuh saya terdapat hawa putih ungu, pada akhirnya Beliau mengatakan :
“Hitung sendiri saja !”

Kepada Gaja-vaktra Jambhala, saya mengatakan bahwa saya tidak pernah menghitung nasib dan peruntungan diri sendiri, sebab nasib dan peruntungan telah ditetapkan oleh langit, saya hanya tekun bersadhana saja. 
“Pekerjaan dan nama, semua itu hanya mimpi dan ilusi !”

( Buku Mahaguru Lian-sheng 75)

◦•◦✽◦•◦✽◦•◦✽◦•◦◦•◦✽◦•◦✽◦•◦✽◦•◦◦•◦✽◦•◦✽◦•◦✽◦•◦◦•◦✽◦•◦✽◦•◦✽◦•◦

財神資糧主。納福大神力。
密咒召請汝。法隨我如意。
(蓮生活佛盧勝彥文集75)


◦•◦✽「祂告訴人們,只要虔誠的向祂祈禱,祂有求必應。」

◦•◦✽象頭財神會預言每天將要發生的事。

◦•◦✽
於是,象頭財神騰身在虛空中,祂的頭甚大,有髮,是金色,目張開,是青色眼,鼻最長,伸出又略向內勾,作笑容,身是人身,有光彩,有多臂,不僅僅是四臂、六臂、八臂。手上持海螺、珍珠、瑪瑙、玉石、花念珠、傘、果菜、短斧、繩索、勾鎚等物。
象頭財神在虛空中說:

我身光明有誓願。
金剛杵舉置 我頂。
一切衣物首飾等。
五種谷類亦具足。
田園山林等物業。
各種金銀之寶庫。
名位財利尊貴位。
施主心中所喜者。
汝所欲者我皆供。

我明白,紅財神所以成為財神,正是祂的大誓願也。

◦•◦✽ 我實實在在的告訴大家:「紅財神確實顯身,告訴真佛宗的弟子們,若虔心祈禱,必有所應。」

◦•◦✽
象頭財神喜歡數蘿蔔葉子。
我問祂:「何以故?」
祂說:「知世人的命運。」
象頭財神數蘿蔔葉子,竟然是算計世人的財富,例如每一個人一生可得多少財富,可得多少衣物,可吃多少東西,有多少房地,珍奇珠寶有多少,象頭財神均能一一說出其中的內容,如數家珍、巨細無遺。

◦•◦✽
象頭財神能一一說出來客家中的珍密,甚至每一位來客,每一個月的收入,因此大家都非常嘆服。
有一天。
象頭財神坐在我坐的法座上,把一只大蘿蔔,放在膝蓋上,手指隨意的數著蘿蔔葉枝,一幅明察秋毫的樣子,精打細算的聚精會神。
祂一會兒點頭,一會兒搖頭,搖得大耳朵都快掉下來了!
「算誰的?」
「你的。」
「我是真人不露相。」我說。
「露相的非真人。」祂說。
我們兩位哈哈大笑。

笑完了,象頭財神又算蘿蔔葉,換上一幅愁眉苦臉的模樣,祂說:「真慘!」
「什麼真慘?」
「你,蓮花童子下降娑婆人間,先降魔王天,便註定被魔難一輩子。你還記得魔王當初對你說的話嗎?」
「記得。」
「魔王說,將入諸師之心,令背棄汝。」
「是的。」
如今果然印證了魔王的話,我的幾位皈依的人間師父,不管我是如何的恭敬他們,如何事奉他們,但是,出乎意料之外的,他們全背棄了我這位敬師的弟子。
(然而,不管人間師父,如何罵我,如何打我,我都是不吭一聲,因為師父就是師父,他們不要我,但,仍然是師父。
「魔王說,將入汝親人的心中,令背棄汝。」
「是的。」
我的親戚中,果然有出現反對的聲浪,親人之中也有不信服的,這是「親人難度」啊!
其實學習佛道,也必須有命,有人頃刻之間就會有緣,有人不分晝夜的度化,也不一定能度得予。有親戚對人說,我會的是邪法,懂得的是邪術。
「魔王說,將入汝弟子的心中,令背棄汝。」
「是的。」
這當然更印證了魔王的話。真佛宗的叛逆弟子也實在不少,這也是難免的,二百萬弟子,良莠不齊,能堅守道心的畢竟是少數,有些弟子因為人事是非拂袖而去,更多的弟子因為外界的誹謗而倒地不起。
更有些弟子爭名爭利,因為爭不到,反過來攻擊自己的師父。另外還有爭寵的,爭風吃醋的,鬧得風波連連,永無安寧的日子。
弟子出賣師父,古來就有:
「猶大」出賣耶穌。
「提婆達多」出賣釋迦牟尼 佛。
「穆聖」穆罕默德照樣被弟子出賣逃亡。

而我(蓮生活佛盧勝彥)照樣要被弟子出賣,因為魔王曾如此說:「將入汝弟子的心中,令背棄汝。」
在當時,我說:
「我全能施捨,堅守菩提心。」

象頭財神一算我的命運,是大喜也是大憂,是大富也是大貧,無論如何算不準。
祂算出我的身上有一股白紫氣。他最後說:
「你自己算自己吧!」

我對象頭財神說,我從來自己不算自己的命,因為命運都已經天定,我倒是努力修法而己。
「事業與功名,全是夢與幻啊」!

HOMA Fire Ritual in Hindu

Standard




is HINDU’s Homa only a simple offering ritual to the Gods ?
or only a ritual to worship Fire God ?

……….┏┉♥┈♡┈♥┈♡┈♥┉♡┈♥┉
………….° •♥☆ HOMA ☆♥•°

…………♡☆ FIRE RITUAL ☆♡
……………………...IN
…………….° •♥ HINDU ♥•°
……….└┉ ┉ ┉♡⌣̊┈̥-̶̯♈-̶̯┈̥⌣̊♡┉ ┉ ┉♈̷̴

Om Guru Lian-sheng Siddhi Hum
Om Sarasvatyai Svaha
Namo Suvarnaprabha Sutra

◦☆◦✽ WHAT IS HOMA ? ✽◦☆◦

Homam is a fire ritual. It is also known as homa or havan or yajna (yagya) or yajana. In homam,divine presence is invoked into fire using specific procedures. Then materials are offered intofire, along with sacred chants (mantras). The offerings are supposed to reach gods. It is interesting to note that fire ritual is an ancient practice and several religions taught worshipping gods in fire.

◦☆◦✽ WHY HOMA ? ✽◦☆◦

Hinduism teaches that gods come into fire and receive the prayers of spiritual aspirants. Even when one meditates without an external fire, gods being meditated on come into the internal fire of the aspirant and receive the mantras via that fire. However, the internal fire is quite weaker than an external fire for most people and hence it is beneficial to perform worship using an external fire. That practice eventually strengthens the internal fire also.

We all see and feel our sthoola sareera (gross body), which is made up of gross matter. But, wealso have a sookshma sareera (subtle body) made up of subtle matter. It cannot be perceived by the senses attached to the gross body (eyes, ears, nose etc). It contains thousands of naadis, which are essentially subtle channels of energy flow. A fire called bhootaagni (existential fire) burns in this subtle body. It is the subtle basis of one’s entire existence. It manifests in the gross body in the form of various fires. Examples are the “fire” in the stomach that helps one digest the food eaten and the “fire” in the brain that helps one digest and understand various sense experiences.

This bhootaagni is vital to one’s existence. In most people, it is quite weak. Due to impurities and obstructions in the naadis of the subtle body, this fire cannot burn strongly to energize the entire existence. When it burns low, the divine presence that can enter it is quite limited inmagnitude. If one overcomes the internal weaknesses such as desire, anger, greed, false prestige, wantonness and jealousy, develops compassion, one-pointed devotion, detachment, and sheds one layer of ego and delusion after another, eventually the impurities in the naadis will be cleared and bhootaagni will burn strong. However, this is a very difficult and time-consuming process. One can take advantage of an external fire in that regard. As the deity of homam enters the external fire on a regular basis, the nearby divine presence burns the impurities in the naadis, by burning various karmas ( actions from the past , which will get corresponding reactions in the future ) in the kaarana sareera (causal body). This eventually leads to the strengthening of bhootaagni. After one performs homam for a long enough time, one’s naadis are cleared of the obstructionsand one’s bhootaagni burns brightly. At that juncture, all sadhanas performed by one, including regular meditation, become much more effective. If bhootaagni can accommodate divine presence to a larger degree, the meditation becomes more effective.

The goal of all spiritual sadhana, whether one thinks in those terms or not, is actually to cleanse one self of all the internal impurities. Various karmas from previous lives hang on to the kaarana sareera (causal body), making it heavy. These in turn manifest in the sookshma sareera (subtle body) as various impurities in various nadis (subtle energy channels) that block the free flow of energy. These in turn manifest in the sthoola sareera (gross body) as various problems of the body and mind. These also cause dense conditioning of one’s mind to sink one’s consciousness in an ocean of delusion. This conditioning of the consciousness due to previous karmas is alsoknown as maayaa .
When one is sunk in maayaa, one is beaten down by the six enemies – kaama(desire), krodha (anger), lobha (greed), moha (delusion), mada (wantonness) and maatsarya(jealosy). As one makes spiritual progress, one’s karmas drop off the kaarana sareera, the impurities in the nadis are cleansed, one’s mental conditioning becomes weaker and o e can resist the internal enemies. All these are inter-related and happen simultaneously. When one burns all of one’s major karmas, one becomes karmically very light. Nadis in the sookshma sareera are all clear and energy can freely flow anywhere. One is untouched by the internal enemies then. When one sees all as god , nothing can make one angry or jealous or deluded.When mental conditioning drops, nothing excites one and nothing saddens one. One stays in astate of bliss always. Despite the changing nature of the external work and appearance, one is inthe same state internally.

The goal of all spiritual sadhana is to reach that state. Whether through jnaana (knowledge and wisdom) or through bhakti (devotion and surrender) or both, one has to burn the karmas and impurities blocking one from reaching that state. The goal of all sadhana is to let ego (the sense of “I-ness”) go completely and merge (have yoga) with divinity.

If a vacuum can be created within oneself, then divine presence can fill the vacuum. As long as one has egotism and various kinds of conditioning (vasanas) of mind, such a vacuum cannot be created. When all those cease and the mental conditioning is weakened, the mind become extremely calm and a vacuum iscreated within. Then divine presence fills one and the result is indescribable bliss.

Homam facilitates this process quickly by burning various karmas that are creating various layers of conditioning and obstructing spiritual progress. A lot of Hindu rituals involve invoking divine presence in an idol or a water pot (kalasha) and offering worship to the idol/pot.

Unfortunately, we are living in Kali yuga in which the elements of earth, water and air are not pure. If the idol has any impurities on account of the time when it was made, how it was made, the thoughts of the person who made it etc, the impurities heavily restrict how much divine presence the idol can accommodate.
The only elements that cannot be polluted are space/ether (aakaasa) and fire (agni). It is very difficult to do spiritual sadhana via the medium of space. So the best medium for sadhana is fire. One of the Sanskrit words for “fire” is “paavaka”, which means “the one that purifies”. Fire is by definition pure and purifies everything that it comes in touch with.

The wood or coconut used to sustain fire may have impurities, but fire itself is very pure and accommodates a divine presenceof the highest degree. For a ritual using the earth or water elements as the medium to be successful, the sadhaka must be quite pure and the sadhaka’s bhootagni must be reasonably strong. On the other hand, a ritual using the fire element as the medium can be successful irrespective of the stature and purity of the sadhaka.

For this reason, homam is the most apt sadhana for most spiritual aspitants in this yuga, especially as the Kali deepens.

Unfortunatel ,many people have unfounded fears of making mistakes and being punished for them and hence do not take advantage of the fantastic practice of homam. Apart from the personal benefits, there are universal benefits of homam. The offerings in the fire finally reach Sun, who feeds the entire earth. The gross material body of the burnt offerings reaches the gross material body of Sun. The subtle body of the burnt offerings reaches the subtle body of Sun. It is the subtle body of Sun that feeds the subtle bodies of all beings on earth. Thus, feeding it is very important for the smooth running of life on earth. As we enter the Ghora Kali (terrible age of strife and disorderliness) phase, adharma (un-righteous activities) will be on therise in the world and as such the subtle body of Sun will become weaker. If more and more people perform homam and strengthen the subtle body of Sun, it will balance the adharma and keep the world away from a total collapse.

Talismans in Chinese Buddhist Tradition

Standard

Talismans in Chinese Buddhist Tradition (Tradisi Pembuatan Hu Pada Buddhisme Tiongkok)
Ivan Taniputera
27 November 2012
Tradisi pembuatan hu (符 = fu) masih banyak belum dikenal oleh umat Buddha. Kebanyakan mengatakan bahwa di dalam Agama Buddha tidak ada hu. Hal ini mungkin benar jika yang dimaksud adalah kanon Pali, namun kita sebenarnya dapat menjumpainya dalam kanon Buddhist Mahayana.
Talisman tradition is still unknown by many Buddhists. Mostly of them think that talismans can not be found in Buddhism. This is may be true by Pali Canon, but we actually can found them in Mahayana Buddhist canon.
Pada beberapa naskah yang disebut “sutra-sutra dharani” (陀羅尼經), Buddha mengajarkan para siswanya agar menuliskan mantra-mantra tertentu dan menaruhnya dalam stupa sebagai obyek pemujaan atau membawanya sebagai semacam jimat.
In some texts which so called “dharani sutras” (陀羅尼經), Buddha taught his disciples to write down any mantras and put them in a stupa as veneration object or take them as talismans.
Contoh pertama yang akan kita bahas adalah Sutra DharaniUsnisavijaya ( 佛頂尊勝陀羅尼經).Disebutkan bahwa jika kita menuliskan Dharani ini dan menaruhnya pada sebuah panji tinggi, gunung, atau bangunan tinggi, setiap makhluk hidup yang melihat Dharani tersebut, terkena bayangannya, atau tertimpa butiran-butiran debu yang berasal darinya, segenap karma buruk mereka akan dimurnikan, serta tak akan pernah mundur lagi dari jalan menuju Penerangan Sempurna.
The first example that we will discuss is Usnisavijaya Dharani Sutra ( 佛頂尊勝陀羅尼經).  It is said that if we write this Dharani and put it on the top of a tall banner, mountain, or high structure, every sentient beings who see the dharani, befallen by its shadow, or befallen by its dust particles, will be purified from their evil karma and will never regress from the path to perfect enlightenment.
Lebih jauh lagi dalam Sutra Dharani Marici ((佛說摩利支天陀羅尼咒經) – Taisho Tripaka 1256), disebutkan bahwa jika kita menuliskan Dharani Marici, menaruhnya pada rambut atau baju, dan membawanya ke manapun pergi, maka Dharani tersebut akan sanggup melindungi kita dari kemalangan apapun.
Moreover, in the Marici Dharani Sutra (佛說摩利支天陀羅尼咒經) – Taisho Tripaka 1256, it is said that if we write Marici Dharani, put it in our hair or cloth, and take it everywhere, then this Dharani can protect us from any calamities.
Pada Sutra Kekuatan Adikodrati Ucchusma Yang Sanggup Menghentikan Ratusan Perubahan, kita dapat menjumpai beberapa hu:
Ini the Sutra of Ucchusma on the Supernatural Power That Stops Hundreds of Transformations, we can find some talismans:
Sumber gambar: The Quintessence of Secret (Esoteric) Buddhism by Trieu Phuoc (Duc Quy).
Menurut sutra yang disebutkan di atas, hu ini dapat melimpahkan pengetahuan dan kebijaksanaan, namun kita hendaknya juga melafalkan dharani-nya 1.000 kali.
According to above mentioned Sutra, this seal can bestow us knowledge and wisdom, but we should recite also the dharani 1.000 times.

Sumber gambar: The Quintessence of Secret (Esoteric) Buddhism by Trieu Phuoc (Duc Quy)

Hu dapat membuat orang yang melihat praktisi merasa bergembira dan juga melindungi dari penderitaan.
This seal can make people happy who see the practioner and also protect from miseries.

Hu yang nampak pada gambar di atas memperlihatkan pengaruh Tiongkok.
Seals which are pictured above clearly shown Chinese influence.

Bukti-bukti di atas memperlihatkan bahwa ilmu hu juga ada dalam kanon Buddhisme Mahayana, khususnya bagian Tantrayana.
These facts show us that talisman tradition can also be found in Mahayana Buddhist canon especialy, Tantric Buddhism.

Di samping itu, di kalangan rakyat terdapat pula hu bernuansa Buddhis.
Besides that, within folktradition we can find also talismans which represent Buddhist influence:

Tiga tanda di bagian atas fu (nomor 1) melambangkan Triratna atau Tiga Permata (BuddhaDharma, dan Sangha).  Di bagian tengah fu dapat kita saksikan transliterasi bahasa Tionghua mantra Avalokitesvara (Om mani padme hum ), yang berbunyi: an ma ni ba mi hong. Fu di atas merupakan fuAvalokitesvara (Guanyin) guna menolak berbagai mara bahaya. dimana penggunaannya dengan cara dibakar dan abunya dicampur dengan air serta diminum.

Three mark signs (number 1)  in the upper part of talisman represent Triple Jewels (Buddha, Dharma, and Sangha). In the middle part we can notice the transliteration of Avalokitesvara mantra (Om mani padme hum)-an ma ni ba mi hong. This is a talisman of Avalokitesvara (Guanyin) for protection toward any calamities. It should be burnt, mixed with water, and to be drunk.

Ini adalah hu tujuh Buddha melimpahkan keselamatan. Kita dapat memperhatikan adanya aksara 唵 (an or Om), aspek yang sangat penting dalam mantra Buddhis atau Hindu. Selain itu, kita dapat pula menyaksikan tujuh aksara 佛 (fo) yang berarti Buddha.

This is a talisman of seven Buddhas bestowing safety. We can notice the character 唵 (an or Om), the very important element in Buddhist an Hindu mantras. We can see also seven 佛 (fo or Buddha) characters.

TAMBAHAN
ADDITION

Sebagai bahan perbandingan, saya akan mengulas pula hu yang dijumpai di Muangthai. Sebagaimana yang sebagian besar di antara kita ketahui, bangsa Thai merupakan penganut Buddhisme Theravada.

As comparison, I will also discuss some talismans which can be found in Thailand. As mostly of us know, Thai people are adherents of Theravada Buddhist tradition.

Hu jenis ini digambarkan pada secarik kain kuning dan ditulis dengan tinta merah. Gunanya adalah mendatangkan keberuntungan dan kemakmuran. Kita dapat menyaksikan gambar Bhikkhu Sivali (nomor 2). Gambar Mogallana dan Sariputta (nomor 3) beserta dewi-dewi bumi dan langit (nomor 4).
This kind of amulet is drawn on a piece of yellow cloth and written by red ink. The function is to bring luck and wealth. We can see the picture of Bhikkhu Sivali (number 2). Pictures of Mogallana and Sariputta (number 2), and earth and sky goddeses (number 4).
Kita dapat pula menjumpai beberapa hu Thai lainnya sebagai berikut:
We can also found some kind of Thai Talismans as following:

Sumber/ Source: Short Notes of Religious Articles (vol 2) halaman 74

Amulet ini berasal dari Kuil Wat Khun Phien Yankonporn, Propinsi Sukphan, Muangthai. Gambar seperti kura-kura pada bagian bawah Buddha melambangkan Dewa Khun Phien yang diyakini sanggup menganugerahkan kemakmuran.

This amulet originated from Wat Kun Phien Yankonporn Temple, Sukphan Province, Thailand. The picture like tortoise under Buddha represents God Khun Phien who is believed can bestow wealth.

 Sumber/ Source: Short Notes of Religious Articles (vol 2) halaman 73

Amulet ini berasal dari Kuil Wat Charkrapoon di Bangkok. Pada bagian tengah amulet ini tergambar Brahma yang juga dikenal sebagai Phra-pom dalam bahasa Muangthai. Simbol-simbol yang berada di sekeliling Brahma melambangkan lima unsur, yakni logam, kayu, air, api, dan tanah; atau hendak menyatakan bahwa Brahma adalah penguasa bagi kelima unsur tersebut.
This amulet is originated from Wat Charkrapoon Temple in Bangkok. Brahma who is also known by Phra-pom in Thai language potrayed in the middle. Symbolisms around Brahma represent five elements: metal, wood, water, fire, and earth. This means that Brahma is the lord of 5 elements.
Sumber/ Source: Short Notes of Religious Articles (vol 2) halaman 72.
Hu ini berasal dari Kuil Thanompaching, Propinsi Wong Khai, Muangthai Timur Laut. Diyakini pula bahwa hu ini dapat menghindarkan sabotase terhadap usaha kita.
This amulet is originated from Thanompaching Temple, Wong Khai Provice, North East Thailand. It is believed that this talisman can protect our bussiness from sabotage.